Sulur dan bunga dalam seni Islam tidak selalu menyimpan pesan tersembunyi. Motif tumbuhan menghiasi bangunan, kain, dan benda, kadang bersama kaligrafi atau geometri. Keindahannya berkembang lintas wilayah dan zaman.

Pada abad-abad awal Islam, perajin mengadaptasi motif dari kebudayaan Bizantium di Mediterania timur dan Iran Sasaniyah. Bentuk yang semula menyerupai tumbuhan kemudian mengalami beragam percobaan. Menurut Departemen Seni Islam The Metropolitan Museum of Art, gaya yang sangat abstrak berkembang matang pada abad ke-10 hingga ke-12.

Perubahan tidak berhenti di sana. Kehadiran kekuasaan Mongol di Asia barat membuka pengadopsian sejumlah motif Tiongkok. Pada masa Utsmani, Safawi, dan Mughal abad ke-16 serta ke-17, pola yang sudah dikenal diolah lebih rumit, terkadang disertai ketertarikan pada bunga yang tampak lebih alami.

Untuk menikmati ornamen ini, pembaca tidak perlu memaksakan satu tafsir keagamaan pada setiap daun. Museum tersebut menjelaskan bahwa motif tumbuhan umumnya tidak memiliki makna simbolis, dengan pengecualian taman dan kaitannya yang lazim dengan surga. Memperhatikan bentuk, pengulangan, dan perubahan gaya memberi jalan lain untuk memahami sejarahnya.