Mengapa Umat Islam Harus Peduli dengan Isu Fitrah?
DI SEBUAH sekolah, seorang guru bertanya kepada murid-muridnya, “Apa yang paling penting dalam hidup?” Sebagian menjawab uang, sebagian lagi menjawab kebebasan, dan ada yang menjawab kesuksesan. Namun hampir tidak ada yang menjawab “menjaga fitrah.” Padahal, fitrah adalah fondasi yang menentukan arah seluruh kehidupan manusia. Ketika fitrah terjaga, manusia akan berjalan sesuai tujuan penciptaannya. Tetapi ketika fitrah rusak, manusia bisa kehilangan arah meskipun memiliki ilmu, harta, dan teknologi.
Hari ini, isu fitrah semakin sering diperbincangkan. Bukan karena fitrah merupakan konsep baru, melainkan karena banyak nilai yang selama ribuan tahun dianggap wajar kini mulai dipertanyakan. Definisi laki-laki dan perempuan, konsep keluarga, pernikahan, hingga identitas diri menjadi perdebatan di berbagai belahan dunia.
Dalam situasi seperti ini, umat Islam tidak boleh bersikap acuh. Sebab yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar perbedaan pendapat, melainkan cara manusia memahami dirinya sendiri.
Islam mengajarkan bahwa manusia diciptakan dengan fitrah. Allah berfirman:
“Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus; fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah.” (QS. Ar-Rum: 30).
Ayat ini menunjukkan bahwa fitrah bukan hasil budaya, bukan produk politik, dan bukan kesepakatan manusia. Fitrah adalah bagian dari desain penciptaan yang Allah tanamkan dalam diri manusia. Karena itu, menjaga fitrah berarti menjaga keselarasan dengan kehendak Sang Pencipta.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, yang artinya, “Setiap anak dilahirkan di atas fitrah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengandung pesan yang sangat mendalam. Tidak ada bayi yang lahir membawa ideologi, kebiasaan, atau pandangan hidup tertentu. Semua manusia memulai kehidupannya dalam keadaan fitrah. Lingkungan, pendidikan, budaya, dan pengaruh sosial kemudian berperan besar dalam membentuk arah kehidupannya.
Data dari berbagai lembaga internasional menunjukkan bahwa generasi muda saat ini menghabiskan berjam-jam setiap hari di depan layar digital. Media sosial tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk cara berpikir dan cara memandang dunia. Anak-anak dan remaja sering kali menerima berbagai nilai baru tanpa memiliki kemampuan yang cukup untuk menyaringnya. Akibatnya, banyak yang mengalami kebingungan identitas, krisis makna hidup, hingga gangguan kesehatan mental.
Di sinilah pentingnya umat Islam memahami isu fitrah. Ketika masyarakat berbicara tentang kebebasan, Islam mengingatkan tentang tanggung jawab. Ketika dunia menekankan hak individu, Islam juga mengingatkan tentang hikmah penciptaan. Ketika manusia ingin menentukan segalanya sendiri, Al-Qur’an mengajak manusia kembali mengenali siapa yang menciptakannya.
Menariknya, pembahasan fitrah bukan hanya persoalan agama. Banyak penelitian modern menunjukkan bahwa manusia membutuhkan identitas yang jelas, keluarga yang stabil, dan lingkungan yang sehat untuk berkembang secara optimal. Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang harmonis umumnya memiliki peluang lebih besar untuk berkembang secara emosional dan sosial. Ini menunjukkan bahwa ajaran Islam tentang keluarga dan fitrah bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan kebutuhan manusia, tetapi justru selaras dengannya.
Namun, menjaga fitrah tidak cukup hanya dengan mengkritik perubahan zaman. Umat Islam harus menghadirkan solusi. Orang tua harus menjadi pendidik pertama bagi anak-anaknya. Guru harus menjadi teladan. Masjid harus menjadi pusat pembinaan generasi. Media Islam harus aktif memberikan edukasi yang mencerahkan. Dakwah harus hadir dengan ilmu, hikmah, dan kasih sayang.
Sering kali kita terlalu sibuk membahas gejala, tetapi lupa memperkuat akar. Kita khawatir terhadap berbagai penyimpangan, tetapi lupa membangun ketahanan iman dalam keluarga. Padahal pohon yang akarnya kuat tidak mudah tumbang meskipun diterpa badai.
Karena itu, isu fitrah sesungguhnya adalah isu tentang masa depan umat. Ketika fitrah dijaga, lahirlah keluarga yang sehat, masyarakat yang kuat, dan generasi yang memiliki arah hidup yang jelas. Sebaliknya, ketika fitrah diabaikan, manusia mudah terombang-ambing oleh berbagai arus pemikiran yang terus berubah.
Mari kita bertanya kepada diri sendiri. Sudahkah kita mengenalkan fitrah kepada anak-anak kita? Sudahkah rumah-rumah kita menjadi tempat tumbuhnya iman dan akhlak? Sudahkah kita menjelaskan kepada generasi muda bahwa mereka diciptakan dengan tujuan yang mulia?
Umat Islam harus peduli terhadap isu fitrah karena fitrah bukan sekadar tema diskusi. Fitrah adalah kompas kehidupan. Ketika kompas itu rusak, manusia kehilangan arah. Tetapi ketika kompas itu terjaga, manusia akan menemukan jalan menuju ketenangan, kemuliaan, dan keselamatan dunia serta akhirat.
Di tengah dunia yang terus berubah, fitrah tetap menjadi cahaya yang menunjukkan jalan pulang kepada Allah.
Artikel Telah Tayang di : https://minanews.net/mengapa-umat-islam-harus-peduli-dengan-isu-fitrah/