Subang, Jalancagak.com

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَقُلْ جَاۤءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُۖ اِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا ۝٨١ (الاسرآء [١٧]: ٨١)

“Katakanlah, yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu pasti lenyap.” (QS Al-Isra [17]: 81)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan bahwa, berdasarkan hadits riwayat Al-Bukhari, ayat ini turun ketika umat Islam masih dalam keadaan lemah dan tertindas di Makkah. Ketika Fathul Makkah (pembebasan kota Makkah, 8 H) Rasulullah ﷺ membaca ayat di atas ketika beliau menghancurkan berhala-berhala yang berada di sekitar Ka’bah. Peristiwa itu menjadi simbol kemenangan tauhid atas kesyirikan serta tegaknya kebenaran di atas kebatilan.

Namun, makna ayat ini tidak terbatas pada peristiwa Fathu Makkah semata. Ia merupakan sunnatullah yang berlaku sepanjang sejarah kehidupan manusia. Kebatilan pada hakikatnya mengandung benih kehancuran di dalam dirinya sendiri. Meskipun terkadang tampak kuat, dominan, dan berjaya, namun, kebatilan pada akhirnya akan runtuh.

Sebaliknya, kebenaran mungkin terlihat lemah dan terpinggirkan pada suatu masa, tetapi karena berakar pada prinsip yang benar, ia memiliki daya hidup yang panjang dan pada akhirnya akan memperoleh kemenangan.

Dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Sayyid Qutb menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan hukum universal yang mengatur perjalanan umat manusia. Kebatilan sering kali tampak unggul karena didukung oleh kekuasaan, kekuatan militer, modal ekonomi, maupun dominasi media. Akan tetapi, keunggulan itu hanyalah sementara. Karena kebatilan itu bertentangan dengan fitrah manusia. Maka ia akan hancur oleh kontradiksi yang diciptakannya sendiri.

Meski demikian, kemenangan kebenaran tidak selalu hadir secara cepat dan instan. Sejarah menunjukkan bahwa tegaknya kebenaran merupakan proses yang menuntut kesabaran, keteguhan, perjuangan, dan pengorbanan. Para nabi, ulama, dan pejuang kebenaran telah memberikan teladan, bahwa kemenangan sejati lahir melalui proses perjuangan.

Sejarah dunia telah berkali-kali memperlihatkan bahwa banyak kekuatan besar yang tampak kokoh dan tak tergoyahkan, pada akhirnya mengalami kemunduran bahkan kehancuran. Ketika sebuah kekuasaan kehilangan legitimasi moral, mengabaikan keadilan, dan semakin jauh dari nilai-nilai kemanusiaan, maka faktor-faktor keruntuhannya sesungguhnya tumbuh dari dalam dirinya sendiri.

Sejarah mengajarkan satu pelajaran penting, tidak ada kekuatan politik, militer, atau imperium yang abadi. Kekaisaran Romawi runtuh. Uni Soviet pecah. Kolonialisme Eropa yang pernah menguasai sebagian besar dunia akhirnya tumbang. Semua itu menunjukkan bahwa sebesar apa pun sebuah kekuatan, ia tetap tunduk kepada hukum sejarah (sunnatullah).

Di tengah krisis yang terus berlangsung di Palestina, muncul pertanyaan yang semakin sering dibahas oleh para pengamat, sejarawan, dan aktivis internasional: apakah negara Zionis Israel sedang memasuki fase kemunduran yang serius dan Bangsa Palestina akan segera merdeka?

Pertanyaan ini bukan lahir dari retorika politik semata, melainkan dari sejumlah gejala yang terlihat semakin jelas dalam beberapa tahun terakhir. Krisis politik internal, polarisasi sosial, meningkatnya emigrasi warga, tekanan ekonomi akibat perang berkepanjangan, menurunnya citra internasional, hingga ketergantungan yang sangat besar kepada Amerika Serikat menjadi indikator yang patut dicermati.

Krisis Internal Tanda Retaknya Fondasi dari Dalam

Salah satu gejala paling nyata yang terlihat di Israel saat ini adalah krisis internal yang terburuk dalam beberapa dekade terakhir. Jika pada masa lalu ancaman terhadap Israel lebih sering berasal dari luar, kini tantangan terbesar justru muncul dari masyarakat dan sistem politiknya sendiri.

Jauh sebelum peristiwa 7 Oktober 2023, Israel telah diguncang gelombang demonstrasi besar-besaran oleh rakyatnya sendiri yang berlangsung selama berbulan-bulan. Ratusan ribu warga turun ke jalan menuntut reformasi peradilan dan pemerintahan. Krisis tersebut mengungkap jurang ketidakpercayaan kepada para pemimpin (pemerintah), lembaga peradilan dan militer.

Kritik yang dahulu hanya datang dari luar, kini semakin banyak muncul dari kalangan akademisi, aktivis, dan bahkan sebagian warga Israel sendiri. Bagi para tokoh Yahudi pro-Israel, perpecahan internal jauh lebih berbahaya daripada ancaman eksternal karena merusak fondasi dari dalam.

Sejarawan Israel, Ilan Pappé berulang kali menyatakan bahwa proyek Zionisme sedang menghadapi krisis yang bersifat eksistensial. Menurutnya, semakin sulit bagi Israel untuk mempertahankan legitimasi moral dan politik di tengah meningkatnya sorotan dunia terhadap kebijakan pendudukan dan perlakuannya terhadap rakyat Palestina.

Pandangan senada juga disampaikan oleh sejarawan Israel lainnya, Avi Shlaim. Ia menilai bahwa pendekatan yang mengedepankan kekuatan militer dan kebijakan yang semakin keras terhadap Palestina tidak serta-merta menghasilkan keamanan jangka panjang. Sebaliknya, kebijakan tersebut justru memperdalam isolasi internasional dan memperbesar ketegangan di dalam negeri.

Di sisi lain, Israel juga menghadapi tantangan sosial dan demografis yang kompleks. Masyarakatnya terdiri atas beragam kelompok dengan latar belakang identitas, budaya, dan orientasi politik yang berbeda-beda, mulai dari Yahudi sekuler dan ultra-Ortodoks hingga komunitas Arab Palestina, semuanya memiliki kepentingan sendiri-sendiri yang tidak bisa dipersatukan dan tidak mau dikompromikan.

Perdebatan mengenai wajib militer bagi kelompok ultra-Ortodoks, kesenjangan ekonomi, persoalan identitas negara, hingga hubungan antara agama dan negara terus menjadi sumber ketegangan yang berulang.

Mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak pernah memperingatkan bahwa Israel mengalami proses keruntuhan akibat konflik sosial dan politik terus memburuk. Menurunnya kepercayaan publik terhadap institusi negara menambah polarisasi yang menggerogoti eksistensi Zionis Israel dari dalam.

Selain menghadapi keretakan dari dalam, Israel juga berada di bawah tekanan eksternal yang semakin luas. Jika pada masa lalu kritik terhadap Israel didominasi oleh negara-negara Arab dan dunia Islam, kini kecaman datang dari berbagai kalangan di hampir seluruh kawasan dunia, termasuk dari negara-negara Barat yang selama puluhan tahun menjadi sekutu terdekatnya.

Genosida Gaza sejak Oktober 2023 hingga saat ini telah mempercepat perubahan persepsi global tersebut. Aksi demo dan solidaritas untuk Palestina berlangsung di berbagai kota besar dunia, mulai dari Washington, New York, London, Paris, Berlin, Ottawa, hingga Sydney. Gelombang protes ini tidak hanya melibatkan komunitas Muslim, tetapi juga akademisi, aktivis hak asasi manusia, tokoh lintas agama, serikat pekerja, hingga masyarakat sipil.

Perubahan yang paling mencolok terlihat di lingkungan kampus. Mahasiswa dari sejumlah universitas ternama seperti Harvard, Columbia, Stanford, Oxford, dan Cambridge menggelar aksi protes yang menuntut penghentian dukungan terhadap operasi militer Israel di Gaza. Fenomena ini menunjukkan lahirnya generasi baru di Barat yang memandang isu Palestina secara berbeda dibanding generasi sebelumnya.

Pengaruh perubahan opini publik tersebut telah lama diperingatkan oleh John J. Mearsheimer dan Stephen M. Walt dalam karyanya, The Israel Lobby and U.S. Foreign Policy (2007). Keduanya berargumen bahwa dukungan tanpa syarat terhadap Israel berpotensi merugikan kepentingan strategis Amerika Serikat serta menimbulkan resistensi yang semakin besar di tingkat internasional.

Pandangan kritis juga disampaikan oleh profesor Noam Chomsky. Ia menilai bahwa kebijakan perang Zionis akan terus menggerus posisinya di mata dunia. Kekuatan militer hanya menciptakan kontrol sementara, tetapi tidak dapat menggantikan kebutuhan akan legitimasi politik dan keadilan.

Sementara itu, Ilan Pappé dalam bukunya Ten Myths About Israel menjelaskan bahwa semakin terbukanya akses informasi membuat narasi propaganda Israel semakin sulit dipertahankan. Media digital, jurnalisme independen, dan media sosial memungkinkan masyarakat dunia menyaksikan langsung berbagai peristiwa yang terjadi di Palestina tanpa sepenuhnya bergantung pada narasi pemerintah maupun narasi media arus utama.

Ketika legitimasi itu semakin terkikis, sementara kritik terus meluas, bahkan dari kalangan sekutunya sendiri, maka salah satu pilar penting yang menopang keberlangsungan negara Zionis tersebut sedang menuju kepada jurang kehancuran.

Dalam prespektif historis, bangsa Yahudi sebagai nenek moyang Zionis Israel adalah bangsa yang selalu berlindung di bawah kekuatan bangsa lain. Sejak masa Nabi Musa Alaihi salam, mereka berlindung di bawah kekuasaan Fir’aun. Selanjutnya, mereka berlindung di bawah kekuasaan Romawi, Persia dan Islam.

Saat ini, Zionis Israel sangat bergantung kepada Amerika Serikat. Di balik citranya sebagai negara dengan kekuatan militer dan teknologi yang maju, banyak aspek penting justru bertumpu pada dukungan Washington.

Ketergantungan tersebut paling terlihat dalam bidang anggaran dan militer. Selama puluhan tahun, Amerika Serikat mengucurkan bantuan pertahanan bernilai miliaran dolar serta memasok berbagai sistem persenjataan canggih yang menjadi tulang punggung kekuatan militer Israel. Tanpa dukungan ini, Israel tidak berdaya di Kawasan.

Dukungan Amerika juga tampak dalam arena diplomasi internasional. Berkali-kali Washington menggunakan hak veto di Dewan Keamanan PBB untuk melindungi Israel dari berbagai resolusi yang berpotensi menekan atau mengisolasinya.

John J. Mearsheimer mengingatkan bahwa kekuatan yang terlalu bergantung pada pelindung eksternal akan menghadapi kerentanan ketika pelindung tersebut mengalami perubahan prioritas, penurunan pengaruh, atau persoalan serius di dalam negerinya sendiri. Ketergantungan yang tinggi menciptakan titik lemah yang berbahaya.

Persoalannya, Amerika Serikat saat ini sedang berada dalam kondisi yang rentan. Polarisasi politik yang tajam, utang negara yang terus meningkat, persoalan ekonomi, serta menurunnya kepercayaan publik terhadap pemimpinnya menjadi tantangan yang semakin nyata dalam beberapa tahun terakhir.

Pemerintahan Donald Trump pun menghadapi berbagai tekanan domestik yang tidak ringan. Perdebatan politik yang keras, ketidakpuasan sebagian masyarakat terhadap pemerintah, serta menurunnya kepercayaan terhadap lembaga-lembaga negara menunjukkan adanya keretakan sosial yang terus mengemuka di negeri tersebut.

Kemunduran Amerika Serikat mungkin tidak otomatis mengakhiri keberadaan Israel. Namun, ketergantungan yang begitu besar menjadikan negara tersebut rentan menghadapi perubahan geopolitik. Dalam konteks itulah, kekuatan yang tampak kokoh sesungguhnya menyimpan kelemahan mendasar pada fondasi yang menopangnya.

Menyongsong Kemenangan dengan Persiapan Maksimal

Di sinilah letak pelajaran terpenting bagi kaum Muslimin. Harapan terhadap berakhirnya penjajahan Palestina tidak boleh dihadapi dengan sikap pasif. Perubahan sejarah selalu menuntut persiapan, ikhtiar, dan pengorbanan.

Karena itu, jika berbagai tanda perubahan memang mulai terlihat, pertanyaan yang lebih penting bukanlah kapan penjajahan akan berakhir, melainkan apakah umat Islam sudah berjuang maksimal untuk menyongsong kemenangan tersebut. Sebab kemenangan hanya bisa diraih dengan perjuangan maksimal, sedangkan sikap pasif justru menjauhkan dari kemenangan yang diharapkan.

Kesiapan itu tidak cukup diukur dari semangat dan jumlah massa semata. Umat membutuhkan kekuatan ilmu, pendidikan, ekonomi, teknologi, media, serta kepemimpinan yang amanah dan kompeten. Inilah modal utama yang menentukan masa depan sebuah peradaban.

Syaikh Yusuf al-Qaradawi Rahimahullah menyebut, bahwa kebangkitan umat harus dimulai dari pembangunan manusia, pendidikan, akhlak, dan persatuan. Kebangkitan peradaban selalu diawali oleh perubahan kualitas manusia sebelum perubahan politik dan kekuasaan.

Karena itu, perjuangan membela Palestina harus berjalan seiring dengan penguatan akidah, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kemandirian ekonomi, serta penguatan persatuan umat. Dukungan terhadap Palestina akan jauh lebih bermakna jika ditopang oleh umat yang bersatu, kuat dan berdaya.

Kaum Muslimin hendaknya menyiapkan diri untuk mengisi ruang perubahan yang terbuka di masa depan. Kemenangan yang diraih dengan persiapan yang matang akan melahirkan peradaban yang kuat, sedangkan kemenangan tanpa kesiapan hanya menghasilkan persoalan baru.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Artikel Telah Tayang di : https://minanews.net/realita-negara-zionis-israel-saat-ini/