PROGRAM KALAM PEMBINA 1 TAHUN

Pekan 34 dari 52 · Naskah narasi · Setiap Senin

Ilmu sebelum Bertindak

1421 kata · Estimasi 10–15 menit, menyesuaikan tempo dan jeda.

Daftar 52 pekan

1. Pembukaan

Bismillāhirraḥmānirraḥīm. Alḥamdulillāhi rabbil ‘ālamīn. Waṣṣalātu wassalāmu ‘alā sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah... Kadang kita mengangguk saat petunjuk diberikan, padahal satu bagian belum kita pahami. Kita berharap nanti akan mengerti sendiri. Pertanyaan yang ingin disampaikan kita tahan karena takut dianggap tidak mampu. Lalu orang lain mulai bekerja mengikuti arahan kita. Pada saat itulah tebakan pribadi bisa berubah menjadi beban bersama. Meja yang salah ditempatkan menghalangi pintu. Catatan yang terlalu lengkap menyimpan informasi yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Semangat bekerja belum cukup menggantikan penjelasan yang belum kita cari.

Pekan lalu kita belajar menjadi teladan dalam tindakan. Hari ini kita memberi keteladanan itu dasar pengetahuan. Saudaraku, kalimat saya belum tahu tidak membuat amanah berhenti; ia dapat membuka percakapan yang justru dibutuhkan. Kita boleh bertanya, membaca petunjuk, dan mengulang pemahaman supaya kekeliruan ditemukan sebelum banyak orang terdampak. Tidak semua persoalan harus kita jawab sendiri. Mari melihat satu tugas yang menunggu kita. Apa yang sudah benar-benar diperiksa, dan apa yang masih kita yakini karena perkiraan? Kita ingin belajar secukupnya untuk mengambil langkah aman, lalu meninjau hasilnya dengan jujur.

2. Jangan Melangkah di Atas Dugaan yang Disembunyikan

Allah Subhanahu wa Ta'ala mengingatkan pertanggungjawaban pendengaran, penglihatan, dan hati. Dalam Surah Al-Isra' ayat 36, Allah berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا

Bacaan Latin

Wa lā taqfu mā laisa laka bihī ‘ilm(un), innas-sam‘a wal-baṣara wal-fu'āda kullu ulā'ika kāna ‘anhu mas'ūlā(n).

Artinya

“Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”

QS. Al-Isra' (17):36 · Sumber teks Arab, Latin, dan terjemahan

Hadirin yang dirahmati Allah... Larangan mengikuti sesuatu yang tidak diketahui mengajak kita memeriksa dasar langkah kita. Kabar yang terdengar yakin belum tentu telah diperiksa. Satu gambar belum tentu menjelaskan seluruh kejadian. Sebelum mengarahkan orang lain, mari bedakan apa yang kita lihat sendiri, apa yang disampaikan seseorang, dan apa yang baru kita duga. Pendengaran, penglihatan, dan hati disebut bersama pertanggungjawabannya. Kita perlu menjaga agar keyakinan dalam suara kita tidak melebihi pengetahuan yang sesungguhnya ada, terutama ketika orang lain akan bekerja berdasarkan arahan itu.

Dalam kepemimpinan, pengakuan bahwa informasi belum cukup dapat melindungi banyak orang dari keputusan tergesa-gesa. Kita dapat mengatakan bagian yang sudah jelas dan bagian yang masih perlu dicek. Setelah itu, tentukan cara mengecek serta waktunya. Bila urusan berada di luar kemampuan kita, libatkan pihak yang memahami bidang tersebut. Kita tidak perlu menampilkan diri sebagai ahli pada setiap masalah. Kepercayaan lebih layak dibangun melalui kejelasan proses daripada melalui jawaban cepat yang ternyata hanya tebakan.

3. Bersedia Menempuh Jalan Belajar

Dalam hadis sahih riwayat Muslim nomor 2699 varian a, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam antara lain menerangkan keutamaan menempuh jalan mencari ilmu:

وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Bacaan Latin

Wallāhu fī ‘aunil-‘abdi mā kānal-‘abdu fī ‘auni akhīhi, wa man salaka ṭarīqan yaltamisu fīhi ‘ilman, sahhalallāhu lahu bihī ṭarīqan ilal-jannati.

Artinya

“Allah menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya. Dan siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah memudahkan baginya dengan itu jalan menuju surga.”

Sahih Muslim no. 2699 (varian a) · Petikan berurutan dari bagian tengah matan tentang menolong sesama dan mencari ilmu, bukan seluruh riwayat; sanad serta bagian sebelum dan sesudah petikan tidak ditampilkan. Teks sumber

Saudaraku... Bagian hadis tentang jalan mencari ilmu memberi dorongan untuk terus belajar dengan sungguh-sungguh. Kita mendekat kepada petunjuk melalui dalil yang benar dan pemahaman yang bertanggung jawab. Untuk tugas sehari-hari, kita juga mencari penjelasan yang memang dibutuhkan sebelum bekerja. Jangan sampai gengsi membuat kita menolak bimbingan orang yang lebih memahami persoalan. Namun janji dalam hadis tidak kita ubah menjadi jaminan bahwa setiap latihan pasti sukses di dunia. Kita menghormati maknanya, menjaga proses belajar, lalu mengerjakan tanggung jawab sesuai pengetahuan yang telah diperiksa.

Bagian akhir hadis mengingatkan bahwa keturunan tidak menggantikan amal. Dalam latihan kepemimpinan, kita dapat mengambil pengingat bahwa latar belakang atau nama besar tidak menjadi pengganti kesungguhan mengerjakan tanggung jawab. Begitu pula jabatan dan pengalaman tidak membuat kita bebas dari kebutuhan belajar. Orang yang baru bergabung mungkin mengetahui hal yang belum kita pahami. Mendengar darinya tidak menurunkan martabat kita. Yang perlu dijaga ialah dasar pengetahuan dan manfaatnya, bukan gengsi karena siapa yang menyampaikan.

4. Kisah Inspiratif: Ilustrasi: meja pendaftaran yang belum siap

Ilustrasi rekaan untuk pembelajaran, bukan riwayat sejarah.

Cerita berikut adalah ilustrasi rekaan. Lina dipercaya menyiapkan meja pendaftaran untuk kegiatan lingkungan. Ia belum pernah mengatur alur pendaftaran, tetapi merasa tugas itu hanya memerlukan buku dan beberapa pulpen. Tanpa bertanya, ia membuat daftar yang memuat banyak keterangan peserta karena mengira semakin banyak informasi semakin baik. Ia juga menempatkan satu meja tepat di jalur masuk. Ketika persiapan diperiksa, seorang panitia menunjukkan bahwa antrean akan menghalangi orang lain dan beberapa keterangan tidak dibutuhkan.

Lina merasa malu. Ia khawatir jika bertanya sekarang, panitia akan menganggap dirinya tidak mampu. Namun ia memilih menjelaskan bahwa rancangan tersebut masih berdasarkan perkiraannya. Ia meminta penanggung jawab menerangkan informasi apa yang benar-benar diperlukan, siapa yang boleh memegang daftar, dan bagaimana peserta diarahkan setelah mendaftar. Ia mencatat jawaban, kemudian mengulang pemahamannya agar penanggung jawab dapat memperbaiki bagian yang keliru. Pertanyaan itu membuat tugasnya menjadi lebih jelas.

Lina mengubah letak meja dan menyederhanakan daftar sesuai kebutuhan yang disepakati. Sebelum kegiatan dimulai, ia mengajak dua panitia mencoba alurnya seolah mereka peserta. Dari percobaan itu terlihat bahwa tempat menunggu masih terlalu dekat dengan pintu. Mereka memindahkannya dan menyiapkan petunjuk sederhana. Lina juga bertanya siapa yang harus dihubungi jika ada keadaan yang belum ia pahami. Ia tidak membuat jawaban sendiri untuk semua kemungkinan, tetapi mengetahui jalur meminta bantuan.

Saat kegiatan berlangsung, tetap ada peserta yang bingung. Lina mendengarkan pertanyaannya dan menghubungi penanggung jawab untuk urusan di luar tugasnya. Ia tidak menjanjikan sesuatu yang belum dikonfirmasi. Setelah kegiatan, ia mencatat dua hal yang berjalan baik dan satu hal yang perlu diubah. Pengalamannya menjadi bahan belajar, bukan alasan merasa sudah menguasai semuanya. Keberaniannya bertanya membantu kelompok bekerja lebih tertib tanpa menjadikan dirinya satu-satunya sumber jawaban.

5. Renungan — Pertanyaan yang Selama Ini Kita Tahan

Saudaraku, ingatlah satu bagian tugas yang belum kita pahami; mungkin pertanyaan yang kita tahan hari ini dapat mencegah orang lain menanggung akibat tebakan kita besok.

Ilustrasi ini menunjukkan bahwa ilmu sebelum bertindak dapat hadir melalui langkah yang dekat. Baca petunjuk yang tersedia. Tanyakan tujuan tugas. Pastikan batas kewenangan. Coba alur yang aman sebelum digunakan banyak orang. Kita tidak perlu menunggu mengetahui semua kemungkinan, tetapi perlu memahami hal yang menentukan tindakan berikutnya. Jika masih ada ketidakpastian penting, sebutkan dengan jujur. Menyembunyikannya agar tampak siap dapat membuat orang lain menyusun rencana berdasarkan kepastian yang sebenarnya tidak ada.

Saat belajar dari suatu sumber, perhatikan apakah sumber itu sesuai dengan pertanyaan kita. Pengalaman teman dapat membantu memahami keadaan, tetapi tidak selalu cukup untuk persoalan yang memerlukan keahlian tertentu. Tulisan yang panjang tidak otomatis benar. Dalam memahami agama, jangan menyandarkan ucapan kepada Allah atau Rasul hanya karena terdengar indah. Mintalah penjelasan dari sumber dan pembimbing yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam urusan tugas, hubungi orang yang memahami prosedur serta mempunyai kewenangan memberi keputusan. Kita dapat bersikap sopan sambil tetap memeriksa dasar keterangannya.

Setelah belajar, lakukan langkah yang sesuai lalu tinjau hasilnya. Catat apa yang berbeda antara perkiraan dan kenyataan. Jika ada kekeliruan, perbaiki pengetahuan serta tindakannya. Jangan terus mengumpulkan informasi untuk menghindari pekerjaan yang sebenarnya sudah cukup jelas. Tetapkan waktu belajar yang masuk akal dan titik keputusan yang dapat diperiksa. Kepemimpinan memerlukan orang yang mau berpikir dan mau bekerja, serta mampu menghubungkan keduanya. Pengetahuan menjadi berguna ketika membantu kita menjaga amanah dan memperlakukan orang lain dengan lebih bertanggung jawab.

Mari berhenti sejenak dan menjawab dalam hati. Dalam hal apa saya sering menebak agar terlihat mampu? Apakah sumber yang saya gunakan benar-benar memahami persoalan yang akan saya putuskan? Bagaimana pengetahuan yang baru saya peroleh mengubah tindakan saya?

6. Penutup — Ajakan Nyata

Saudara-saudaraku yang saya hormati, sebelum kita mengakhiri kalam hari ini, mari membawa pulang tiga komitmen yang dapat dilaksanakan selama tujuh hari.

Pertama, sebelum Rabu, tulis satu tugas beserta tiga hal yang perlu diketahui sebelum mulai. Tandai mana yang sudah diperiksa dan mana yang masih berupa perkiraan.

Kedua, sebelum Jumat, baca satu petunjuk yang relevan atau bertanya kepada satu penanggung jawab yang tepat. Catat sumber, jawaban, dan satu hal yang masih belum jelas; jangan mengisi kekosongan dengan tebakan.

Ketiga, sebelum Ahad, kerjakan satu langkah aman berdasarkan informasi yang sudah diperiksa. Tulis hasilnya, satu perbedaan dari perkiraan, dan satu perbaikan untuk pelaksanaan berikutnya.

Ketika kita berkata belum tahu, lanjutkan dengan usaha mencari penjelasan dari sumber yang tepat. Setelah dasar langkah cukup jelas, kerjakan bagian yang aman dan periksa hasilnya. Kita tidak harus menjadi tempat semua jawaban berakhir. Kita perlu menjadi orang yang tidak menyembunyikan dugaan di balik suara meyakinkan. Pekan depan kita belajar kerja sama. Pengetahuan tentang tujuan, kemampuan, dan batas kewenangan akan menolong kita membagi peran dengan layak, sehingga pekerjaan tidak sekadar dipindahkan, melainkan dapat dipahami dan dijalankan bersama.

Doa Penutup

Ya Allah, tuntun kami kepada ilmu yang benar dan bermanfaat. Jauhkan kami dari gengsi yang membuat kami menebak serta dari kesombongan yang menolak belajar. Beri kami keberanian bertanya, ketelitian mendengar, dan kejujuran membedakan pengetahuan dari dugaan. Tolong kami memilih sumber yang dapat dipertanggungjawabkan dan menghormati orang yang membimbing kami. Jadikan ilmu yang kami peroleh tampak dalam amal yang menjaga amanah. Saat kami keliru, bukakan jalan untuk memperbaiki pemahaman dan tindakan. Lindungi sesama dari akibat keputusan kami yang terburu-buru, dan kuatkan kerja sama kami dalam kebaikan. Amin.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Doa tematik disusun untuk materi ini, bukan kutipan doa khusus Nabi.