saat konflik kedua negara terus berlanjut. Trump, bersama Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu, dirumorkan membahas serangan besar-besaran terhadap Iran sebelum pemilu sela AS pada November mendatang.

" kata Trump saat berbicara kepada pendukungnya dalam kampanye menjelang pemilu sela untuk Partai Republik di Alaska, seperti dilansir Anadolu Agency, Rabu (14/10/2026).

tapi kalian tahu itu tidak masalah. Hal yang paling penting adalah mereka tidak akan memiliki senjata nuklir," ujar Trump.

dengan kedua negara terus berselisih, terutama mengenai kendali atas Selat Hormuz, jalur perairan strategis untuk pasokan minyak dan gas global.

Trump-Netanyahu Pertimbangkan Serang Iran Sebelum Pemilu Sela AS

Axios, pada Selasa (13/10) menyebutkan bahwa Trump dan Netanyahu sedang membahas peluncuran operasi militer besar-besaran terhadap Iran menjelang pemilu di kedua negara.

sedangkan Israel menggelar pemilu legislatif pada 27 Oktober.

yang mengutip dua pejabat AS dan sumber-sumber lainnya yang mengetahui persoalan ini, menyebutkan bahwa pembahasan itu berlangsung sebelum Trump secara terbuka mengatakan dirinya tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu sela AS.

menurut laporan Axios, Netanyahu memaparkan informasi intelijen Israel yang mengindikasikan bahwa Iran sedang berupaya membangun kembali program nuklirnya, termasuk kemungkinan mengoperasikan situs Gunung Pickaxe untuk pengayaan uranium.

Gedung Putih Bantah Ada Pembahasan Serangan Baru ke Iran

yang tidak disebut namanya, membantah adanya pembahasan semacam itu. Dia menyebut laporan media soal pembahasan rencana serangan ke Iran oleh Trump dan Netanyahu sebagai laporan "palsu".

Ditegaskan oleh juru bicara Gedung Putih itu bahwa Trump telah mengesampingkan kemungkinan serangan terhadap Iran sebelum pemilu sela AS.

militer AS dan Israel tetap bersiaga dan sedang memfinalisasi persiapan seandainya Trump berubah pikiran.

Trump meminta Netanyahu bersiap-siap tanpa memberikan komitmen apa pun.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan pimpinan Komando Pusat AS (CENTCOM) menjadi pihak yang paling gencar mendukung serangan terbaru terhadap Iran. Sementara sebagian besar penasihat Trump lebih memilih untuk melanjutkan sanksi dan tekanan ekonomi terhadap Teheran.

Letnan Jenderal Eyal Zamir, dilaporkan mengatakan kepada pemimpin Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, bahwa pertempuran yang berlangsung dalam kurun waktu tiga minggu ini dapat memaksa penundaan pemilu Israel, mengingat potensi serangan balasan Iran.