Subang, Jalancagak.com Mahasiswa di Prancis yang terlibat dalam aktivisme pro-Palestina mengaku menghadapi berbagai bentuk ancaman, mulai dari penangkapan, denda besar, proses disipliner kampus, hingga intervensi polisi yang keras selama demonstrasi menentang perang Israel di Gaza.

Gerakan solidaritas yang dimulai sejak 2024 dan 2025 ini terus berlanjut meski tekanan meningkat. Beberapa aksi bahkan menarik perhatian media internasional setelah polisi turun tangan secara brutal.

Pada demonstrasi pro-Palestina di Universitas Sorbonne pada Mei 2024, sebanyak 88 aktivis, termasuk mahasiswa, ditahan oleh aparat.

Sementara itu, dalam aksi protes terbaru pada 14 April 2026 menentang RUU Yadan yang dianggap akan menghukum aktivisme anti-Zionis di kampus, 4 mahasiswa ditahan dan lebih dari 70 lainnya dikenai denda masing-masing 400 euro (sekitar Rp8,2 juta). Total denda yang dikeluarkan setelah protes tersebut mencapai lebih dari 35.000 euro (Rp720 juta lebih).

RUU Yadan sendiri akhirnya ditarik pada 16 April setelah mendapat kecaman luas.

Rania, mahasiswa Prancis dan anggota Komite Palestina Universitas Sorbonne, mengatakan bahwa tekanan terhadap aktivis pro-Palestina kini berubah bentuk.

“Kami sekarang dapat melihat bahwa negara mencoba menyerang kami secara finansial daripada melalui penahanan, seperti yang dilakukan satu atau dua tahun lalu,” ujarnya. Seperti disebutkan Anadolu, Selasa (16/6).

Ia juga menyoroti bahwa polisi dapat menghentikan dan menahan mahasiswa tanpa kesulitan, serta menuduh Universitas Sorbonne bekerja sama dengan perusahaan senjata Prancis dan universitas Israel yang mendukung aktivitas militer.

Mahasiswa menuntut universitas untuk memutus hubungan dengan entitas-entitas tersebut, serta mengatasi hambatan yang dihadapi mahasiswa Gaza yang ingin melanjutkan studi di Prancis.

“Saya tidak berpikir ada masalah lain yang menghadapi tingkat penindasan ini, setidaknya selama hidup saya. Bahkan polisi memasuki universitas dan menahan mahasiswa dapat dianggap sebagai peristiwa bersejarah karena tidak ada preseden untuk itu,” ujarnya.

Sofia, anggota Federasi Serikat Mahasiswa, mengatakan demonstrasi 14 April berlangsung lebih dari enam jam sebelum polisi akhirnya memasuki kampus.

“Polisi dengan kekerasan mengeluarkan mahasiswa, memukul mereka, dan ada serangan rasis,” ujar Sofia.

Ia juga menuduh petugas memotret kartu identitas siswa dan mengancam penahanan ketika siswa menolak memberikan alamat atau nomor telepon. Meskipun menghadapi tekanan, Sofia menegaskan bahwa mahasiswa akan terus berkampanye menentang kemitraan universitas Prancis dengan perusahaan senjata.

“Kami akan terus berjuang untuk kebebasan rakyat Palestina meskipun ada penindasan dan meskipun universitas benar-benar terlibat,” ujarnya.

Ibrahim, anggota Pemuda Komunis, mengatakan bahwa dua demonstrasi besar telah digelar di Sorbonne tahun ini dengan jarak dua minggu. Ia menyebut respons polisi terhadap protes pertama “sangat represif.”

Beberapa mahasiswa bahkan dirujuk ke dewan disiplin kampus karena memajang bendera Palestina di tangga universitas dan memasang poster pro-Palestina.

“Ini mencerminkan lingkungan yang kita tinggali saat ini. Administrasi universitas, negara borjuis, dan pasukan polisi yang sangat represif bekerja bahu-membahu untuk membungkam semua suara yang berbicara menentang genosida di Palestina dan untuk kebebasan Palestina,” katanya.

Dihapus dari Grup Kelas Karena Tolak Zionisme

Sofia juga menyoroti kasus Teba, seorang mahasiswa berusia 18 tahun di Universitas Paris 1 Panthéon-Sorbonne, yang dibawa ke pengadilan kampus setelah menghapus dari grup media sosial kelas orang-orang yang mengikuti akun tentara Israel.

“Mereka menuduhnya antisemitisme, meskipun satu-satunya hal yang dia lakukan adalah menolak Zionisme,” tuturnya.

Meskipun menghadapi tekanan, penindasan, dan ancaman finansial, mahasiswa Prancis tetap bersuara. Mereka menolak diam di tengah genosida yang terus berlangsung di Gaza. Bagi mereka, membela Palestina bukan sekadar pilihan, tetapi kewajiban moral dan kemanusiaan yang tidak bisa dibungkam oleh denda atau ancaman penahanan.

Artikel Telah Tayang di : https://minanews.net/mahasiswa-prancis-hadapi-ancaman-akibat-aksi-pro-palestina/