Anak-anak dengan gangguan pendengaran dan penglihatan di Gaza kesulitan melanjutkan pendidikan karena sekolah rusak dan alat bantu langka. Keluarga serta pendamping pendidikan menggambarkan hambatan itu kepada Al Jazeera pada 25 Oktober 2026.

Kenan al-Sabaa, 13 tahun, kini belajar di ruang sementara setelah gedung Atfaluna rusak. Ayahnya, Tamer, mengatakan kelas berlangsung hanya tiga hari seminggu, paling lama dua jam sehari—belum cukup untuk mengejar ketertinggalan.

Ruang Iklan 6

Penerjemah bahasa isyarat Atfaluna, Fadel Kuraz, menyebut alat bantu dengar, baterai, cetakan telinga dan suku cadang sulit diperoleh. Pemadaman listrik dan gangguan komunikasi juga menghambat penggunaan bahan belajar visual.

Duaa Omar Basheer, konselor sekolah al-Noor, mengatakan sekolah bagi siswa tunanetra itu terpaksa tutup. Ia khawatir terputusnya pengajaran membuat siswa kehilangan keterampilan Braille dan belajar mandiri yang sudah lama dibangun.

Di kamp Shati, Wafaa Shreim berusaha mengajar putrinya, Jana, di rumah dengan mesin tulis Braille. Jana kehilangan akses sekolah setelah bangunannya rusak, sementara kacamata yang pecah belum dapat diganti. Kebutuhan pendidikan khusus pun banyak ditanggung keluarga.