Mengenal Para Pesepakbola Muslim di Piala Dunia 2026
PIALA DUNIA 2026 sedang bergulir di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Di tengah gemuruh suporter dan sorak-sorai kemenangan, ada kisah-kisah yang tak hanya berbicara tentang gol semata. Ada cerita tentang identitas, keyakinan, dan sikap yang patut diteladani.
Inilah potret para pesepakbola Muslim yang mencuri perhatian di turnamen empat tahunan ini.
Yasin Ayari, Sujud Syukur di Tengah Debut Impian
Momen paling menyentuh datang dari gelandang Swedia berusia 22 tahun, Yasin Ayari. Dalam debut Piala Dunianya melawan Tunisia di Grup F, Ayari mencetak dua gol gemilang yang membawa Swedia menang 5-1.
Namun bukan dua golnya yang paling banyak diperbincangkan. Setelah mencetak gol pertama pada menit ke-7, Ayari tidak melakukan selebrasi berlebihan. Ia justru mengangkat kedua tangan lalu sujud syukur di atas lapangan .
Mengapa? Ya, Ayari lahir di Swedia dari ayah Tunisia dan ibu Maroko. Ia sebenarnya bisa memilih membela Tunisia, tetapi memutuskan bermain untuk Swedia, negara tempat ia dibesarkan. Pertemuan dengan Tunisia di Piala Dunia terasa emosional baginya.
“Rencana Tuhan, Swedia, ini untuk kalian, mereka yang selalu percaya pada kami. Alhamdulillah,” tulis Ayari di Instagram setelah pertandingan.
Sikap hormatnya pada akar keturunan, tanpa mengurangi loyalitas pada tim yang dibelanya, adalah pelajaran berharga tentang integritas dan rasa syukur.
Mohamed Salah, Suara Palestina di Tengah Puncak Karier
Bintang Liverpool dan Timnas Mesir, Mohamed Salah, memang tidak hanya dikenal karena prestasinya di lapangan. Ia juga menggunakan pengaruhnya untuk menyuarakan kemanusiaan.
Ketika konflik Gaza memuncak pada Oktober 2023, Mo Salah mengimbau para pemimpin dunia untuk mencegah “pembantaian lebih lanjut terhadap jiwa-jiwa tak bersalah” dan mengubah foto profilnya menjadi gambar dirinya di Masjid Al-Aqsa.
Namun momen paling berani terjadi pada Agustus 2025, ketika UEFA mengeluarkan pernyataan belasungkawa untuk pesepak bola Palestina Suleiman Al-Obeid yang tewas. UEFA tidak menyebutkan bagaimana dan mengapa ia meninggal. Salah pun mempertanyakan dengan tiga pertanyaan tajam di media sosial, “Can you tell us how he died, where, and why?” (Bisakah kamu beri tahu kami bagaimana dia meninggal, di mana, dan mengapa?).
Pertanyaan sederhana ini mengguncang dunia sepak bola dan menyoroti bagaimana korban Palestina sering diperlakukan dengan sikap diam yang tak terpahami.
Lamine Yamal, Bendera Palestina di Parade Juara
Bintang muda Barcelona berusia 18 tahun, Lamine Yamal, juga tak kalah berani. Dalam parade perayaan gelar juara La Liga Barcelona pada Mei 2026, Yamal, berdarah Maroko, dengan tegas mengibarkan bendera Palestina di atas bus terbuka.
Aksi ini sontak menjadi sorotan dunia. Sekitar 750.000 orang menyaksikan langsung momen tersebut di jalanan Barcelona. Menteri Pertahanan Israel mengecamnya, tetapi Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez justru membela Yamal, menyebutnya “hanya mengekspresikan solidaritas untuk Palestina yang dirasakan oleh jutaan warga Spanyol”.
Sikap Yamal mengajarkan kita bahwa menjadi atlet hebat tidak berarti harus diam. Ia memilih bersuara di saat perayaan terbesarnya.
Bek sayap Maroko dan Paris Saint-Germain, Achraf Hakimi, sudah lama dikenal vokal mendukung Palestina. Ketika PSG bertemu Maccabi Haifa di Liga Champions, Hakimi dicemooh habis-habisan oleh fans Israel saat masuk sebagai pemain pengganti .
Bagaimana respons Hakimi? Ia justru menutup telinganya sebagai gestur bahwa cemoohan itu tidak berpengaruh padanya. Sikap tenang namun tegas ini menunjukkan bahwa dukungan terhadap kemanusiaan tidak bisa dipadamkan oleh tekanan.
Sadio Mane, Bangun Infrastruktur di Negaranya
Sadio Mane, asal Senegal, yang bermain di Al-Nassr Bersama Cristiano Ronaldo. Sebelumnya ia merumput di klub raksasa Eropa, Liverpool FC (2016–2022) dan Bayern Munich (2022–2023).
Dengan sebagian dari kekayaannya, Mane telah mengubah desa kelahirannya secara drastis. Total investasinya mencapai lebih dari £1 juta (sekitar Rp20 miliar).
Beberapa proyek besar yang telah ia wujudkan antara lain: Masjid, Rumah Sakit, Sekolah, Stadion Mini, dan fasilitas Umum Lainnya (kantor pos, stasiun bahan bakar, jaringan 4G).
Tidak hanya membangun infrastruktur, Mane penerima Penghargaan Socrates pada upacara Ballon d’Or 2022, juga peduli pada kebutuhan sehari-hari warganya. Ia memberikan bantuan bulanan sekitar $70-$100 (sekitar Rp1,1 juta) kepada setiap keluarga miskin di daerahnya, yang hampir setara dengan upah minimum di Senegal.
Michael Olise, Winger Muda yang Rendah Hati
Michael Olise, pemain Prancis, menarik perhatian jagat bola bukan hanya karena aksi memukau bersama Bayern Munich, tetapi juga gaya hidup dan kepribadiannya yang rendah hati.
Walaupun ia tidak pernah secara resmi mengungkapkan agamanya, spekulasi publik mulai ramai setelah ia beberapa kali menunjukkan selebrasi dengan menunjuk jari telunjuk ke langit, sebuah gestur yang dikenal sebagai simbol keesaan Tuhan.
Dukungan lainnya datang dari latar belakang keluarganya, sang ibu memiliki darah Prancis-Aljazair, yang secara kuat diasosiasikan dengan budaya Muslim.
Ia juga dikenal dengan kerendahan hatinya, seperti saat mengunjungi klub amatir secara diam-diam untuk berlatih dan dengan ramah meladeni para pemain muda yang menginginkan foto.
Tentu masih banyak lagi pesepakbola Muslim yang ikut perhelatan Piala Dunia tahun ini, dari negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim.
Piala Dunia 2026 mencatat sejarah dengan 14 negara mayoritas Muslim yang lolos Piala Dunia, yaitu: Aljazair, Arab Saudi, Irak , Iran, Maroko, Mesir, Bosnia dan Herzegovina, Pantai Gading, Qatar, Senegal, Tunisia, Turki, Uzbekistan dan Yordania.
Para pesepakbola Muslim di Piala Dunia 2026 mengajarkan kita bahwa keyakinan dan profesionalisme bisa berjalan seiring, seperti Yasin Ayari yang tetap bersyukur di tengah debut impiannya.
Solidaritas kemanusiaan melampaui batas negara, seperti Lamine Yamal yang mengibarkan bendera Palestina di Spanyol.
Suara tidak boleh dibungkam, seperti Mohamed Salah yang mempertanyakan kebisuan UEFA.
Teguh pada prinsip, seperti Achraf Hakimi yang tetap bersuara meski dicemooh.
Di tengah gemerlap Piala Dunia, mereka mengingatkan bahwa sepak bola hanyalah permainan. Tapi nilai-nilai kemanusiaan, solidaritas, dan iman, itulah yang bertahan selamanya.
Artikel Telah Tayang di : https://minanews.net/mengenal-para-pesepakbola-muslim-di-piala-dunia-2026/