Sebuah buku tidak hanya menyimpan sejarah melalui tulisannya. Dalam tradisi penjilidan Islam, lipatan kulit yang memanjang dari sampul menjadi pelindung tepi lembaran. Bagian ini memperlihatkan hubungan antara bentuk buku dan kebutuhan menjaga isinya.

University of Kansas Libraries menjelaskan bahwa gaya penjilidan ini dikenal di wilayah historis Islam, dari Spanyol selatan dan Afrika utara hingga Timur Tengah serta India. Ciri yang lazim meliputi punggung datar, papan sampul sejajar dengan tepi blok halaman, dan jahitan pada dua titik tanpa penyangga jahitan.

Lipatan pelindungnya tidak selalu diperlakukan sama. Dalam sejumlah budaya, lidah sampul ditempatkan di dalam sampul depan, seperti pada model yang dipamerkan perpustakaan tersebut. Keterangan ini penting: satu contoh koleksi membantu mengenali konstruksi, tetapi bukan alasan menganggap semua buku dari wilayah luas itu identik.

Di bengkel buku yang dijelaskan The Metropolitan Museum of Art, penjilidan berlangsung setelah penyalinan teks, pengerjaan gambar, serta penghiasan halaman selesai. Lembaran kemudian dijahit, sementara sampul disambungkan dengan punggung dan lipatan pelindung. Sampul merupakan bagian dari kerja bersama banyak keterampilan, bukan sekadar pembungkus tambahan.

Hiasannya pun berubah. The Met mencatat perkembangan rancangan medalion oval di Persia pada abad ke-15, disertai unsur gantung dan hiasan sudut. Cetakan digunakan pada separuh sampul lalu dibalik untuk menghasilkan pasangan yang mencerminkan bentuknya. Gaya ini kemudian menyebar ke India dan Turki.

Saat mengamati buku lama, pembaca dapat memisahkan dua pertanyaan: bagaimana buku dirakit dan bagaimana permukaannya dihias. Punggung, lipatan, serta jahitan membantu membaca struktur; medalion dan pola membantu membaca pilihan ragam hias. Dengan begitu, perhatian tidak berhenti pada kemewahan sampul, melainkan juga pada kecakapan menjaga lembaran tetap menjadi sebuah buku.