Sohibul Iman: Pemimpin Harus Mampu Mengubah Potensi Bangsa Menjadi Kekuatan Nasional
JAKARTA— Ketua Majelis Syura PKS Sohibul Iman menegaskan Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang mampu mengubah besarnya potensi bangsa menjadi kekuatan nasional yang nyata. Menurutnya, ukuran keberhasilan kepemimpinan bukan semata pada seberapa besar sumber daya yang dimiliki, tetapi pada kemampuan mengonversi potensi tersebut menjadi kapasitas, produktivitas, dan kemajuan.
Sohibul menyampaikan pandangan tersebut dalam FGD Kepemimpinan dan Lingstra Nasional MPP PKS di Aula Utama Kantor DPTP PKS, Jakarta, Selasa (15/9/2026). Ia menilai tantangan Indonesia hari ini bukan karena bangsa ini kekurangan potensi, tetapi karena kapasitas riil yang dihasilkan masih belum sepenuhnya mencerminkan besarnya sumber daya manusia, sumber daya alam, dan kekuatan institusi yang dimiliki.
“Kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang mampu melipatgandakan potensi yang ada,” ujar Sohibul. Karena itu, pemimpin tidak cukup hanya berperan sebagai administrator yang menjaga keadaan tetap berjalan, tetapi harus menjadi value creator yang mampu menemukan, mengorganisasi, dan mengembangkan kekuatan bangsa sehingga melahirkan kapasitas-kapasitas baru.
Dalam perspektif kepemimpinan Islam, Sohibul mengingatkan empat karakter utama yang dicontohkan Rasulullah SAW, yakni shiddiq, amanah, fathanah, dan tabligh. Shiddiq menegaskan pentingnya kejujuran dan integritas, amanah menuntut tanggung jawab dan kemampuan menjaga kepercayaan, fathanah mencerminkan kompetensi dan kecakapan, sedangkan tabligh menuntut keterbukaan, komunikasi, transparansi, dan keteladanan.
Menurut Sohibul, shiddiq dan amanah menjadi fondasi untuk menjaga dan merawat apa yang telah dimiliki bangsa, sedangkan fathanah dan tabligh menjadi dasar bagi kemampuan mengembangkan kapasitas baru. “Kepemimpinan harus mampu merawat apa yang sudah ada dan mengembangkan apa yang belum ada. Jadi bukan hanya menjaga, tetapi juga menciptakan kemajuan,” katanya.
Ia menilai perbaikan kualitas kepemimpinan nasional harus berjalan bersamaan dengan pembenahan sistem politik dan mekanisme rekrutmen kepemimpinan, mulai dari Pemilu, Pilpres, Pileg, hingga Pilkada. Demokrasi tidak boleh berhenti pada mekanisme menghasilkan pemenang kontestasi, tetapi harus mampu melahirkan pemimpin yang berintegritas, kompeten, amanah, dan memiliki visi kebangsaan yang kuat.
Di tengah luasnya wilayah dan keberagaman Indonesia, Sohibul juga menekankan pentingnya tipe kepemimpinan yang mampu membangun solidaritas nasional. Ia menyebutnya sebagai solidarity maker leader, yakni pemimpin yang mampu merangkul, mengonsolidasikan berbagai kekuatan, serta mengubah keragaman menjadi energi kolektif bagi kemajuan bangsa.
Namun, ia mengingatkan bahwa solidaritas tidak boleh berubah menjadi sikap permisif. Indonesia membutuhkan pemimpin yang mampu merangkul tanpa kehilangan ketegasan, tegas tanpa memecah belah, menjaga tanpa membuat bangsa stagnan, dan mengembangkan tanpa kehilangan arah nilai. “Pada akhirnya, kepemimpinan nasional harus mampu mengubah Indonesia yang kaya potensi menjadi Indonesia yang benar-benar kuat kapasitasnya,” pungkas Sohibul.*
Artikel Telah Tayang di : https://pks.id/content/sohibul-iman-pemimpin-harus-mampu-mengubah-potensi-bangsa-menjadi-kekuatan-nasional