1. Pembukaan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm. Alḥamdulillāhi rabbil ‘ālamīn. Waṣṣalātu wassalāmu ‘alā sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah... Ada teman yang namanya cepat kita tulis ketika kesempatan dibagikan. Kita mengenalnya, nyaman bekerja dengannya, dan tahu cara menghubunginya. Ada pula orang yang selalu mendapat sisa waktu. Ia sudah hadir, sudah menunggu, tetapi belum dekat dengan kita. Tidak ada bentakan dalam pembagian itu. Semua berlangsung ramah. Namun keramahan kita belum tentu membuat kesempatan yang diterimanya layak. Kadang ketidakadilan justru sulit terlihat oleh orang yang selalu memperoleh bagian lebih baik.
Pekan lalu kita belajar mendengar dalam musyawarah. Hari ini kita melangkah ke saat setelah suara-suara itu didengar: bagaimana keputusan dibuat? Saudaraku, rasa akrab dapat membuat kita mudah memaklumi kesalahan teman. Rasa kesal dapat membuat kita sulit mengakui hasil baik orang lain. Kita tidak harus menyangkal perasaan itu, tetapi perlu menjaganya agar tidak menjadi ukuran hak seseorang. Mari melihat satu pembagian yang dekat dengan hidup kita. Jika nama penerimanya ditukar, apakah alasan kita masih sama? Orang tidak perlu menjadi sahabat kita dahulu untuk mendapat perlakuan yang dapat dipertanggungjawabkan.
2. Tetap Adil kepada yang Tidak Kita Sukai
Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan keadilan sekalipun terhadap pihak yang tidak disukai. Dalam Surah Al-Ma'idah ayat 8, Allah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْا ۗاِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
Bacaan LatinYā ayyuhal-lażīna āmanū kūnū qawwāmīna lillāhi syuhadā'a bil-qisṭi wa lā yajrimannakum syana'ānu qamin ‘alā allā ta‘dilū, i‘dilū, huwa aqrabu lit-taqwā wattaqullāh(a), innallāha khabīrum bimā ta‘malūn(a).
Artinya“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak (kebenaran) karena Allah (dan) saksi-saksi (yang bertindak) dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat pada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
QS. Al-Ma'idah (5):8 · Sumber teks Arab, Latin, dan terjemahan
Hadirin yang dirahmati Allah... Ayat ini menyentuh saat ketika hati kita sedang tidak lapang terhadap seseorang. Kita tetap diminta berlaku adil. Jika pekerjaannya baik, kekesalan tidak boleh menghapus kenyataan itu. Jika teman dekat melanggar kesepakatan, kedekatan tidak boleh membuat pelanggarannya seolah tidak pernah terjadi. Keadilan yang lebih dekat kepada takwa mengajak kita menjaga ukuran keputusan. Kita menimbang fakta dan alasan yang dapat dijelaskan, bukan mencari pembenaran agar pihak yang kita sukai selalu memperoleh tempat lebih baik daripada pihak lainnya.
Dalam kehidupan kelompok, adil tidak selalu berarti memberi semua orang tugas yang persis sama. Kemampuan, kebutuhan, dan tanggung jawab dapat berbeda. Peserta yang sedang memiliki keterbatasan mungkin memerlukan penyesuaian agar tetap dapat berpartisipasi. Penyesuaian itu perlu didasarkan pada alasan yang dapat dijelaskan, bukan semata karena ia teman kita. Kita tidak harus membuka informasi pribadinya kepada semua orang. Cukup jelaskan ukuran pembagian yang digunakan dan pastikan orang lain juga mempunyai jalur yang layak untuk menyampaikan kebutuhan.
3. Persaudaraan yang Tidak Membiarkan Kezaliman
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengingatkan tanggung jawab persaudaraan dalam hadis sahih riwayat al-Bukhari nomor 2442:
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Bacaan LatinAl-muslimu akhul-muslimi, lā yaẓlimuhu wa lā yuslimuhu, wa man kāna fī ḥājati akhīhi kānallāhu fī ḥājatihi, wa man farraja ‘an muslimin kurbatan farrajallāhu ‘anhu kurbatan min kurubāti yaumil-qiyāmati, wa man satara musliman satarahullāhu yaumal-qiyāmati.
Artinya“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya; ia tidak menzaliminya dan tidak menyerahkannya kepada pihak yang menzaliminya. Siapa yang membantu kebutuhan saudaranya, Allah membantu kebutuhannya. Siapa yang melepaskan seorang Muslim dari suatu kesusahan, Allah melepaskannya dari salah satu kesusahan pada hari kiamat. Siapa yang menutupi aib seorang Muslim, Allah menutupi aibnya pada hari kiamat.”
Sahih al-Bukhari no. 2442 · Matan lengkap tanpa sanad; mencakup persaudaraan, bantuan, pelepasan kesusahan, dan menutup aib. Latin adalah bantuan membaca dengan akhir kata terakhir dibaca berhenti; bukan pedoman tajwid resmi. Teks sumber
Saudaraku... Persaudaraan dalam hadis ini meminta perhatian yang nyata: tidak menzalimi dan tidak menyerahkan saudara kepada kezaliman. Dalam kelompok, sebutan saudara terasa hampa jika satu orang terus menerima ejekan atau beban yang tidak layak. Mari memeriksa bagian yang berada dalam kendali kita. Adakah keputusan kita membuat seseorang terus tersisih? Adakah keberatannya kita abaikan karena ia tidak dekat dengan pengurus? Mendukung orang yang dirugikan dapat dimulai dengan mendengarkan secara aman dan memeriksa fakta, lalu mencari perbaikan sesuai kewenangan yang kita miliki.
Menjaga kehormatan orang juga tidak boleh dipakai untuk menutup perlakuan berbahaya. Kita dapat menghindari menyebarkan aib sebagai hiburan, sekaligus menyampaikan masalah kepada orang yang tepat agar korban terlindungi. Jika ada perundungan, kita tidak perlu mengumumkan semua rinciannya ke kelompok. Namun kita juga tidak meminta pihak yang mengalami perundungan diam demi nama baik organisasi. Perbaikan yang adil memperhatikan keselamatan, fakta, dan kebutuhan pihak yang terdampak, bukan sekadar kenyamanan orang yang memiliki pengaruh.
4. Kisah Inspiratif: Ilustrasi: giliran di ruang latihan
Ilustrasi rekaan untuk pembelajaran, bukan riwayat sejarah.
Sebuah kelompok memakai satu ruang dan beberapa alat untuk latihan keterampilan. Fajar bertugas mengatur giliran. Awalnya ia memberi waktu lebih panjang kepada teman-teman yang sering berkumpul dengannya. Ia merasa mereka lebih mudah diajak bekerja sama, sehingga latihan akan berjalan lancar. Peserta baru biasanya mendapat sisa waktu menjelang ruang ditutup. Dalam catatan Fajar, semua orang sudah memperoleh giliran, tetapi lama waktu dan kesempatan mencoba sebenarnya tidak seimbang.
Suatu sore, seorang peserta baru bernama Rendi menunjukkan catatan waktu pemakaian. Ia menyampaikan keberatan tanpa mengejek Fajar. Fajar teringat bahwa Rendi pernah mengkritik cara kelompok mengatur kegiatan, sehingga ia sempat ingin mengabaikan catatan tersebut. Namun angka waktu di catatan itu dapat diperiksa. Ia membandingkannya dengan jadwal ruang dan mendapati bahwa teman dekatnya memang menerima kesempatan lebih banyak. Kekesalannya kepada Rendi tidak mengubah kenyataan tersebut.
Fajar mengajak kelompok menyusun giliran berdasarkan kebutuhan latihan dan kesempatan yang sudah diterima. Mereka menyediakan waktu awal yang bergantian, mencatat durasi, dan memberi kesempatan kepada peserta yang belum sempat mencoba. Salah seorang teman dekat Fajar keberatan karena merasa biasanya ia boleh tinggal lebih lama. Fajar menjelaskan bahwa aturan baru juga berlaku untuk dirinya. Ia tetap menyampaikan penjelasan dengan ramah, tetapi tidak mengembalikan keistimewaan yang tidak memiliki alasan jelas.
Pada akhir pekan, Rendi masih belum menjadi teman dekat Fajar. Mereka juga masih berbeda pandangan tentang beberapa hal. Namun Rendi mendapat waktu latihan yang layak, dan Fajar bisa mengakui hasil latihannya dengan jujur. Hubungan mereka tidak harus akrab dahulu agar perlakuannya menjadi adil. Kelompok pun mempunyai catatan yang dapat diperiksa jika ada keberatan, sehingga pembagian kesempatan tidak lagi bergantung pada siapa yang paling sering berbincang dengan pengatur jadwal.
5. Renungan — Siapa yang Selalu Mendapat Sisa?
Mari melihat wajah orang yang jarang mendapat kesempatan dalam kelompok kita; mungkin ia tidak meminta keistimewaan, hanya ukuran yang juga berlaku bagi teman dekat kita.
Ilustrasi tadi mengingatkan kita bahwa ketidakadilan kadang muncul tanpa kata-kata kasar. Orang yang selalu dipilih mungkin merasa semuanya baik-baik saja, sementara orang yang selalu mendapat sisa kesempatan perlahan berhenti berharap. Karena itu, jangan hanya bertanya apakah kita pernah berniat merugikan orang. Periksa juga hasil keputusan kita. Siapa yang terus mendapat tugas berat? Siapa yang selalu mendapat kesempatan tampil? Apakah ada alasan yang jelas, atau hanya kebiasaan yang tidak pernah ditinjau?
Satu latihan yang berguna ialah membayangkan pertukaran nama. Jika tindakan yang sama dilakukan oleh teman dekat, apakah keputusan kita akan berbeda? Jika kebutuhan yang sama disampaikan peserta yang tidak dikenal, apakah kita tetap menanggapinya? Pertanyaan ini tidak menyelesaikan setiap persoalan, tetapi membantu menemukan pengaruh kedekatan. Sesudah itu, kita tetap perlu memeriksa fakta dan mendengarkan pihak yang terlibat. Jangan menuduh diri atau orang lain hanya berdasarkan dugaan bahwa suatu keputusan terasa tidak menyenangkan.
Keadilan juga membutuhkan jalur koreksi. Pemimpin dapat menjelaskan ukuran keputusan dan menyediakan waktu bagi keberatan yang sopan. Peserta boleh meminta penjelasan tanpa dianggap tidak setia. Jika keputusan ternyata keliru, perbaiki pembagiannya dan sampaikan koreksi kepada pihak yang terdampak. Kita tidak perlu mempertahankan keputusan lama hanya karena sudah diumumkan. Mengubah keputusan berdasarkan fakta yang lebih lengkap adalah tanggung jawab. Pada saat yang sama, kita perlu menjaga percakapan agar tidak berubah menjadi serangan kepada pribadi.
Mari berhenti sejenak dan menjawab dalam hati. Apakah kedekatan atau rasa kesal mengubah ukuran keputusan saya? Siapa yang mungkin hanya mendapat sisa kesempatan dalam kelompok? Apakah orang yang merasa dirugikan memiliki cara aman untuk meminta koreksi?
6. Penutup — Ajakan Nyata
Saudara-saudaraku yang saya hormati, sebelum kita mengakhiri kalam hari ini, mari membawa pulang tiga komitmen yang dapat dilaksanakan selama tujuh hari.
Pertama, sebelum Rabu, catat satu pembagian tugas atau kesempatan beserta penerimanya. Periksa sedikitnya tiga orang dan tulis ukuran yang digunakan tanpa memberi label buruk kepada siapa pun.
Kedua, sebelum Jumat, minta satu orang yang terdampak menjelaskan apakah pembagian itu terasa layak. Dengarkan sampai selesai, lalu cocokkan masukan dengan fakta yang dapat diperiksa.
Ketiga, sebelum Ahad, lakukan atau usulkan satu koreksi yang beralasan. Tulis pembagian sebelum dan sesudah koreksi, lalu tinjau apakah ukuran yang sama berlaku juga bagi teman dekat kita.
Saudara-saudaraku... Dalam ilustrasi Fajar dan Rendi, hubungan mereka tidak mendadak akrab. Namun kesempatan latihan dapat diperbaiki. Kita pun tidak perlu menunggu rasa suka tumbuh untuk berlaku layak. Jika pembagian kita keliru, bukalah jalan koreksi yang aman dan jelaskan alasannya tanpa membuka kehidupan pribadi orang. Pekan depan kita belajar tegas tanpa kasar, lembut tanpa lemah. Ukuran adil yang kita jaga hari ini perlu disampaikan dengan cara yang jelas, agar batas dapat dipahami tanpa membuat manusia kehilangan martabatnya.
Doa Penutup
Ya Allah, bersihkan penilaian kami dari kebencian yang menyesatkan dan kedekatan yang membutakan. Tuntun kami untuk melihat fakta dengan jujur, mengakui hak sesama, dan membagi amanah dengan alasan yang benar. Beri kami keberanian memperbaiki keputusan yang merugikan orang lain. Jagalah lisan kami saat menerima keberatan, serta lindungi mereka yang tidak mempunyai pengaruh untuk membela kebutuhannya. Tolong kami menjadi saudara yang tidak menzalimi dan tidak mengabaikan kesusahan. Jadikan langkah kami lebih adil, meskipun hati kami masih belajar mengelola rasa suka dan tidak suka. Amin.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Doa tematik disusun untuk materi ini, bukan kutipan doa khusus Nabi.