PROGRAM KALAM PEMBINA 1 TAHUN

Pekan 46 dari 52 · Naskah narasi · Setiap Senin

Sederhana dan Tidak Berlebihan

1336 kata · Estimasi 10–15 menit, menyesuaikan tempo dan jeda.

Daftar 52 pekan

1. Pembukaan

Bismillāhirraḥmānirraḥīm. Alḥamdulillāhi rabbil ‘ālamīn. Waṣṣalātu wassalāmu ‘alā sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah... Kita membuka lemari untuk mengambil barang, tetapi justru sibuk memindahkan tumpukan yang jarang dipakai. Ada yang dahulu terasa sangat perlu, lalu terlupakan sesudah beberapa hari. Pernahkah kita membeli sesuatu karena takut tertinggal, bukan karena sungguh membutuhkannya? Perasaan itu layak dikenali dengan jujur. Kita mungkin ingin merasa diterima atau terhibur setelah hari yang berat. Namun, belum tentu barang baru dapat memenuhi kebutuhan hati yang sedang kita rasakan.

Pekan lalu kita belajar menjaga usaha yang jujur. Kini, mari menimbang cara menggunakan hasil dan nikmat. Sederhana tidak berarti semua orang harus membeli barang paling murah atau makan dengan porsi sama. Kebutuhan tubuh, pekerjaan, dan keluarga berbeda. Kita tidak berhak mengomentari tubuh atau menilai keuangan seseorang hanya dari yang tampak.

Saudaraku... Bagi yang sudah serba terbatas, kebutuhan penting jangan dikurangi lagi atas nama kesederhanaan. Kita tetap boleh menikmati hal baik dan beristirahat. Mari memeriksa pilihan sendiri: apakah sesuatu sungguh membantu kehidupan kita, atau mengambil ruang dari kebutuhan yang lebih penting untuk dipenuhi?

2. Menikmati Nikmat tanpa Berlebih-lebihan

Allah Subhanahu wa Ta'ala memberi tuntunan tentang kepantasan berpakaian, makan, dan minum. Dalam Surah Al-A'raf ayat 31, Allah berfirman:

۞ يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ ࣖ

Bacaan Latin

Yā banī ādama khużū zīnatakum ‘inda kulli masjidiw wa kulū wasyrabū wa lā tusrifū, innahū lā yuḥibbul-musrifīn(a).

Artinya

“Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”

QS. Al-A'raf (7):31 · Sumber teks Arab, Latin, dan terjemahan

Hadirin yang berbahagia... Dalam ayat ini ada ruang untuk berpakaian pantas, makan, dan minum, disertai larangan berlebih-lebihan. Kita tidak diminta menolak nikmat, melainkan menggunakannya dengan tanggung jawab. Mari melihat kebiasaan sendiri: makanan yang diambil lalu terbuang, atau pembelian yang menggeser kebutuhan utama. Kita bisa mengambil secukupnya dahulu dan merawat barang yang masih layak. Namun, jangan menetapkan ukuran orang lain dari luar. Kebutuhan khusus tetap dihormati; nasihat ini tidak memberi kita alasan memaksa porsi makan yang sama kepada semua orang.

Batas tidak berlebihan tidak tepat ditetapkan hanya dengan melihat orang lain dari luar. Kita perlu jujur terhadap keadaan sendiri: apakah pembelian ini mengganggu kebutuhan utama, apakah makanan yang diambil sering terbuang, atau apakah waktu habis mengejar barang yang sebenarnya tidak diperlukan? Pertanyaan seperti ini mengarahkan tanggung jawab tanpa mempermalukan. Jika ada kebutuhan khusus, kita menghormatinya dan tidak membuat aturan makan atau belanja yang seragam bagi semua orang.

3. Kesehatan dan Waktu yang Jangan Terabaikan

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengingatkan tentang dua nikmat dalam hadis sahih riwayat al-Bukhari nomor 6412:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Bacaan Latin

Ni‘matāni magbūnun fīhimā kaṡīrun minan-nāsi, aṣ-ṣiḥḥatu wal-farāgu.

Artinya

“Ada dua nikmat yang banyak orang merugi dalam memanfaatkannya: kesehatan dan waktu luang.”

Sahih al-Bukhari no. 6412 · Matan inti lengkap; sanad tambahan sesudahnya tidak dikutip. Latin adalah bantuan membaca dengan akhir kata terakhir dibaca berhenti; bukan pedoman tajwid resmi. Teks sumber

Saudaraku... Kita mungkin cermat menghitung uang, tetapi tidak terasa kehilangan waktu saat terus melihat barang yang belum dibutuhkan. Hadis ini mengingatkan perhatian kepada kesehatan dan waktu luang. Kesederhanaan dapat membantu kita menyediakan waktu untuk keluarga, tugas, atau istirahat yang diperlukan. Seluruh menit tidak harus menghasilkan pekerjaan, dan sakit bukan alasan untuk menyalahkan seseorang seolah ia kurang menghargai nikmat. Mari meninjau pilihan yang berada dalam kendali sendiri dengan tenang, agar jeda benar-benar memulihkan, bukan membuat kita terus terbawa hingga kelelahan.

Namun, memanfaatkan waktu bukan berarti seluruh menit harus menghasilkan pekerjaan. Istirahat yang diperlukan bukan kesia-siaan, dan orang yang sakit tidak boleh dipersalahkan seolah kurang menghargai nikmat. Kita meninjau pilihan yang memang berada dalam kendali kita. Apakah kita sengaja mengambil jeda agar pulih, atau terus terbawa kegiatan yang membuat kita lelah tanpa terasa? Perbedaan itu bisa dikenali dengan tenang, bukan melalui hukuman terhadap diri sendiri.

4. Kisah Inspiratif: Sebelum Membeli Tas Baru

Ilustrasi rekaan untuk pembelajaran, bukan riwayat sejarah.

Berikut adalah ilustrasi rekaan. Seno melihat tas baru yang sering muncul di layar teleponnya. Ia membayangkan akan lebih percaya diri jika memakainya. Tas yang sekarang masih bisa digunakan, tetapi tali salah satu kantongnya mulai longgar. Seno hampir membeli sebelum memeriksa uang yang sudah disiapkan untuk ongkos dan perlengkapan belajar. Ia kemudian memutuskan menunggu satu hari agar bisa berpikir lebih jernih.

Ia memeriksa tas lama dan meminta bantuan memperbaiki bagian yang longgar. Sesudah diperbaiki, tas itu kembali nyaman. Seno tidak menganggap dirinya lebih baik daripada teman yang membeli tas baru. Ia hanya menyadari bahwa untuk kebutuhannya saat ini, pembelian tersebut belum mendesak. Ia menyimpan uangnya untuk kebutuhan yang sudah direncanakan dan berhenti membuka halaman barang itu setiap kali ada waktu kosong.

Beberapa hari kemudian, Seno mendengar bahwa seorang teman membutuhkan tas dengan penyangga yang berbeda untuk kenyamanan tubuhnya. Ia tidak menasihati temannya agar memakai tas lama saja. Ia memahami bahwa kebutuhan mereka tidak sama. Kesederhanaan yang sedang ia pelajari tidak memberi izin untuk menentukan keputusan orang lain. Ia juga tidak membanggakan pilihan menunda membeli sebagai bukti bahwa dirinya paling hemat.

Pada akhir pekan, Seno menemukan waktu untuk merapikan catatan dan berjalan santai bersama keluarganya. Tidak ada janji bahwa menunda pembelian langsung mengubah seluruh hidupnya. Ada kalanya ia masih tertarik pada barang baru. Namun, ia mulai memiliki jeda antara keinginan dan keputusan. Jeda itu membuatnya bisa menikmati yang sudah dimiliki, memenuhi kebutuhan nyata, dan tetap memberi ruang bagi kesenangan yang tidak berlebihan.

5. Renungan — Apa yang Sungguh Kita Butuhkan?

Hadirin yang dirahmati Allah... Ingatlah satu keinginan yang sedang kuat, lalu dengarkan kebutuhan di baliknya; mungkin ada nikmat yang sudah tersedia dan menunggu kita rawat.

Mari bertanya kepada diri sendiri: apa yang sebenarnya kita cari ketika ingin menambah sesuatu? Kadang kita membutuhkan barangnya. Kadang kita ingin merasa diterima, tidak tertinggal, atau sedikit terhibur setelah hari yang berat. Perasaan itu tidak perlu dicemooh. Tetapi kita dapat mengenalinya agar keputusan tidak selalu diserahkan kepada dorongan belanja. Bila yang kita perlukan adalah pertemanan atau istirahat, barang baru mungkin tidak menjawab kebutuhan itu.

Kesederhanaan juga terlihat pada cara merawat, bukan hanya cara mengurangi. Membersihkan barang, memperbaiki yang masih layak, dan mengatur penyimpanan membantu kita menggunakan apa yang sudah ada. Jika ingin memberikan barang kepada orang lain, tanyakan kebutuhannya dan periksa kondisinya. Jangan memindahkan tumpukan barang yang tidak layak kepada seseorang lalu menyebutnya bantuan. Orang lain berhak menerima sesuatu yang berguna, atau menolak jika tidak sesuai.

Dalam hal makan, kita dapat mulai dari tidak mengambil melebihi yang dapat dihabiskan, sambil tetap memenuhi kebutuhan tubuh. Tidak perlu membandingkan porsi atau membatasi orang yang memerlukan makanan lebih banyak. Dalam hal waktu, kita dapat memeriksa satu kebiasaan layar tanpa melarang semua hiburan. Pilih batas yang masuk akal. Tujuannya bukan hidup yang kaku, melainkan hidup yang memberi cukup ruang untuk kebutuhan, tanggung jawab, dan kegembiraan yang sehat.

Mari berhenti sejenak dan menjawab dalam hati. Apakah keinginan saya saat ini sama dengan kebutuhan saya? Nikmat apa yang dapat saya rawat sebelum mencari tambahan? Bagaimana saya berlatih sederhana tanpa menghakimi kebutuhan orang lain?

6. Penutup — Ajakan Nyata

Saudara-saudaraku yang saya hormati, sebelum kita mengakhiri kalam hari ini, mari membawa pulang tiga komitmen yang dapat dilaksanakan selama tujuh hari.

Pertama, dalam tujuh hari, beri jeda dua puluh empat jam sebelum satu pembelian yang tidak mendesak. Tulis kebutuhan yang hendak dipenuhi, cek barang yang sudah ada, lalu putuskan tanpa mengganggu kebutuhan utama.

Kedua, sebelum hari ketujuh, pilih satu barang yang masih berguna untuk dibersihkan, dirapikan, atau diperbaiki secara aman. Gunakan kembali setidaknya sekali; jangan menyerahkan barang milik orang lain tanpa izin.

Ketiga, pada tiga hari pekan ini, hentikan penelusuran belanja atau hiburan layar dua puluh menit lebih awal dari kebiasaan. Gunakan waktu itu untuk istirahat, hubungan keluarga, atau tugas kecil yang kita pilih sendiri. Mari memberi ruang, tanpa melarang seluruh kesenangan.

Saudara-saudaraku... Menunda membeli tidak menjadikan kita lebih baik daripada orang lain. Kita sedang belajar mengenali kebutuhan sendiri dan menikmati yang masih dapat digunakan. Jangan kurangi makanan penting, obat, atau kebutuhan keluarga demi terlihat sederhana. Biarlah satu pilihan yang lebih sadar memberi kita waktu untuk beristirahat dan hadir bagi sesama. Pekan depan kita membawa akhlak ke ruang digital. Jeda yang kita latih hari ini juga dapat membantu kita tidak langsung mengikuti setiap dorongan yang muncul di layar.

Doa Penutup

Ya Allah, ajari kami mensyukuri nikmat dengan menggunakannya secara bijak. Jauhkan kami dari pemborosan, keinginan pamer, dan kebiasaan membandingkan hidup dengan orang lain. Berikan kepada kami kejernihan untuk membedakan kebutuhan dan keinginan, serta kesabaran untuk merawat yang sudah kami miliki. Bimbing kami menjaga waktu, memenuhi kebutuhan tubuh, dan beristirahat dengan baik. Lapangkan keadaan mereka yang masih kekurangan dan jauhkan kami dari sikap meremehkan kebutuhan mereka. Jadikan kesederhanaan kami jalan untuk lebih bertanggung jawab dan lebih peduli. Amin.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Doa tematik disusun untuk materi ini, bukan kutipan doa khusus Nabi.