Dunia Bergejolak, Korsel Berupaya Raup Untung Besar dari Senjata
mereka bergerak cepat untuk kembali merebut pangsa pasar dari belanja pertahanan global yang terus meningkat.
sebagai upaya melindungi negara dari rezim yang agresif dan sulit diprediksi di perbatasannya dengan Korea Utara.
dalam satu dekade terakhir, pemerintahan yang silih berganti di Seoul juga makin gencar mengembangkan pasar ekspor.
Strategi itu terbukti membuahkan hasil sejak Rusia melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina pada Februari 2022.
" kata Park Saing-in, ekonom di Seoul National University.
pemerintah terus berusaha lebih mandiri dalam menyediakan perlengkapan bagi angkatan bersenjata kami, dengan menggelontorkan dana besar untuk riset dan pengembangan di perusahaan-perusahaan pertahanan, sehingga mereka bisa mengejar ketertinggalan dari negara lain," katanya kepada DW.
seperti jet tempur siluman F-35 Lightning II. Namun, produsen senjata Korea Selatan sudah semakin mahir memproduksi sistem senjata dan perlengkapan kelas menengah yang bisa dikirim cepat ke pembeli dengan biaya relatif rendah, karena lini produksinya sudah lebih dulu tersedia.
misalnya, dirancang untuk mencegat rudal balistik dan pesawat pada jarak hingga 40 kilometer. Mirip dengan Patriot buatan AS, Korea Selatan menjual 10 baterai sistem ini ke Uni Emirat Arab (UEA) pada 2022, dan sistem tersebut menarik perhatian analis pertahanan setelah mencatat tingkat keberhasilan intersepsi 96% dalam serangan rudal awal di konflik Timur Tengah yang masih berlangsung.
1 juta dolar AS (Rp19,8 miliar), jauh lebih murah dibanding pencegat Patriot yang harganya bisa mencapai beberapa juta dolar per unit. Produsennya pun bisa mengirim sistem lengkap dalam waktu sekitar satu tahun, sementara waktu pengiriman baterai Patriot minimal empat tahun.
dalam beberapa tahun terakhir, Korea Selatan menjelma jadi salah satu negara pengekspor senjata terbesar di dunia. Pada 2025, ekspor senjatanya mencapai 15,4 miliar dolar AS (Rp278,2 triliun), menurut Seoul Economic Daily yang mengutip data Defense Acquisition Program Administration (DAPA). Ekspor sempat mencapai puncaknya di angka 17,3 miliar dolar AS (Rp312,5 triliun) pada 2022.
negara ini mengandalkan warisan industri perkapalannya untuk memproduksi kapal perang, ditambah sistem artileri dan pesawat. Kini bidang itu meluas ke kendaraan lapis baja, rudal, dan sistem pertahanan udara.
yang terguncang oleh agresi Rusia terhadap Ukraina dan melemah akibat bertahun-tahun kurang berinvestasi di sektor pertahanan, menjadi pasar utama.
menyumbang lebih dari 40% total ekspor Korea Selatan. Warsawa memesan 364 unit howitzer self-propelled K9 Thunder kaliber 155mm yang dimodifikasi, serta 360 unit tank tempur utama K2 Black Panther, yang diakui sebagai salah satu tank paling mumpuni di dunia.
48 unit pesawat tempur dan latih ringan FA-50, serta 1.266 unit kendaraan tempur penggerak empat roda "Legwan".
Perombakan besar-besaran alutsista Polandia ini memungkinkan Warsawa menyerahkan peralatan lama era Soviet miliknya ke Ukraina.
Finlandia, Estonia, Norwegia, dan Rumania sama-sama membeli howitzer K9, sementara kesepakatan untuk tank K2 dan kendaraan tempur infanteri Redback juga diharapkan menyusul. Kendaraan tempur infanteri itu pun dibeli oleh Angkatan Darat Australia lewat kesepakatan senilai 2,4 miliar dolar Australia (Rp30,3 triliun).
Arab Saudi telah membeli sistem pertahanan rudal Cheongung-II, dan Irak diperkirakan akan mengikuti jejaknya. Vietnam dan Filipina tengah berunding soal kapal patroli militer dan pesawat FA-50. Peru sudah menandatangani kesepakatan dengan Hyundai Heavy Industries untuk proyek angkatan laut, dan tengah membahas pembelian tank K2 serta kendaraan lapis baja K808.
Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung menghadiri seremoni peluncuran perdana jet tempur KF-21 buatan dalam negeri, proyek yang juga melibatkan Indonesia dan diharapkan akan dibeli Indonesia dalam jumlah tertentu.
dengan waktu pengerjaan singkat, dan harga yang relatif murah," kata Park.
karena Korea Selatan sudah lama terlalu bergantung pada enam atau tujuh sektor saja," katanya. "Meski Korea Selatan masih kuat di semikonduktor, mobil, dan kapal, tapi kami sudah kehilangan sektor-sektor lain, seperti bahan kimia, ke tangan Cina."
jenderal purnawirawan Angkatan Darat Korea Selatan yang kini menjadi peneliti senior di National Institute for Deterrence Studies, mengatakan perusahaan-perusahaan Korea Selatan sebelumnya sudah terbukti sukses mengenali dan menyempurnakan produk rumah tangga seperti televisi, lalu menjualnya dengan harga lebih murah dibanding pesaing asing.
Ia menekankan bahwa hal serupa kini terjadi di sektor peralatan militer.
terbuka terhadap teknologi asing, dan pandai mengejar ketertinggalan dari negara lain," katanya, seraya menambahkan bahwa upaya ini menjadi semacam keharusan nasional mengingat ancaman yang ditimbulkan Korea Utara.
negara-negara asing dengan cepat mengenali sistem senjata mana yang bisa memberi mereka keunggulan di medan perang, dan langsung membelinya dalam jumlah signifikan.
tapi tersedia dengan cepat, terbukti berfungsi, harganya bersaing, dan biasanya sudah termasuk paket perawatan sistem ke depannya," katanya. "Bagi negara yang butuh sesuatu segera, itu semua sangat menarik."
tapi sektor ini tidak bisa mengandalkan kondisi itu bertahan selamanya.
tapi dalam jangka panjang, saya memperkirakan negara-negara Eropa dan anggota NATO lain akan berusaha membangun industri pertahanan mereka sendiri untuk memenuhi permintaan lebih lanjut," katanya.
tapi meluas ke riset dan pengembangan bersama, produksi, serta penempatan sistem senjata."
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Korsel Bentuk 500 Ribu Prajurit Drone
Artikel Telah Tayang di : https://news.detik.com/dw/d-8575377/dunia-bergejolak-korsel-berupaya-raup-untung-besar-dari-senjata