Wanita Muslimah India Hadapi Serangan Propaganda Seksual Melalui AI
Saat itu, seorang teman mengirimkan sebuah klip yang beredar di Instagram. Video tersebut tampak seperti segmen berita televisi, lengkap dengan suara narator, keterangan, dan judul berita. Namun semuanya palsu.
Video itu menceritakan kisah hidup Samreen Ayoub di New Delhi secara detail, seolah-olah mengikuti jejak kehidupannya dari semester pertama hingga akhir perkuliahan.
“Itu adalah penguntitan yang tepat. Mereka telah mengikuti hidup saya dari semester pertama hingga terakhir di universitas,” kata Samreen Ayoub (24) kepada Al Jazeera, Senin (15/6).
Video tersebut menyusun foto-foto Samreen Ayoub dari masa ia menjadi mahasiswa di Universitas Jamia Millia Islamia New Delhi. Gambar-gambar itu diambil dari momen-momen biasa: proyek kelompok, pesta perpisahan, selfie dengan teman sekelas. Namun narasi yang disematkan sungguh mengerikan.
Pengisi suara, yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan, secara keliru mengklaim bahwa Samreen Ayoub adalah seorang wanita Muslim yang “menjual tubuhnya” kepada pria Hindu.
Video itu juga salah mengidentifikasi orang-orang dalam foto, dan bahkan melabeli saudara laki-lakinya sendiri sebagai “mucikari”.
“Video itu terlihat sangat nyata. Jika seseorang, bahkan orang tua saya, melihatnya, mereka akan mengira itu benar-benar terjadi,” ujar Samreen Ayoub.
Samreen Ayoub tidak sendirian. Ia adalah salah satu dari beberapa perempuan Muslim yang menjadi sasaran tren baru yang mengkhawatirkan, dengan penggunaan AI untuk menghasilkan citra dan propaganda seksual.
Sejumlah perempuan Muslim yang mengalami nasib serupa, namun mereka menolak berbicara secara terbuka karena rasa malu dan risiko trauma ulang.
Tren ini terjadi di tengah meningkatnya keterlibatan India dalam percakapan global tentang tata kelola AI. India sendiri baru saja menjadi tuan rumah KTT Dampak AI tingkat tinggi di New Delhi yang berfokus pada inovasi dan kerangka peraturan.
Sebuah studi oleh Center for the Study of Organized Hate (CSOH) yang berbasis di Washington, DC, menganalisis 1.326 gambar dan video hasil AI yang tersedia untuk umum. Data dikumpulkan dari 297 akun publik di X (Twitter), Facebook, dan Instagram selama periode Mei 2023 hingga Mei 2025.
Peneliti menemukan bahwa penggambaran seksual terhadap perempuan Muslim menghasilkan keterlibatan tertinggi, lebih dari 6,7 juta interaksi di seluruh platform. Ini menunjukkan bahwa konten kebencian bermuatan seksual, terutama yang menargetkan perempuan Muslim, dengan cepat menyebar dan mendapat perhatian luas di media sosial.
Kasus Samreen Ayoub adalah peringatan keras tentang sisi gelap perkembangan AI. Teknologi yang seharusnya memajukan peradaban, kini dapat dengan mudah disalahgunakan untuk menghancurkan reputasi, martabat, dan kehidupan pribadi seseorang, khususnya perempuan Muslim.
Para aktivis mendesak pemerintah India dan platform media sosial untuk segera mengambil tindakan tegas: memperkuat deteksi konten berbahaya, menghapus video AI palsu secara cepat, serta memberikan perlindungan hukum yang memadai bagi korban.
Kebebasan berekspresi tidak boleh menjadi tameng bagi pelaku kejahatan digital yang menghancurkan nyata kehidupan orang lain.
Artikel Telah Tayang di : https://minanews.net/wanita-muslimah-india-hadapi-serangan-propaganda-seksual-melalui-ai/