Subang, Jalancagak.com

SETIAP Setiap memasuki 1 Muharram, umat Muslim di berbagai belahan dunia memperingati Tahun Baru Islam  sebagai momentum pergantian kalender Hijriah. Namun di balik perayaan itu, tersimpan sejarah panjang tentang bagaimana umat Islam pertama kali membangun sistem penanggalan sendiri yang kemudian menjadi salah satu fondasi penting dalam perkembangan peradaban Islam.

Kalender Hijriah yang digunakan umat Islam saat ini ternyata tidak langsung ditetapkan pada masa Nabi Muhammad SAW. Penetapannya justru lahir melalui proses sejarah, perdebatan para sahabat, hingga kebutuhan administrasi pemerintahan Islam yang berkembang pesat setelah wafatnya Rasulullah.

Pada Masa Nabi Muhammad, Islam Belum Memiliki Kalender Resmi

Pada masa Muhammad, masyarakat Arab sebenarnya telah mengenal sistem penanggalan berbasis peredaran bulan atau kalender lunar. Namun ketika itu belum ada sistem penanggalan resmi yang menetapkan angka tahun sebagaimana dikenal sekarang.

Bangsa Arab saat itu lebih sering menandai suatu masa berdasarkan peristiwa besar yang terjadi. Salah satu contoh paling terkenal adalah “Tahun Gajah”, yakni peristiwa ketika pasukan Abraha menyerang Ka’bah, yang kemudian diyakini sebagai tahun kelahiran Nabi Muhammad sekitar 570 Masehi.

Dalam kehidupan sehari-hari, surat, perjanjian, maupun aktivitas sosial umat Islam pada masa awal dakwah belum menggunakan sistem tahun yang baku. Sebuah peristiwa biasanya hanya disebut berdasarkan bulan atau momentum tertentu.

Hijrah ke Madinah Menjadi Titik Balik Peradaban Islam

Perjalanan sejarah Islam mengalami perubahan besar ketika Nabi Muhammad melakukan Hijrah dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi.

Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat tinggal. Dalam perspektif sejarah, hijrah merupakan tonggak lahirnya sebuah masyarakat Islam yang mandiri secara sosial, ekonomi, dan politik.

Di Madinah, Rasulullah mulai membangun fondasi pemerintahan melalui Piagam Madinah, membentuk sistem persaudaraan antarumat, mengatur ekonomi, hingga meletakkan dasar-dasar tata kelola negara yang kemudian berkembang menjadi pusat peradaban Islam.

Meski menjadi peristiwa monumental, hijrah pada masa Nabi belum langsung dijadikan sebagai sistem kalender resmi umat Islam.

Masa Umar bin Khattab: Lahirnya Kalender Hijriah

Kalender Islam baru resmi ditetapkan pada masa pemerintahan Umar ibn al-Khattab sekitar tahun 638 Masehi atau 17 tahun setelah hijrah Nabi.

Sejarah mencatat, keputusan ini bermula ketika gubernur Basrah, Abu Musa al-Ashari, mengirim surat kepada Khalifah Umar terkait persoalan administrasi negara.

Ketika wilayah Islam semakin meluas, surat-surat resmi pemerintahan mulai menimbulkan kebingungan karena tidak memiliki penanda tahun yang jelas. Hal ini mendorong Umar mengumpulkan para sahabat senior untuk bermusyawarah menetapkan sistem penanggalan resmi bagi negara Islam.

Momentum inilah yang kemudian melahirkan Kalender Hijriah, yang hingga kini digunakan umat Islam di seluruh dunia.

Perdebatan Sahabat: Dari Kelahiran Nabi hingga Wafat Rasulullah

Penetapan kalender Islam ternyata tidak berlangsung sederhana. Dalam musyawarah para sahabat, muncul beberapa usulan tentang titik awal penanggalan.

Ada yang mengusulkan agar kalender dimulai dari tahun kelahiran Nabi Muhammad. Sebagian lain mengusulkan dari saat turunnya wahyu pertama di Gua Hira. Ada pula yang berpendapat kalender dimulai dari momen wafat Rasulullah.

Namun akhirnya usulan Ali ibn Abi Talib yang diterima: menjadikan peristiwa Hijrah Nabi sebagai titik awal kalender Islam.

Pertimbangannya sederhana namun mendalam. Hijrah dianggap sebagai momentum perubahan terbesar dalam sejarah Islam karena menjadi awal lahirnya masyarakat Muslim yang berdaulat.

Mengapa Tahun Islam Dimulai Muharram, Bukan Saat Hijrah Terjadi?

Pertanyaan yang sering muncul adalah: jika hijrah Nabi terjadi pada bulan Rabiul Awal, mengapa kalender Islam justru dimulai dari Muharram?

Para sahabat memiliki alasan tersendiri. Muharram dipandang sebagai awal siklus sosial masyarakat Arab setelah musim haji selesai dilaksanakan pada bulan Dzulhijjah. Selain itu, momentum persiapan hijrah kaum Muslim dari Makkah mulai berlangsung setelah musim haji, sehingga Muharram dianggap sebagai titik awal perubahan besar tersebut.

Karena itulah, meski peristiwa hijrah terjadi di Rabiul Awal, kalender Islam secara resmi dimulai pada bulan Muharram.

Setelah kalender Hijriah resmi ditetapkan, persoalan lain mulai muncul: bagaimana menentukan awal bulan dalam kalender Islam.

Pada masa Nabi Muhammad, awal bulan ditentukan melalui rukyatul hilal, yakni observasi langsung terhadap munculnya bulan sabit.

Rasulullah pernah bersabda agar umat Islam memulai puasa dan berbuka berdasarkan pengamatan hilal.

Namun ketika ilmu astronomi berkembang pesat pada era kejayaan Islam, muncul metode hisab atau perhitungan astronomi yang menghitung posisi bulan secara matematis.

Sejak saat itu, perdebatan antara metode rukyat dan hisab terus berlangsung di dunia Islam hingga hari ini, termasuk di Indonesia.

Sejarah Tahun Baru Islam sesungguhnya bukan sekadar soal pergantian angka kalender. Keputusan menjadikan hijrah sebagai awal penanggalan menunjukkan bahwa Islam menempatkan perjuangan, transformasi sosial, dan pembangunan masyarakat sebagai inti perjalanan sejarah umat.

Kalender Hijriah lahir bukan hanya untuk menghitung waktu, tetapi menjadi simbol bahwa peradaban Islam dibangun melalui pengorbanan, migrasi, solidaritas, dan visi besar membangun masyarakat yang berkeadilan.

Karena itu, setiap datang 1 Muharram, umat Islam sejatinya sedang mengingat kembali momentum lahirnya salah satu babak terpenting dalam sejarah besar peradaban Islam dunia.

Artikel Telah Tayang di : https://minanews.net/mengapa-tahun-baru-islam-dimulai-1-muharram-ini-sejarah-kalender-hijriah/