Piala Dunia dan Suara Palestina dari Lapangan Hijau
PIALA DUNIA 2026 sedang bergulir. Di tengah gemerlap stadion-stadion megah di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, ada suara-suara yang tak hanya membicarakan gol dan kemenangan.
Ada narasi yang lebih dalam, yang menggema dari lapangan hijau hingga ke ruang-ruang konferensi pers, yaitu suara solidaritas untuk Palestina.
Dunia sepak bola menyaksikan bagaimana olahraga paling populer di muka bumi ini tak pernah benar-benar bisa dipisahkan dari politik. Dan dalam pusaran Piala Dunia kali ini, isu Palestina kembali mengemuka dengan caranya sendiri, melalui aksi-aksi nyata para pemain dan sorotan tajam terhadap standar ganda FIFA.
Sebelum Piala Dunia bergulir, ada satu momen paling menggugah datang dari Spanyol.
Adalah Lamine Yamal, bintang muda Barcelona berusia 18 tahun, dengan berani mengibarkan bendera Palestina di atas bus terbuka saat parade perayaan gelar juara La Liga. Gestur sederhana namun sarat makna ini sontak menjadi sorotan dunia.
Sontak, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengecam keras aksi Yamal, dan menuduhnya “menghasut terhadap Israel dan mendorong kebencian” .
Namun, dukungan justru datang dari tempat yang tak terduga. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez membela Yamal dengan pernyataan tegas bahwa pemain muda itu “hanya mengekspresikan solidaritas untuk Palestina yang dirasakan oleh jutaan warga Spanyol” dan menjadikannya “alasan lain untuk bangga padanya”.
Dukungan Sánchez bukanlah tanpa risiko. Hubungan Spanyol dengan Israel telah memburuk sejak Madrid mengakui negara Palestina pada 2024. Namun, sikap ini menunjukkan bahwa suara solidaritas untuk Palestina telah melampaui batas-batas olahraga dan menjadi isu kemanusiaan yang diakui di level tertinggi pemerintahan.
Namun, dukungan dari para pemain dan politisi tidak serta-merta diikuti oleh lembaga sepak bola tertinggi dunia. FIFA justru menghadapi kritik tajam atas sikapnya yang dinilai inkonsisten.
Pada Oktober 2025, Presiden FIFA Gianni Infantino menolak seruan untuk melarang Israel bertanding di turnamen resmi, menyebut situasinya sebagai “isu geopolitik”. Keputusan ini kontras dengan langkah cepat FIFA pada 2022 yang langsung menjatuhkan sanksi kepada Rusia usai invasi ke Ukraina.
Lebih dari itu, Komite Disiplin FIFA memang menemukan Asosiasi Sepak Bola Israel (IFA) bersalah atas pelanggaran diskriminasi “sistematis dan berat”, termasuk mengizinkan eksklusi Palestina dari infrastruktur sepak bola di pemukiman Tepi Barat. Namun, FIFA menolak permintaan Asosiasi Sepak Bola Palestina (PFA) untuk melarang klub-klub Israel yang berbasis di wilayah pendudukan, dengan alasan hal itu di luar yurisdiksi mereka.
Amnesty International mengecam keputusan ini dengan keras. Steve Cockburn, Kepala Keadilan Ekonomi dan Sosial Amnesty International, menyatakan bahwa dengan menolak mengambil tindakan terhadap klub-klub yang berbasis di pemukiman Israel, FIFA telah gagal menegakkan aturannya sendiri dan secara terang-terangan melanggar hukum internasional.
FIFA memiliki kesempatan jelas untuk membela hak-hak rakyat Palestina dan hukum internasional, dengan keputusan ini, mereka secara memalukan memilih untuk meninggalkan keduanya.
Mahkamah Internasional telah dengan jelas menyatakan bahwa pendudukan Israel di wilayah Palestina adalah ilegal dan pemukiman di Tepi Barat adalah ilegal. Statuta FIFA sendiri tegas mengatakan, “Asosiasi anggota dan klub mereka tidak boleh bermain di wilayah asosiasi anggota lain tanpa izin dari yang terakhir”.
Pertanyaan yang menggema:, “Mengapa FIFA tegas terhadap Rusia dan Afrika Selatan di masa apartheid, namun diam terhadap Israel?”
Di tengah kebisuan FIFA, para pemain justru bersuara. Mohamed Salah, bintang Liverpool dan Timnas Mesir, telah berulang kali menunjukkan dukungannya untuk Palestina.
Pada Oktober 2023, Salah mengimbau para pemimpin dunia untuk mencegah “pembantaian lebih lanjut terhadap jiwa-jiwa tak bersalah” dan mengubah foto profilnya menjadi gambar dirinya di Masjid Al-Aqsa.
Namun, momen paling berani datang pada Agustus 2025, ketika Mo Salah mengkritik UEFA atas pernyataan belasungkawa mereka terhadap pesepak bola Palestina Suleiman Al-Obeid, yang dikenal sebagai “Pele Palestina”. Al-Obeid tewas ditembak oleh pasukan Israel saat menunggu bantuan kemanusiaan di Gaza. Dalam unggahan yang viral, Salah mempertanyakan UEFA dengan tiga pertanyaan tajam, “Can you tell us how he died, where, and why?” (Bisakah kamu beri tahu kami bagaimana dia meninggal, di mana, dan mengapa?)
Pertanyaan sederhana ini mengguncang dunia sepak bola dan menyoroti bagaimana korban Palestina sering kali diperlakukan dengan sikap diam yang tak terpahami.
Di tengah semua ini, ada secercah harapan. Pelatih Senegal, Pape Thiaw, baru-baru ini membuat pernyataan yang mengguncang ruang konferensi pers Piala Dunia 2026.
Ketika ditanya oleh jurnalis AS tentang keputusan timnya tetap melaksanakan shalat Jumat berjamaah di tengah cuaca ekstrem New Jersey, Thiaw menjawab dengan tegas, “Apakah ada hal yang lebih penting daripada shalat? Saya rasa itu bukan urusan Anda. Anda takut pada angin, sedangkan kami takut pada Allah, Sang Pencipta angin. Kami datang ke sini untuk permainan hiburan, namun kami telah melupakan bahwa kami diciptakan untuk beribadah kepada Allah.”
Bahkan, Thiaw menyatakan timnya rela kehilangan angka dalam kejuaraan Piala Dunia demi tetap menunaikan ibadah.
Pernyataan ini mengingatkan kita bahwa di balik tekanan kompetisi, ada nilai-nilai yang lebih tinggi. Dan bagi Palestina, ini adalah pengingat bahwa solidaritas dapat datang dari mana saja, dari pemain bintang, pelatih berprinsip, hingga para pendukung yang mengibarkan bendera di tribun-tribun stadion.
Palestina Berhak Merdeka di Lapangan Hijau
Dunia sepak bola harus mengakui bahwa Palestina memiliki hak yang setara untuk berlatih dan bermain bola layaknya negara lain. Tanpa intimidasi. Tanpa tekanan. Tanpa serangan dari pendudukan yang ilegal.
FIFA tidak boleh menggunakan standar ganda. Aturan yang sama harus berlaku untuk semua negara. Jika klub-klub dari pemukiman ilegal terus diizinkan, itu bukan hanya pelanggaran statuta FIFA, tetapi juga pengakuan diam-diam terhadap pendudukan yang melanggar hukum internasional .
Dan di luar semua kebijakan, dunia telah melihat bahwa solidaritas untuk Palestina tetap hidup. Baik melalui kibaran bendera di bus juara, pertanyaan kritis di media sosial, atau pernyataan berani di tengah badai.
Dan, warga Palestina di kamp-kamp pengungsian di Jalur Gaza pun ikut menikmati perhelatan Piala Dunia melalui nonton bareng. Ada hiburan tersendiri, ketika mereka mendukung negara tetangganya, Mesir, walau Rafah tidak selalu dibuka setiao saat.
Itulah suara Palestina di lapangan hijau. Dan suara itu takkan pernah padam.
(Penulis, Ali Farkhan Tsani, Duta Al-Quds Internasional).
Artikel Telah Tayang di : https://minanews.net/piala-dunia-dan-suara-palestina-dari-lapangan-hijau/