1. Pembukaan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm. Alḥamdulillāhi rabbil ‘ālamīn. Waṣṣalātu wassalāmu ‘alā sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah... Sesudah pertemuan, kita meminta kursi dikembalikan. Beberapa orang segera bekerja. Kita sendiri berjalan keluar untuk berbincang karena merasa tugas memimpin sudah selesai. Dari dalam ruangan, ada teman yang melihat kita pergi sambil mengangkat kursi terakhir. Ia mungkin tidak mengatakan apa-apa. Tetapi ia telah menerima dua pesan yang berbeda: kalimat kita meminta kerja bersama, sedangkan langkah kita meninggalkan pekerjaan itu kepada orang lain. Orang yang dekat dengan kita melihat keduanya.
Pekan lalu kita belajar menyampaikan batas dengan santun. Hari ini mari menoleh kepada batas yang kita sampaikan sendiri. Apakah ia juga berlaku ketika kita terlambat, lelah, atau ingin pulang lebih awal? Saudaraku, kita tidak perlu menunggu sempurna untuk mengajak kebaikan. Kita perlu ikut berusaha dengan ukuran yang jujur. Jika ada keterbatasan, beri kabar dan sepakati bagian yang sanggup dilakukan. Jika ada ketidaksesuaian, akui dan benahi. Keteladanan dapat dimulai dari pekerjaan biasa yang tidak mengundang tepuk tangan, tetapi membuat beban seorang teman menjadi lebih layak karena kita hadir menjalankan bagian kita.
2. Ketika Ucapan Bertemu Perbuatan
Allah Subhanahu wa Ta'ala mengajak orang beriman memeriksa perkataan dan perbuatannya. Dalam Surah As-Saff ayat 2, Allah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ
Bacaan LatinYā ayyuhal-lażīna āmanū lima taqūlūna mā lā taf‘alūn(a).
Artinya“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?”
QS. As-Saff (61):2 · Sumber teks Arab, Latin, dan terjemahan
Hadirin yang berbahagia... Pertanyaan dalam ayat ini patut kita dengar sebelum memberi tuntutan berikutnya kepada orang lain. Kita mungkin mudah berkata siap membantu, tetapi belum menyediakan waktunya. Kita mungkin meminta ketertiban, tetapi mencari pengecualian bagi diri sendiri. Mari memeriksa jarak itu tanpa menyembunyikannya di balik kedudukan. Jika kemampuan kita terbatas, sampaikan batasnya dengan jujur. Orang lain dapat menyusun pekerjaan berdasarkan komitmen yang nyata. Kita sedang belajar agar ucapan tidak membangun harapan yang kemudian harus ditanggung sendiri oleh orang yang mempercayai kita.
Ayat ini juga dapat kita renungkan saat memberi nasihat. Kita tidak perlu berhenti mengajak kebaikan karena masih belajar. Tetapi ajakan itu hendaknya disertai kesungguhan memperbaiki diri, bukan rasa berhak menilai semua orang dari posisi yang lebih tinggi. Saat lupa menjalankan yang kita anjurkan, kita bisa mengakui bahwa tindakan kita belum sesuai. Pengakuan tersebut perlu diteruskan dengan langkah nyata. Jangan menjadikan kalimat bahwa kita masih manusia sebagai alasan mengulang kebiasaan yang sama tanpa usaha memperbaikinya.
3. Berhati-hati dengan Ajakan yang Kita Sebarkan
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menerangkan akibat mengajak kepada petunjuk maupun kesesatan dalam hadis sahih riwayat Muslim nomor 2674:
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا
Bacaan LatinMan da‘ā ilā hudan kāna lahu minal-ajri miṡlu ujūri man tabi‘ahu, lā yanquṣu żālika min ujūrihim syai’an.
Artinya“Siapa yang mengajak kepada petunjuk memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikit pun pahala mereka.”
Sahih Muslim no. 2674 · Petikan berurutan dari awal matn sabda Nabi, bukan seluruh matn; sanad dan bagian berikutnya tentang ajakan kepada kesesatan tidak ditampilkan. Teks sumber
Saudaraku... Hadis ini membuat kita memandang ajakan dengan sungguh-sungguh. Ada kebaikan ketika orang mengikuti petunjuk, dan ada tanggung jawab berat ketika ajakan membawa kepada kesesatan. Pengaruh kita mungkin terasa kecil, tetapi tetap perlu dijaga isinya. Pesan dalam grup, kebiasaan yang kita benarkan, dan arahan dalam pekerjaan dapat diikuti orang lain. Karena itu, jangan menganggap ajakan merugikan menjadi ringan hanya karena dibungkus candaan. Mari memilih ajakan yang benar dan menjalankannya dengan jujur, tanpa mengklaim bahwa setiap tindakan kita pasti ditiru oleh semua orang.
Keteladanan dalam kehidupan sehari-hari membantu membuat ajakan lebih jelas. Ketika kita ikut membereskan alat, orang lain melihat bentuk pekerjaan yang dimaksud. Ketika kita mengoreksi informasi yang salah, orang lain melihat bahwa koreksi dapat dilakukan tanpa kehilangan harga diri. Namun kita tidak mengklaim bahwa setiap gerakan kita pasti ditiru atau mengetahui besarnya pahala seseorang. Tugas kita adalah menjaga isi ajakan dan cara menjalankannya. Orang lain tetap mempunyai pilihan dan tanggung jawabnya sendiri.
4. Kisah Inspiratif: Ilustrasi: kursi yang masih berserakan
Ilustrasi rekaan untuk pembelajaran, bukan riwayat sejarah.
Kisah berikut adalah ilustrasi rekaan. Damar memimpin kelompok yang rutin memakai ruang warga. Setiap selesai pertemuan, ia mengingatkan anggota agar mengembalikan kursi dan membersihkan meja. Setelah memberi arahan, ia biasanya keluar lebih dahulu untuk berbincang dengan teman di halaman. Beberapa anggota membereskan ruang, sementara yang lain mulai ikut pergi. Lama-kelamaan pekerjaan penutup selalu jatuh kepada dua orang yang sama. Damar kesal karena merasa arahannya tidak didengar.
Suatu hari, seorang anggota menyampaikan bahwa orang melihat Damar meninggalkan ruang sebelum pekerjaan selesai. Damar awalnya ingin menjelaskan bahwa ia sudah lelah memimpin pertemuan. Namun ia menyadari bahwa dua anggota yang membereskan juga mengikuti kegiatan yang sama. Ia telah meminta suatu kebiasaan tanpa ikut menjalankannya. Pada pertemuan berikutnya, Damar mengakui ketidaksesuaian itu dengan singkat. Ia tidak membuat pidato tentang perubahan dirinya. Ia memilih tetap tinggal dan mengangkat kursi bersama anggota lain.
Damar kemudian membagi pekerjaan penutup secara bergiliran, termasuk untuk dirinya. Ia memastikan tidak ada anggota yang selalu mendapat bagian paling berat. Ketika harus pulang lebih awal karena urusan keluarga, ia memberi kabar sebelum pertemuan dan menyelesaikan bagian lain yang telah disepakati. Dengan demikian, keteladanan tidak berarti menyembunyikan keterbatasan. Ia belajar menunjukkan tanggung jawab secara jujur melalui pekerjaan dan komunikasi, bukan mempertahankan kesan bahwa ia selalu tersedia.
Perubahan tidak langsung membuat semua anggota rajin. Ada yang masih lupa dan perlu diingatkan. Damar tidak membalas dengan menyebut bahwa dirinya sudah memberi contoh, seolah orang lain berutang kepatuhan kepadanya. Ia tetap mengingatkan kesepakatan dengan sopan. Dua anggota yang biasanya membereskan sendiri mulai mendapat bantuan yang lebih teratur. Kelompok memperoleh cara kerja yang lebih layak, dan ajakan Damar kini mempunyai bentuk yang terlihat dalam tindakan sehari-hari.
5. Renungan — Nasihat yang Perlu Kita Kerjakan
Mari mengingat orang yang sering mendengar nasihat kita; mungkin ia lebih terbantu melihat kita ikut mencoba daripada mendengar penjelasan baru tentang kekurangannya setiap hari.
Kita mungkin tidak memimpin pertemuan seperti Damar, tetapi tetap mempunyai pengaruh di lingkungan dekat. Adik melihat cara kakaknya memperlakukan orang. Teman melihat apakah kita mengakui sumber pekerjaan bersama. Anggota grup melihat apakah kita memeriksa informasi sebelum meneruskannya. Keteladanan tidak harus berupa tindakan besar yang diumumkan. Ia sering terlihat dalam hal biasa yang kita kerjakan berulang ketika tidak sedang mendapat sorotan. Pilih kebiasaan yang memang berguna, bukan yang hanya membuat kita tampak mengesankan.
Periksa satu nasihat yang paling sering kita berikan. Mungkin tentang tepat waktu, menjaga ucapan, atau menuntaskan tugas. Lalu lihat keadaan kita dengan ukuran yang sama. Jika belum sesuai, tentukan perubahan yang cukup kecil untuk dikerjakan pekan ini. Kita tidak perlu mengumumkan semua kekurangan sebagai bukti kerendahan hati. Yang diperlukan ialah tidak menipu orang dengan pengakuan palsu dan bersedia memperbaiki hal yang berdampak pada mereka. Catatan pribadi dapat membantu menilai kemajuan tanpa mengubah latihan menjadi pertunjukan.
Menjadi teladan juga tidak berarti mengerjakan semua tugas sendiri. Pemimpin yang terus mengambil alih pekerjaan mungkin membuat anggota tidak memperoleh kesempatan belajar. Kita dapat memberi contoh satu langkah, menjelaskan caranya, lalu membagi peran dengan adil. Setelah itu, berikan ruang kepada orang lain untuk mencoba. Bila ia belum berhasil, bantu seperlunya tanpa merendahkan. Dengan cara ini, keteladanan mendukung kemampuan bersama. Ia tidak dipakai untuk membangun ketergantungan pada satu orang atau menuntut semua orang meniru gaya pribadi kita.
Mari berhenti sejenak dan menjawab dalam hati. Nasihat mana yang paling perlu saya jalankan sendiri? Apakah saya mencari pengecualian ketika aturan menyentuh diri saya? Apakah contoh saya membantu orang belajar atau justru membuat mereka bergantung kepada saya?
6. Penutup — Ajakan Nyata
Saudara-saudaraku yang saya hormati, sebelum kita mengakhiri kalam hari ini, mari membawa pulang tiga komitmen yang dapat dilaksanakan selama tujuh hari.
Pertama, sebelum Selasa berakhir, tulis satu nasihat yang sering kita berikan dan satu kebiasaan yang perlu kita selaraskan dengannya. Tentukan waktu serta tempat pelaksanaannya.
Kedua, dari Rabu sampai Ahad, kerjakan kebiasaan itu sedikitnya empat kali dan beri tanda pada catatan pribadi. Bila terlewat, tulis kendala dan lakukan perbaikan pada kesempatan berikutnya.
Ketiga, sebelum Ahad, ajak satu orang melakukan kebaikan yang sama tanpa memaksa. Beri contoh satu langkah, bagikan peran yang layak, dan mintalah satu masukan tentang tindakan kita sendiri.
Saudara-saudaraku... Dalam ilustrasi Damar, satu kursi yang diangkat tidak membuat semua anggota langsung berubah. Namun ia mulai mengerjakan bagian yang selama ini ia minta dari orang lain. Kita dapat membawa pulang kesungguhan serupa. Tidak perlu mengumumkan bahwa kita sudah menjadi teladan; biarkan kebiasaan yang dikerjakan dengan jujur membantu pekerjaan bersama. Pekan depan kita belajar ilmu sebelum bertindak. Keteladanan memerlukan arah yang benar, agar semangat mengajak tidak membawa teman kepada langkah yang belum kita pahami dasar dan akibatnya.
Doa Penutup
Ya Allah, tolong kami menyelaraskan perkataan dengan perbuatan. Jauhkan kami dari janji yang hanya ingin terdengar indah dan dari tuntutan yang kami abaikan pada diri sendiri. Beri kami ketekunan menjalankan kebaikan kecil serta keberanian mengakui saat kami belum sesuai dengan ajakan kami. Tuntun pengaruh yang kami miliki agar mengarah kepada petunjuk, bukan kepada kebiasaan yang merugikan. Jaga hati kami dari keinginan dipuji dan dari sikap memaksa orang meniru kami. Semoga usaha kami membantu sesama belajar dan menjaga amanah dengan lebih baik. Amin.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Doa tematik disusun untuk materi ini, bukan kutipan doa khusus Nabi.