Subang, Jalancagak.com

mulai dari sistem pendidikan, infrastruktur, hingga literasi kebencanaan.

serta penguatan literasi masyarakat terkait kebencanaan harus segera diwujudkan," kata Lestari dalam keterangannya, Rabu (26/8/2026).

menghadirkan Agus Riyanto, (Direktur Penanganan Darurat Wilayah I, Badan Nasional Penanggulangan Bencana/BNPB), Wijayanto (Direktur Gempa Bumi dan Tsunami, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika/BMKG), dan Nuraini Rahma Hanifa (Peneliti Senior Bidang Gempa Bumi dan Tsunami, Badan Riset dan Inovasi Nasional/BRIN) sebagai narasumber.

hadir Erma Yulihastin, (Peneliti Ahli Utama, Badan Riset dan Inovasi Nasional /BRIN) dan Marianus Marselus (Wartawan Media Indonesia di Nusa Tenggara Timur) sebagai penanggap.

sapaan akrab Lestari, sejumlah langkah antisipatif harus segera direalisasikan, mengingat pontensi ancaman bencana terhadap masyarakat meningkat.

bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, akhir tahun lalu, menelan 1.167 jiwa, ratusan korban hilang, dan ratusan ribu warga mengungsi.

gempa bumi M 7,7 di Flores, NTT, mengakibatkan 103 orang meninggal, 986 luka-luka, dan ratusan ribu warga terpaksa mengungsi.

kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dan Sumatera, saat ini, yang memicu lonjakan kasus ISPA hingga 25%-30% di kalangan masyarakat dan anak sekolah.

pemerintah daerah di kawasan rawan bencana harus didorong untuk memprioritaskan mitigasi bencana, termasuk penertiban tata ruang, dan audit konstruksi bangunan tahan gempa.

Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu menegaskan bahwa ketahanan nasional bermula dari kesiapsiagaan di level masyarakat terkecil seperti rumah tangga dan komunitas.

7 Skala Richter mulai dari Sumatera, Sulawesi Tengah, Jawa Barat, Maluku Utara hingga Nusa Tenggara Timur.

jelas Wijayanto, karena Indonesia dipengaruhi empat lempeng besar dunia seperti lempeng Indo Australia, Eurosia, Pasifik, dan Filipina.

tambah dia, bahkan tercatat 43 ribu gempa mulai Ferbruari 2025 hingga Desember 2025. Dua penyebab utama gempa di Indonesia, menurut Wijayanto, akibat subduksi lempeng (megatrust) dan patahan aktif.

jelas dia, Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi bencana gempa yang tinggi dan dampak lainnya seperti tsunami.

BMKG juga mencatat tingkat guncangan gempa untuk memperkirakan tingkat kerusakan dampak guncangan gempa yang terjadi.

jelas dia, BMKG juga berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait, seperti BNPB, Pemda, dan masyarakat untuk menyosialisasikan kondisi yang terjadi, sebagai bagian upaya meredam ancaman berita hoax terkait bencana.

BNPB berupaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat.

sepanjang 2026, hingga 25 Agustus 2026, BNPB mencatat 1.587 bencana terjadi dengan dominasi bencana pada bencana hydrometeorogi, dengan bencana geologi tercatat 14 kejadian.

jelas Agus, Indonesia menempati peringkat 3 dari 193 negara yang rawan bencana.

risiko bencana sangat tergantung dari faktor besar kecilnya ancaman bencana, kapasitas masyarakat dan lembaga dalam memahami bencana, serta besar kecilnya kerentanan yang ada.

tegas Agus, untuk membangun kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana, ketiga faktor yang membentuk risiko bencana tersebut harus benar-benar dicermati dan dipahami dengan baik oleh semua pihak, termasuk masyarakat luas.

diperlukan perubahan paradigma dalam penanggulangan bencana menjadi lebih mengedepankan upaya preventif, multi sektoral, dan mewujudkan tanggung jawab semua pihak (pentahelix), untuk membangun masyarakat yang tangguh dalam menghadapi bencana.

BRIN, Nuraini Rahma Hanifa berpendapat bahwa besar kecilnya dampak yang terjadi tergantung dari kesiapan kita dalam menghadapi potensi dampak gempa.

ujar Nuraini, diteliti sebagai bagian upaya antisipasi potensi gempa di masa datang.

jelas dia, merupakan bagian dari upaya membangun kesiapan masyarakat.

Nuraini berpendapat, sebaran kerusakan yang terjadi sesuai peta sebaran gempa yang ada.

tegas dia, perlu direalisasikan bangunan tahan gempa di wilayah-wilayah rawan gempa.

bencana terjadi bila manusia yang hidup di tengah fenomena alam itu tidak siap mengantisipasi dampaknya," ujar Nuraini.

menurut Nuraini, harus menjadi momentum untuk memperkuat kesiapan wilayah urban dan padat penduduk dalam mengantisipasi ancaman dampak gempa di Tanah Air.

ujar Marianus, tercatat 185 rubu orang hidup di pengungsian pascagempa.

gempa dengan kekuatan 7,7 magnitudo itu bukan hanya soal kekuatannya, tetapi juga bagaimana kita memiliki sistem yang mampu mengantisipasinya dengan baik.

ujar dia, peringatan dini kerap kali tidak sampai ke masyarakat karena infrastruktur komunikasi tidak tersedia di sejumlah wilayah.

tambah Marianus, diperlukan penguatan sistem informasi dan infrastruktur yang memadai di NTT untuk membangun kesiapsiagaan pemerintah daerah dan masyarakat dalam menghadapi bencana di masa datang.

Erma Yulihastin berpendapat bahwa dalam menganalisis gempa di tanah air sebaiknya juga mengaitkan dengan gempa-gempa yang terjadi sebelumnya di negara lain.

menurut Erma, wilayah-wilayah tersebut masih berada di sekitar lempeng Pasifik yang akhir-akhir aktif bergerak.

dimungkinkan terjadinya gempa utama kedua pada rangkaian gempa yang terjadi di Flores, karena hingga saat ini masih terjadi gempa.

Wartawan senior Usman Kansong berpendapat bahwa masyarakat Indonesia hidup di atas ring of fire yang terdiri dari lempeng dan sesar aktif sehingga menjadi negara rawan gempa dan bencana.

ujar Usman, kejadian gempa belum bisa diprediksi.

tegas Usman, masyarakat yang menjadi korban kerap bukan karena gempa itu sendiri, tetapi karena tertimpa bangunan yang dihuninya.

sejatinya kita bisa melakukan sejumlah hal yang disebut mitigasi bencana dan mitigasi gempa, untuk mengurangi risiko akibat gempa atau bencana.

menurut Usman, ada sejumlah hal yang bisa dilakukan untuk memitigasi gempa. Antara lain, tambah dia, di zona merah yang rawan bencana harus tegas dilarang mendirikan bangunan.

harus bangun rumah dengan konstruksi tahan gempa. Misalnya rumah panggung sesuai kearifan lokal atau rumah modular hasil rekayasa BRIN yang sudah terbukti tahan gempa.

kita harus konsisten melakukan simulasi atau latihan bagaimana mengurangi risiko ketika terjadi gempa. "Umumnya kita baru giat berlatih ketika sudah terjadi gempa. Ketika situasi sudah aman kita sering lupa," ujar Usman

Artikel Telah Tayang di : https://news.detik.com/berita/d-8635791/waka-mpr-ri-dorong-bangun-kesiapsiagaan-bencana-secara-menyeluruh