PROGRAM KALAM PEMBINA 1 TAHUN

Pekan 48 dari 52 · Naskah narasi · Setiap Senin

Menghargai Perbedaan dan Menjaga Persaudaraan

1364 kata · Estimasi 10–15 menit, menyesuaikan tempo dan jeda.

Daftar 52 pekan

1. Pembukaan

Bismillāhirraḥmānirraḥīm. Alḥamdulillāhi rabbil ‘ālamīn. Waṣṣalātu wassalāmu ‘alā sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah... Bayangkan kita baru duduk di tengah orang-orang yang belum kita kenal. Sebelum sempat menjelaskan diri, seseorang menirukan logat kita dan yang lain tertawa. Kita tersenyum kecil karena tidak ingin suasana menjadi canggung, tetapi sesudah itu kita lebih memilih diam. Mungkin kita pernah mengalami keadaan seperti ini. Mungkin kita juga pernah ikut tertawa tanpa memikirkan orang yang sedang menjadi bahan candaan. Hari ini, mari memberi ruang bagi ingatan itu tanpa harus menyebut nama siapa pun.

Pekan lalu kita belajar menjaga ucapan di layar. Sekarang kita membawa kehati-hatian itu ke orang yang duduk di hadapan kita. Ia mungkin memiliki kebiasaan, pendapat, atau keyakinan yang berbeda. Kita tetap boleh memegang prinsip dan menyatakan batas dengan jelas. Saudaraku... Mendengarkan tidak mewajibkan kita menyetujui, dan penghormatan tidak meminta siapa pun mengganti keyakinan agar diterima. Kita ingin belajar mengenal manusia sebelum menilainya, memberi kesempatan menjelaskan, serta bekerja bersama pada kebutuhan yang memang dapat disepakati. Mari periksa apakah kehadiran kita memberi ruang itu atau justru membuat seseorang takut berbicara.

2. Perbedaan yang Mengajak Kita Saling Mengenal

Allah memberi arah saling mengenal dalam perbedaan bangsa dan suku. Dalam Surah al-Hujurat ayat 13, Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Bacaan Latin

Yā ayyuhan-nāsu innā khalaqnākum min żakariw wa unṡā wa ja‘alnākum syu‘ūbaw wa qabā'ila lita‘ārafū, inna akramakum ‘indallāhi atqākum, innallāha ‘alīmun khabīr(un).

Artinya

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.”

QS. Al-Hujurat (49):13 · Sumber teks Arab, Latin, dan terjemahan

Hadirin yang berbahagia... Kita mungkin mengetahui asal seseorang, tetapi belum pernah mendengar ceritanya. Ayat ini mengarahkan perbedaan bangsa dan suku kepada saling mengenal, serta mengingatkan bahwa kemuliaan di sisi Allah berkaitan dengan ketakwaan. Kita tidak berhak merasa lebih mulia hanya karena nama keluarga atau bahasa kita. Berilah kesempatan kepada orang lain menjelaskan dirinya. Jangan terburu-buru menganggap satu kebiasaan yang asing sebagai ukuran seluruh dirinya, apalagi mengumumkan kelompok kita paling bertakwa sementara kita belum memeriksa cara kita memperlakukan sesama.

Kemuliaan di sisi Allah dikaitkan dengan ketakwaan. Ini mengingatkan kita agar tidak menjadikan ukuran lahiriah sebagai alat menyombongkan diri. Kita juga tidak mengetahui seluruh isi hati seseorang. Karena itu, ayat ini tidak patut dipakai untuk mengumumkan bahwa kelompok kita pasti paling bertakwa. Kita justru perlu memeriksa tindakan sendiri: apakah kita jujur, adil, dan menjaga orang dari perlakuan merendahkan?

Dalam kehidupan bersama, saling mengenal dapat dimulai dari hal sederhana. Tanyakan bagaimana nama teman diucapkan dengan benar. Dengarkan kebutuhan teman yang tidak bisa mengikuti jadwal tertentu. Bedakan sesuatu yang benar-benar merugikan dari sesuatu yang hanya tidak biasa bagi kita. Jika ada tindakan berbahaya, kita boleh menjaga batas dan meminta bantuan tanpa menghina asal atau identitas pelakunya.

3. Memberi Saudara Kita Kebaikan yang Kita Harapkan

Rasulullah membimbing kita menjaga keinginan baik dalam persaudaraan. Beliau bersabda dalam hadis sahih riwayat al-Bukhari nomor 13:

لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Bacaan Latin

Lā yu’minu aḥadukum ḥattā yuḥibba li’akhīhi mā yuḥibbu linafsihi.

Artinya

“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri.”

Sahih al-Bukhari no. 13 · Matan inti lengkap tanpa sanad. Kata “sempurna” menjelaskan maksud penafian iman dalam terjemahan. Latin adalah bantuan membaca dengan akhir kata terakhir dibaca berhenti; bukan pedoman tajwid resmi. Teks sumber

Saudara-saudaraku... Ketika penjelasan kita dipotong, kita berharap mendapat kesempatan melanjutkan. Ketika kita dinilai dengan prasangka, kita berharap diperlakukan adil. Hadis ini mengajak kita mencintai bagi saudara kita apa yang kita cintai bagi diri sendiri. Dalam persaudaraan sesama Muslim, keinginan baik itu perlu terlihat dalam pemberian kesempatan dan kesediaan mendengar. Kita juga menjaga penghormatan kepada tetangga yang berbeda keyakinan, tanpa mengubah bunyi hadis menjadi kutipan baru. Pergaulan yang hormat tidak boleh dijadikan alasan memaksa siapa pun mengikuti keyakinan atau ibadah kita.

Hadis ini berbicara tentang persaudaraan; ayat yang kita baca juga memberi arah saling mengenal dalam keberagaman manusia. Kita tidak perlu mengubah bunyi hadis menjadi ucapan yang tidak ada di dalam sumber untuk memperluas renungan kehidupan bersama. Kita dapat menjaga persaudaraan sesama Muslim sekaligus memperlakukan tetangga yang berbeda keyakinan dengan hormat. Tidak memaksa keyakinan dan tidak menyebarkan kebencian adalah sikap yang kita pegang dalam pergaulan ini.

4. Kisah Inspiratif: Jadwal yang Disusun Ulang

Ilustrasi rekaan untuk pembelajaran, bukan riwayat sejarah.

Cerita ini adalah ilustrasi rekaan. Sekelompok warga muda ingin merapikan tempat baca bersama. Damar menjadi pengatur jadwal. Ia memilih waktu yang nyaman bagi teman-teman terdekatnya, lalu menganggap orang yang tidak datang kurang peduli. Ketika Maya menyampaikan keberatan, Damar merasa usulnya ditolak. Ia hampir menuliskan bahwa anggota tertentu hanya pandai mencari alasan.

Maya menjelaskan bahwa sebagian anggota bekerja pada waktu yang dipilih. Seorang anggota juga mempunyai kegiatan keagamaan yang tidak dapat ia tinggalkan. Ada pula yang harus menjaga adiknya. Damar baru menyadari bahwa ia belum menanyakan keadaan mereka. Ia mengusulkan pembicaraan singkat agar setiap orang dapat menjelaskan waktu dan tugas yang sanggup dilakukan, tanpa diminta membuktikan keyakinan atau persoalan keluarganya.

Mereka akhirnya membagi pekerjaan dalam dua waktu. Anggota yang tidak bisa hadir saat merapikan rak membantu memeriksa daftar buku dari rumah. Damar tetap menjalankan ibadah sesuai keyakinannya, dan anggota lain tidak diminta mengikuti ibadah tersebut agar diterima dalam kegiatan. Kerja sama mereka mempunyai tujuan yang jelas: ruang baca aman dan buku mudah ditemukan. Perbedaan tidak dijadikan bahan ejekan.

Pada hari pelaksanaan, masih ada perbedaan pendapat tentang letak meja. Damar meminta semua orang menjelaskan alasan sebelum keputusan dibuat. Ia juga meminta maaf karena sebelumnya menganggap orang yang berhalangan sebagai orang yang tidak peduli. Ia tidak berubah menjadi orang yang selalu setuju. Ia belajar bahwa keputusan lebih layak dihormati ketika orang yang terdampak mendapat kesempatan untuk didengar.

5. Renungan — Adakah Ruang untuk Menjelaskan Diri?

Saudaraku... Ingatlah seseorang yang pendapatnya berbeda dari kita; mari renungkan apakah selama ini ia sungguh mendapat kesempatan menjelaskan, tanpa harus takut direndahkan atau dipaksa.

Saudara-saudari, perbedaan sering terasa sulit ketika kita takut kehilangan tempat. Kita mungkin menganggap pendapat lain sebagai serangan terhadap diri sendiri. Karena itu, latihan pertama adalah memisahkan manusia dari pendapat yang sedang dibahas. Kita boleh menilai suatu usul kurang tepat tanpa menyebut pengusulnya bodoh. Kita boleh menjelaskan batas keyakinan tanpa mempermalukan orang yang memilih berbeda.

Penghormatan juga bukan kewajiban untuk bertahan dalam penghinaan. Jika percakapan mengarah pada ancaman atau kekerasan, hentikan dengan cara aman dan cari bantuan. Jangan memaksa orang yang disakiti segera berdamai demi menjaga penampilan kelompok. Hubungan yang baik memerlukan perlindungan dan tanggung jawab. Menjaga persaudaraan berarti bersedia menghentikan perlakuan buruk, termasuk ketika pelakunya teman dekat kita sendiri.

Cobalah memperhatikan siapa yang sering tidak mendapat giliran bicara. Mungkin ia pendatang baru, berbicara pelan, atau dianggap berbeda oleh mayoritas. Kita dapat memberinya ruang tanpa menjadikan dia wakil seluruh suku atau keyakinannya. Seorang manusia boleh menjelaskan pengalaman pribadi tanpa dibebani mewakili jutaan orang. Belajar mengenal membutuhkan kerendahan hati untuk menerima bahwa pengetahuan kita tentang sesama masih terbatas.

Mari berhenti sejenak dan menjawab dalam hati. Perbedaan apa yang selama ini paling mudah membuat saya berprasangka? Apakah saya memberi orang lain kesempatan menjelaskan dirinya? Bagaimana saya menjaga prinsip tanpa merendahkan manusia?

6. Penutup — Ajakan Nyata

Saudara-saudaraku yang saya hormati, sebelum kita mengakhiri kalam hari ini, mari membawa pulang tiga komitmen yang dapat dilaksanakan selama tujuh hari.

Pertama, dalam tujuh hari, lakukan satu percakapan sedikitnya sepuluh menit dengan teman yang berbeda kebiasaan atau latar belakang. Dengarkan tanpa memotong dan catat dua hal yang baru dipahami tanpa membuka rahasianya.

Kedua, selama tujuh hari, periksa ucapan sendiri setiap malam. Catat apakah ada ejekan terhadap identitas atau keyakinan, hentikan kebiasaan itu, dan lakukan satu permintaan maaf bila ada ucapan yang perlu diperbaiki.

Ketiga, sebelum Senin berikutnya, dalam satu kegiatan bersama, ajukan satu penyesuaian yang memberi kesempatan adil kepada anggota yang biasanya terabaikan. Tanyakan persetujuannya tanpa memaksa keyakinan atau ibadahnya.

Saudara-saudaraku yang saya hormati... Kita tidak harus pulang dengan pendapat yang seragam. Kita ingin pulang dengan kesediaan menjaga martabat ketika pendapat berbeda. Jika ada penghinaan atau ancaman, carilah perlindungan dan bantuan; jangan memaksa orang yang disakiti segera berdamai demi suasana yang tampak rukun. Pada Senin berikutnya kita meninjau latihan mendengar ini, lalu belajar membagikan ilmu dengan bijaksana. Semoga kesediaan kita menghormati hari ini menjadi bekal untuk menjelaskan dengan sabar kepada orang yang kelak datang membawa pertanyaan.

Doa Penutup

Ya Allah, kami bersyukur atas kesempatan mengenal sesama manusia. Teguhkanlah iman kami dan jauhkan kami dari kesombongan yang membuat kami merendahkan orang lain. Ajari kami mendengarkan dengan sabar, berbicara dengan jujur, dan menjaga batas dengan santun. Lindungilah masyarakat kami dari kebencian dan pemaksaan. Berilah keberanian untuk membela orang yang diperlakukan tidak adil, serta kebijaksanaan agar kami tidak menambah permusuhan. Bimbing keluarga dan lingkungan kami agar dapat bekerja bersama dalam kebaikan. Jadikan perbedaan yang kami jumpai alasan untuk belajar mengenal, bukan alasan untuk saling menyakiti. Amin.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Doa tematik disusun untuk materi ini, bukan kutipan doa khusus Nabi.