Prof KH Maman Abdurrahman dan Jejaknya Untuk Palestina
KEPERGIAN Prof. Dr. KH. Maman Abdurrahman pada Ahad (21/6) meninggalkan duka mendalam bagi umat Islam Indonesia. Namun di balik kiprahnya sebagai ulama, akademisi, dan mantan Ketua Umum Persatuan Islam (PERSIS), ada satu warisan penting yang patut dikenang yaitu komitmennya yang kuat terhadap perjuangan rakyat Palestina sebagai bagian dari tanggung jawab kemanusiaan umat Islam global.
Bagi Prof. Maman, dakwah Islam tidak pernah dipahami semata sebagai aktivitas ceramah di mimbar atau pengajaran agama dalam ruang-ruang terbatas. Ia melihat dakwah sebagai gerakan perubahan yang harus hadir menjawab persoalan nyata umat, termasuk ketika saudara Muslim di berbagai belahan dunia mengalami penjajahan, penindasan, dan krisis kemanusiaan. Dalam pandangan itulah, isu Palestina mendapat perhatian khusus sepanjang perjalanan dakwahnya.
Prof. Dr. H. Maman Abdurrahman, M.A., lahir di Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, pada 7 Agustus 1948. Sejak kecil ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang menanamkan nilai-nilai keislaman secara kuat, membentuk karakter intelektual dan spiritual yang kemudian mengiringi seluruh perjalanan hidupnya sebagai ulama.
Pendidikan agama menjadi fondasi awal kehidupannya. Ia menempuh pendidikan di berbagai pesantren sebelum kemudian melanjutkan studi di Muallimin Pesantren PERSIS, salah satu pusat kaderisasi intelektual utama di lingkungan PERSIS di bawah asuhan Ustadz E. Abdurrahman.
Karier akademiknya terus berkembang hingga meraih gelar Doktor Ilmu Agama Islam dari IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 1995. Dedikasinya dalam dunia pendidikan mengantarkannya dikukuhkan sebagai Guru Besar Universitas Islam Bandung (UNISBA) pada tahun 2002, menjadikannya salah satu ulama yang berhasil memadukan tradisi pesantren dengan dunia akademik modern.
Di kalangan aktivis dakwah Indonesia, Prof. Maman dikenal sebagai pemikir yang mendorong agenda pembaruan Islam. Ia meyakini bahwa dakwah tidak boleh berhenti pada pola-pola tradisional yang hanya bertumpu pada pengajian konvensional, tetapi harus mampu menjawab perubahan zaman.
Karena itu, selama memimpin PERSIS, ia aktif mendorong modernisasi gerakan dakwah melalui pemanfaatan teknologi informasi. Jauh sebelum era digital menjadi perhatian serius organisasi keagamaan, Prof. Maman telah menekankan pentingnya internet, media online, dan platform komunikasi digital sebagai ruang strategis penyebaran nilai-nilai Islam.
Baginya, perubahan sosial modern menuntut umat Islam membangun dakwah yang lebih progresif, adaptif, dan terorganisir secara sistematis.
Perjalanan organisasinya berlangsung panjang. Sejak muda ia aktif dalam berbagai organisasi, mulai dari Ketua Santri, aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Senat Mahasiswa UNISBA, hingga Perhimpunan Pelajar Indonesia Timur Tengah.
Di tubuh PERSIS, ia pernah menjabat Ketua Bidang Garapan Dakwah (1988–1993), Ketua STAI PERSIS (1998), serta Ketua Bidang Tarbiyah PP PERSIS (2005–2010). Setelah wafatnya KH Shiddiq Amien, Prof. Maman dipercaya menjadi Pelaksana Tugas Ketua Umum sebelum akhirnya terpilih secara resmi sebagai Ketua Umum PP PERSIS masa jihad 2010–2015.
Pada masa kepemimpinannya, PERSIS berkembang cukup pesat melalui pembentukan 8 Pengurus Wilayah baru dan 46 Pengurus Daerah baru, terutama di luar Pulau Jawa. Ia juga memprioritaskan penguatan pendidikan tinggi dan menyiapkan gagasan besar pendirian Universitas PERSIS.
Palestina dan Dakwah Kemanusiaan yang Diperjuangkannya
Salah satu sisi penting yang sering melekat pada perjalanan Prof. Maman adalah kepeduliannya terhadap perjuangan Palestina. Bagi dirinya, solidaritas terhadap Palestina bukan sekadar isu politik internasional, melainkan bagian dari amanah keislaman untuk membela umat yang mengalami penjajahan dan ketidakadilan.
Pada masa kepemimpinannya di PERSIS, ia aktif menggerakkan dukungan umat Islam Indonesia terhadap pembangunan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang membangun Rumah Sakit Indonesia Gaza, sebuah proyek kemanusiaan monumental Indonesia di Jalur Gaza.
Prof. Maman ikut menggerakkan wakaf umat untuk pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza, mengajak masyarakat melihat Palestina bukan sebagai persoalan bangsa lain, tetapi sebagai luka kemanusiaan yang menjadi tanggung jawab bersama.
Baginya, keberadaan Rumah Sakit Indonesia di Gaza adalah simbol bahwa solidaritas umat Islam Indonesia tidak boleh berhenti pada doa dan kecaman moral, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang memberi manfaat langsung bagi rakyat Palestina yang hidup di tengah blokade dan agresi militer.
Pemikiran Prof. Maman selalu menempatkan Islam sebagai kekuatan moral yang berpihak kepada keadilan. Ia berpandangan bahwa organisasi Islam tidak boleh menjadi kelompok eksklusif yang hanya mengurus kepentingan internal umat, tetapi harus hadir dalam persoalan kemanusiaan global.
Sikap inilah yang menjelaskan mengapa selama kepemimpinannya, PERSIS aktif terlibat dalam isu-isu solidaritas internasional, terutama Palestina.
Menurut Prof. Maman, umat Islam memiliki tanggung jawab moral untuk membela siapa pun yang mengalami penindasan. Palestina menjadi simbol perjuangan melawan kolonialisme modern yang menuntut keberpihakan nyata dari umat Islam dunia.
Prof KH Maman Abdurrahman meninggalkan lebih dari sekadar jabatan dan karya intelektual. Ia mewariskan gagasan bahwa dakwah sejati adalah dakwah yang hidup bersama persoalan umat, berpihak pada keadilan, dan bergerak melampaui batas geografis bangsa.
Melalui dukungannya terhadap perjuangan Palestina dan keterlibatannya dalam pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Prof. Maman menunjukkan bahwa seorang ulama tidak cukup hanya berbicara tentang agama, tetapi juga harus hadir membela kemanusiaan.
Kepergiannya adalah kehilangan besar. Namun jejak perjuangannya akan terus hidup, termasuk di Gaza, di tempat sebuah rumah sakit berdiri sebagai saksi bahwa solidaritas Indonesia pernah diperjuangkan bersama para alim ulama, dan aktivis peduli Palestina.
Artikel Telah Tayang di : https://minanews.net/prof-kh-maman-abdurrahman-dan-jejaknya-untuk-palestina/