Peneliti FPCI: Generasi Muda Harus Jadi Culture Setter
JAKARTA — Peneliti Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Jeni Sari Winata mengajak generasi muda tidak sekadar menerima budaya dan sistem yang sudah ada, tetapi berani menjadi culture setter yang mampu menghadirkan perubahan di lingkungan masing-masing.
Hal tersebut Jenny sampaikan ketika menjadi pembicara dalam kegiatan Indonesia Muda Bicara edisi menuju peringatan HUT ke-81 RI “... Adalah Hak Segala Bangsa” yang digelar Bidang Kepemudaan DPP PKS, Sabtu, (15/08/2026) di Aula Kantor DPTP PKS.
Jenny mengatakan, menjadi culture setter membutuhkan mentalitas untuk berani mempertanyakan dan mengevaluasi budaya yang berkembang di komunitas masing-masing, termasuk di masyarakat sipil, pemerintahan, maupun partai politik.
“Karakter terpenting dari generasi muda seharusnya bisa menjadi culture setter di komunitas masing-masing, di partai masing-masing, di komunitas masing-masing, dan lain sebagainya,” ujarnya.
Menurut Jenny, sikap tersebut memang tidak selalu mudah karena generasi muda yang membawa gagasan baru dapat dianggap menabrak kebiasaan yang sudah ada atau dinilai naif. Namun, keberanian untuk melakukan evaluasi justru penting agar perubahan tidak berhenti pada kritik terhadap pihak lain.
“Kadang kita terjebak untuk melihat yang di luar sana, tapi di dalam komunitas masing-masing ada budaya yang kita perlu evaluasi,” ungkapnya.
Jeni juga mengingatkan generasi muda terhadap fenomena echo chamber, ketika seseorang atau kelompok hanya berinteraksi dengan pandangan yang sama sehingga sulit melakukan evaluasi secara objektif.
Ia menekankan pentingnya keberanian untuk berbicara kepada pengambil keputusan sekaligus masyarakat dan memberikan contoh nyata.
“Di FPCI prinsipnya, speak to the power, speak to the people; show example to the power, show example to the people,” tutup Jenny.
Artikel Telah Tayang di : https://pks.id/content/peneliti-fpci-generasi-muda-harus-jadi-culture-setter