PROGRAM KALAM PEMBINA 1 TAHUN

Pekan 30 dari 52 · Naskah narasi · Setiap Senin

Bermusyawarah dan Mendengarkan

1370 kata · Estimasi 10–15 menit, menyesuaikan tempo dan jeda.

Daftar 52 pekan

1. Pembukaan

Bismillāhirraḥmānirraḥīm. Alḥamdulillāhi rabbil ‘ālamīn. Waṣṣalātu wassalāmu ‘alā sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Hadirin yang berbahagia... Bayangkan sebuah pertemuan yang hampir selesai. Jadwal sudah tertulis, beberapa orang mengangguk, dan kita merasa pekerjaan hari itu beres. Di ujung ruangan ada teman yang sejak tadi ingin berbicara. Tangannya sempat terangkat, lalu turun lagi. Ia mempunyai keadaan yang belum kita ketahui. Barangkali ia harus menjaga adik pada jam yang kita pilih. Barangkali ia baru berani menyusun kalimat setelah pembicaraan terlanjur berpindah. Keputusan tampak mudah ketika kesulitan orang itu belum terdengar.

Saudara-saudaraku, pekan lalu kita belajar menerima bagian kita dalam kesalahan. Kini keberanian itu kita bawa sebelum keputusan dibuat. Kita datang dengan usulan, tetapi juga dengan kesediaan bahwa usulan itu mungkin belum lengkap. Mendengarkan tidak membuat kita kehilangan peran. Kita memberi orang lain kesempatan menjelaskan hidup yang tidak kita jalani. Hari ini, mari melihat cara kita menunggu orang selesai berbicara. Apakah kita sungguh ingin memahami, atau hanya sedang menyiapkan bantahan? Suara yang pelan tetap layak mendapat waktu, dan orang yang berbeda pendapat tidak perlu dibuat takut untuk menyampaikannya.

2. Urusan Bersama, Ruang untuk Saling Mendengar

Dalam Surah Asy-Syura ayat 38, Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebut musyawarah dalam urusan orang-orang yang memenuhi seruan-Nya. Allah berfirman:

وَالَّذِيْنَ اسْتَجَابُوْا لِرَبِّهِمْ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَۖ وَاَمْرُهُمْ شُوْرٰى بَيْنَهُمْۖ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ ۚ

Bacaan Latin

Wal-lażīnastajābū lirabbihim wa aqāmuṣ-ṣalāta wa amruhum syūrā bainahum, wa mimmā razaqnāhum yunfiqūn(a).

Artinya

“(juga lebih baik dan lebih kekal bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhan dan melaksanakan salat, sedangkan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka. Mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka;”

QS. Asy-Syura (42):38 · Sumber teks Arab, Latin, dan terjemahan

Saudaraku... Musyawarah dalam ayat ini hadir bersama ketaatan kepada Allah, salat, dan kesediaan menginfakkan rezeki. Kita mendengar pengingat bahwa urusan bersama bukan milik keinginan satu orang. Ada pihak yang menerima manfaat, ada pula yang menanggung beban keputusan. Sebelum merasa rencana kita paling praktis, mari memperhatikan mereka. Siapa yang harus mengubah waktunya? Siapa yang belum ditanya? Dalam latihan sehari-hari, membuka kesempatan bagi suara mereka membantu kita memahami kebutuhan yang semula tidak tampak, tanpa menganggap setiap keinginan harus selalu dipenuhi.

Musyawarah memerlukan persoalan yang jelas. Bila pertemuan hanya dimulai dengan permintaan mengusulkan apa saja, pembicaraan dapat melebar dan peserta kebingungan. Sebutkan kebutuhan, batas waktu, serta sumber daya yang tersedia. Setelah itu, dengarkan pilihan yang mungkin. Berikan waktu kepada peserta yang membutuhkan jeda untuk merumuskan pendapat. Sebagian orang lebih nyaman menulis singkat sebelum berbicara. Cara seperti ini adalah latihan praktis kita, bukan aturan rinci yang kita tambahkan ke dalam ayat. Tujuannya agar kesempatan memberi masukan tidak hanya dimiliki peserta yang cepat berbicara.

3. Masukan yang Menghendaki Kebaikan

Tentang ketulusan dalam beragama, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda dalam hadis sahih riwayat Muslim nomor 55 varian a:

الدِّينُ النَّصِيحَةُ

Bacaan Latin

Ad-dīnun-naṣīḥatu.

Artinya

“Agama adalah ketulusan.”

Sahih Muslim no. 55 (varian a) · Petikan sabda Nabi yang pertama, bukan seluruh matn; sanad, pertanyaan para sahabat, dan jawaban Nabi berikutnya tidak ditampilkan. Teks sumber

Saudara-saudaraku... Nasihah membawa ketulusan dan kehendak akan kebaikan, lebih luas daripada sekadar teguran. Di meja musyawarah, niat itu dapat kita periksa saat sebuah usulan tidak sesuai keinginan kita. Kita boleh menyebut kekurangan rencana dan risiko yang nyata. Tetapi jangan memakai masukan sebagai kesempatan membuat pembawanya kehilangan harga diri. Kritik yang tulus membantu orang melihat persoalan dengan lebih jelas. Ia tidak memerlukan ejekan agar terdengar tegas, dan tidak mengharuskan orang yang memberi saran menjadi pemenang dalam setiap keputusan kelompok.

Pemimpin juga membutuhkan nasihah. Ia tidak cukup mengundang masukan lalu menghukum orang yang berbeda pendapat. Jika kritik yang disampaikan dengan sopan selalu dibalas dengan ejekan, peserta akan belajar diam. Keheningan seperti itu tidak membuktikan bahwa semua orang setuju. Sebagai latihan, pemimpin dapat merangkum pendapat sebelum menjawabnya dan mengucapkan terima kasih atas informasi yang berguna. Masukan tetap perlu ditimbang, tetapi penimbangannya didasarkan pada isi, bukan kedekatan dengan orang yang menyampaikan.

4. Kisah Inspiratif: Ilustrasi: jadwal yang hampir selesai

Ilustrasi rekaan untuk pembelajaran, bukan riwayat sejarah.

Berikut ini ilustrasi rekaan, bukan riwayat sejarah. Sekelompok remaja merencanakan latihan untuk kegiatan lingkungan. Arman, koordinatornya, membawa jadwal yang menurutnya sudah paling praktis. Latihan akan dilakukan setiap sore pada hari yang sama. Dua teman langsung setuju. Arman hampir menutup pembicaraan, tetapi melihat Tia beberapa kali mengangkat tangan lalu menurunkannya. Ia memberi Tia kesempatan menyampaikan keadaan yang belum masuk ke dalam rencana.

Tia menjelaskan bahwa pada dua sore ia membantu menjaga adiknya sampai orang tuanya pulang. Ia tidak meminta semua orang mengikuti jadwalnya. Ia hanya berharap ada pilihan agar tetap bisa terlibat. Teman lain ternyata bekerja membantu keluarganya pada salah satu hari yang sama. Arman semula merasa rencananya dipersulit. Ia sudah menghabiskan waktu menyusunnya. Namun ia mencoba merangkum: ada peserta yang bersedia ikut, tetapi waktu yang dipilih membuat mereka tidak dapat hadir. Setelah mendengar rangkuman itu, Tia mengangguk karena kebutuhannya sudah dipahami.

Kelompok menuliskan beberapa pilihan. Mereka membandingkan ketersediaan ruang, waktu peserta, dan bagian latihan yang bisa dikerjakan mandiri. Tidak semua keinginan terpenuhi. Akhirnya mereka menyepakati satu pertemuan bersama yang lebih singkat dan satu latihan tambahan dengan pilihan waktu. Orang yang tidak dapat hadir pada pilihan pertama dapat bergabung pada pilihan kedua. Arman mencatat alasan keputusan dan pembagian tugas agar kesepakatan tidak hanya tinggal dalam ingatan masing-masing.

Seminggu kemudian, kelompok memeriksa jadwal itu. Ada bagian yang masih kurang cocok, lalu mereka memperbaikinya tanpa menyalahkan Tia sebagai penyebab perubahan. Arman belajar bahwa mendengar lebih dahulu memang membutuhkan waktu, tetapi mencegahnya membuat keputusan berdasarkan keadaan dirinya saja. Tia juga belajar menyampaikan kebutuhan secara jelas dan ikut memikirkan jalan keluar. Musyawarah mereka belum sempurna, tetapi semua orang mengetahui mengapa jadwal dipilih dan bagaimana mengajukan perbaikan.

5. Renungan — Suara yang Belum Mendapat Giliran

Saudaraku, ingatlah satu percakapan ketika kita merasa tidak didengar; biarkan ingatan itu menuntun cara kita memberi waktu kepada orang lain hari ini dengan lebih sabar.

Dalam keseharian, mendengar dapat dilatih melalui hal kecil. Letakkan telepon ketika orang menyampaikan hal penting. Tunggu ia menyelesaikan kalimat. Jika belum paham, tanyakan maksudnya tanpa menyindir. Kita sering menyusun jawaban ketika orang lain masih berbicara, sehingga yang kita tangkap hanya bagian yang ingin kita bantah. Cobalah merangkum satu kalimat sebelum memberikan tanggapan. Bila rangkuman kita keliru, biarkan ia memperbaikinya. Kesediaan dikoreksi menunjukkan bahwa kita memang ingin memahami, bukan sekadar menunggu giliran bicara.

Musyawarah juga perlu batas. Tidak setiap persoalan dapat diselesaikan hanya dengan suara terbanyak. Keselamatan seseorang tidak boleh diabaikan demi kenyamanan kelompok. Informasi pribadi tidak perlu dibuka agar peserta lain merasa puas. Jika keputusan menyangkut kewenangan orang tua, pembina, atau penanggung jawab tertentu, libatkan pihak tersebut. Kita dapat mendengar semua usulan sambil menolak usulan yang menyakiti atau mempermalukan orang. Menghargai pembicara tidak sama dengan membenarkan setiap isi ucapannya.

Sesudah keputusan diambil, jelaskan alasan dan pekerjaan yang mengikuti keputusan itu. Peserta yang usulannya tidak dipilih tetap perlu diperlakukan dengan hormat. Jangan memberi label pembangkang hanya karena ia menyampaikan keberatan. Sebaliknya, kita yang berbeda pendapat juga dapat membantu menjalankan keputusan yang layak sambil mencatat hal yang perlu dievaluasi. Tetapkan waktu meninjau hasilnya. Dengan demikian, musyawarah menghasilkan tanggung jawab bersama, bukan pertemuan yang ramai tetapi tidak pernah berlanjut menjadi pekerjaan.

Mari berhenti sejenak dan menjawab dalam hati. Siapa yang jarang terdengar dalam keputusan kelompok saya? Apakah saya memahami masukan sebelum membantahnya? Bagaimana saya memperlakukan orang yang usulannya tidak dipilih?

6. Penutup — Ajakan Nyata

Saudara-saudaraku yang saya hormati, sebelum kita mengakhiri kalam hari ini, mari membawa pulang tiga komitmen yang dapat dilaksanakan selama tujuh hari.

Pertama, sebelum Rabu, pilih satu keputusan bersama dan tanyakan pendapat sedikitnya dua orang yang terdampak. Tulis kebutuhan mereka tanpa mencantumkan informasi pribadi yang tidak perlu.

Kedua, sebelum Sabtu, adakan percakapan musyawarah selama lima belas menit. Beri setiap peserta satu giliran tanpa dipotong, lalu rangkum setidaknya dua pendapat sebelum menanggapi.

Ketiga, sebelum Ahad berakhir, catat satu keputusan, alasan pemilihannya, pembagian tugas, dan waktu evaluasi. Minta satu peserta memeriksa apakah catatan itu sesuai kesepakatan.

Ketika pertemuan selesai, semoga tidak ada orang yang pulang dengan perasaan bahwa suaranya hanya menjadi pelengkap. Kita belum tentu memilih setiap usulan, tetapi kita dapat menjelaskan alasan dengan hormat dan menjaga kesempatan untuk memperbaiki keputusan. Musyawarah perlu berlanjut dalam pekerjaan yang jelas, bukan berhenti pada anggukan. Pekan depan kita belajar berlaku adil. Ruang mendengar yang kita buka hari ini akan diuji: apakah ia juga tersedia bagi orang yang tidak dekat dengan kita, dan bagi orang yang pernah mengkritik kita?

Doa Penutup

Ya Allah, lapangkan hati kami untuk mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Jauhkan kami dari keinginan menang sendiri dan kebiasaan meremehkan pendapat orang lain. Tuntun lisan kami agar menyampaikan nasihat dengan tulus serta menerima koreksi dengan jujur. Beri kami keberanian menyuarakan kebutuhan secara sopan, dan kebijaksanaan menimbang keputusan bersama. Lindungi peserta yang takut berbicara karena pernah direndahkan. Tolong kami membangun pertemuan yang aman dan melanjutkan kesepakatan dengan pekerjaan nyata. Semoga perhatian kami kepada sesama tumbuh dalam tindakan yang dapat mereka rasakan. Amin.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Doa tematik disusun untuk materi ini, bukan kutipan doa khusus Nabi.