Subang, Jalancagak.com

utusan sekaligus menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump, meninggalkan Yerusalem pada Senin (17/8) tanpa membawa terobosan dalam upaya mengakhiri perang di Gaza.

ia menggelar pembicaraan dengan para pemimpin Israel dan Hamas, tapi kedua pihak tetap bertahan pada tuntutan masing-masing.

Israel terus melancarkan serangan udara dan memperluas penguasaan wilayah di Gaza, sementara Hamas tetap menolak melucuti persenjataannya.

Kushner menyebut pertemuannya yang berlangsung hampir empat jam dengan Netanyahu berjalan "baik". Ia juga mengatakan perwakilan Hamas menyampaikan "hal-hal yang tepat".

Anda tahu, dalam waktu sesingkat 30 hari, semoga mulai menarik sebagian senjata dan, semoga, Anda tahu, menutup sebagian terowongan dalam 60 hingga 90 hari ke depan," kata Kushner kepada Fox News.

Trump mengumumkan bahwa Hamas telah menyetujui pelucutan senjata secara bertahap berdasarkan peta jalan 15 poin yang disusun Dewan Perdamaian. Rencana tersebut juga mencakup penarikan pasukan Israel dari Gaza.

menegaskan pelaksanaannya bergantung pada langkah Israel untuk terlebih dahulu memenuhi komitmennya, termasuk menghentikan serangan militer dan menarik pasukan dari Gaza.

kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa Netanyahu dan perwakilan Dewan Perdamaian (Board of Peace) telah melakukan pembicaraan yang "mendalam dan konstruktif" di Yerusalem pada Senin (17/08).

satu mengenai pelucutan senjata dan demiliterisasi Gaza, yang menurut Israel dan Dewan Perdamaian harus segera dilaksanakan dan diselesaikan sebelum rekonstruksi apa pun dilakukan di Gaza," kata kantor Netanyahu dalam sebuah pernyataan yang dilihat oleh Tania Krmer dari DW di Yerusalem.

air bersih, dan isu-isu kesehatan masyarakat lainnya bagi warga Gaza, yang juga berdampak pada warga Israel," tambahnya.

jadwal pelaksanaannya, serta nasib persenjataan yang diserahkan selama ini menjadi salah satu isu yang terus diperdebatkan dalam pembicaraan.

kantor berita Reuters mengutip seorang pejabat Dewan Perdamaian yang menggambarkan pertemuan dengan Netanyahu sebagai "panjang, mendalam, dan sangat produktif". Pejabat yang tidak disebutkan namanya itu mengatakan bahwa para pihak telah mencapai kesepakatan mengenai langkah selanjutnya, meski tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Dewan Perdamaian belum memberikan pernyataan resmi kepada publik.

Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir kembali menuai sorotan setelah menyerukan pembunuhan lebih banyak warga Palestina melalui operasi yang disebutnya sebagai "pembunuhan terarah".

Pernyataan itu disampaikan politikus sayap kanan tersebut dalam sebuah podcast bersama mantan sandera Gaza yang ditayangkan pada Sabtu (15/08) malam.

dengan menyingkirkan 30 hingga 40 orang setiap malam," katanya, seraya menegaskan bahwa yang dimaksud tidak hanya anggota kelompok militan.

"Bukan hanya mereka yang menimbulkan ancaman langsung; ada orang-orang di sana yang tidak layak hidup. Mereka tidak seharusnya hidup. Mereka bahkan bukan manusia."

ia selama ini dikenal menentang sejumlah rencana Netanyahu terkait pengelolaan Gaza setelah perang berakhir.

Pernyataan Ben-Gvir langsung menuai kecaman dari Iran. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menanggapi pernyataan tersebut melalui unggahan di media sosial pada Senin (17/08) pagi.

"Pengakuan-pengakuan ini harus dicatat dan disimpan untuk hari perhitungan dan untuk persidangan para penjahat ini."

pernyataan-pernyataan serupa dari Ben-Gvir dan sejumlah pejabat Israel lainnya pernah diajukan ke Mahkamah Internasional (ICJ) sebagai bagian dari argumentasi yang menuduh adanya niat genosida terhadap warga Palestina di Gaza. Israel membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa operasi militernya tidak dapat dikategorikan sebagai genosida.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Artikel Telah Tayang di : https://news.detik.com/dw/d-8623998/menantu-trump-temui-netanyahu-tak-ada-terobosan-soal-gaza