Penasihat senior panglima Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Mohammad Reza Naqdi, mengancam balasan jika lawan melakukan serangan terhadap Iran. Dalam pidato di Sari, Minggu (18/10/2026), ia menyatakan pihaknya telah menyiapkan rudal yang disebutnya sebagai ‘bapak’ rudal Iran. Laporan langsung wartawan IRNA mencatat pernyataan tersebut dalam kegiatan di Provinsi Mazandaran.[2]

Ancaman itu kemudian diberitakan Detik pada Senin (19/10/2026), dengan merujuk Press TV. Detik mengaitkannya dengan laporan mengenai kemungkinan penggunaan bom Amerika Serikat yang dikenal sebagai ‘mother of all bombs’. Konteks ini tidak sama dengan pengumuman bahwa penggunaan bom tersebut telah dilaksanakan.[1]

Ruang Iklan 6

Dalam laporan IRNA, Naqdi menanggapi retorika Presiden AS Donald Trump tentang bom tersebut. Ia juga mengklaim teknologi bom seberat 14 ton sudah dianalisis Iran. Keterangan mengenai berat dan penguasaan teknologi itu tetap merupakan klaim Naqdi; laporan pidato tersebut tidak menyertakan hasil pemeriksaan teknis yang dapat mengonfirmasinya.[2]

Sementara itu, Mehr melaporkan ancaman terhadap infrastruktur serta investasi energi pihak yang disebut Naqdi sebagai agresor di kawasan. Untuk pernyataan tersebut, Mehr secara eksplisit merujuk situs berbahasa Inggris Press TV. Dengan demikian, laporan Mehr dan pemberitaan Detik tidak dapat diperlakukan sebagai dua pembuktian teknis yang terpisah atas kemampuan rudal.[1][3]

Perbedaan antara adanya pernyataan dan kebenaran kemampuan senjata penting diperhatikan. Laporan langsung IRNA menguatkan bahwa Naqdi menyampaikan ancaman balasan di Sari, tetapi tidak memerinci nama model, jangkauan, maupun hasil uji rudal yang dimaksud. Istilah ‘bapak’ rudal dalam pidato itu tidak dengan sendirinya menjadi identifikasi sebuah sistem persenjataan.[2]

Bagi pembaca yang mengikuti ketegangan Iran–AS, tanggal kejadian juga perlu dibedakan dari tanggal berita: pidato berlangsung pada 18 Oktober, sedangkan laporan Detik terbit 19 Oktober. Sumber-sumber ini mendokumentasikan pernyataan yang dilaporkan; klaim kemampuan persenjataan tetap perlu dibaca dengan atribusi kepada pihak yang menyampaikannya.[1][2]

Ilustrasi AI; bukan foto kejadian.

Sumber dan verifikasi: [1] Detik — 2026-10-19, [2] IRNA — laporan wartawan di Sari — 2026-10-18, [3] Mehr News Agency — 2026-10-18