Sehelai kain dapat menyimpan jejak kekuasaan. Dalam masyarakat Islam awal, tiraz diberikan sebagai jubah kehormatan kepada pejabat istana dan utusan melalui upacara khil‘a. Nama penguasa, tanggal, serta tempat pembuatan yang tercantum pada kain membantu menelusuri kehidupan politik masa itu.

Istilah tiraz berasal dari kata Persia untuk sulaman. Maknanya dapat menunjuk kain, pita tulisan yang menghiasinya, maupun bengkel produksi. Namun, contoh-contoh awal tidak selalu bertulisan: sebagian memakai medalion berwarna, hewan, dan motif warisan Sasaniyah, Koptik, serta Bizantium.

The Metropolitan Museum of Art membedakan bengkel khassa, yang melayani khalifah dan lingkungan istananya, dari bengkel ‘amma untuk produksi umum. Kain dari kelompok kedua menjangkau kalangan bangsawan sekaligus masyarakat lebih luas. Bahan dan teknik kedua kelompok dapat beragam.

Di sinilah pembaca perlu berhati-hati: nama khalifah bukan otomatis tanda bahwa kain berasal dari bengkel pribadinya. Kedua jenis bengkel dapat mencantumkan nama yang sama, sehingga tulisan atau mutu teknik saja tidak selalu cukup untuk menentukan asal kelembagaannya. Tiraz mengajarkan bahwa membaca peninggalan sejarah juga berarti mengenali batas informasi yang disediakannya.