Legislator PKS: Dukung Program KKP, Impor Udang Vaname Tidak Diperlukan
JAKARTA — Realisasi impor udang Vaname dari Ekuador dan Argentina tanpa persetujuan dari KKP jelas melukai rasa nasionalisme serta iklim usaha sektor perikanan yang menjadi prioritas nasional. Adanya alasan kawasan berikat serta kekhususan impor harus ditinjau ulang untuk keberpihakan kepada pembudidaya dalam negeri.
“Pasca kasus Cesium-137 terhadap industri udang nasional harusnya menjadi perhatian dan fokus untuk sektor perikanan kelautan berbenah. Beban besar menyejahterakan pembudidaya, nelayan, dan masyarakat pesisir jangan diganggu dengan kebijakan yang tidak sinkron dengan arahan Presiden, apalagi tiba-tiba impor yang sebenarnya kita mampu menyediakan,” papar Riyono Caping, Anggota Legislatif Komisi IV.
Masuknya udang Vaname beku dari Ekuador dan Argentina sebanyak 219 ton atau setara Rp9,8 miliar dengan harga Rp45 ribu/kg melalui pintu pelabuhan Jawa Timur dan Riau digunakan untuk kawasan industri dengan alasan mencari bahan baku yang berkualitas dan harga bersaing.
“Indonesia adalah produsen udang Vaname keempat terbesar dunia, kenapa harus impor? Kan bisa koordinasi dan minta kepada KKP dan kawan-kawan SCI untuk menyediakan kebutuhan udangnya. Kalau hanya 219 ton itu mudah dan Indonesia sangat mampu,” tambah Riyono Caping.
Menurut Ketua DPP PKS Bidang Petani, Peternak dan Nelayan ini, kondisi pembudidaya udang Vaname periode 2025–2026 memiliki tantangan yang tidak mudah. Kenaikan harga pakan, fluktuasi harga udang sering terjadi, serta kondisi perairan atau ekosistem budidaya semakin rumit. Capaian target satu juta ton produksi udang nasional masih belum mampu dicapai. Kemampuan maksimal saat ini baru 300.000–350.000 ton setiap tahun.
“Semua kementerian dan lembaga harus terus bersinergi untuk melaksanakan program prioritas Presiden. Ego sektoral harus dihilangkan untuk kepentingan rakyat. Kalau mau impor pastikan memang kita tidak mampu, ini Indonesia mampu dan ada barangnya, wajib beli dari pembudidaya sendiri dan jangan ke pembudidaya asing,” tegas Riyono Caping.
Kejadian impor udang Vaname periode Mei–Juni 2026 dari Ekuador dan Argentina tidak boleh kembali terulang. Harus ada koordinasi lebih intens untuk membuat kebijakan yang bersentuhan langsung dengan iklim usaha dalam negeri.
“Jika ada rencana kembali untuk impor udang Vaname dari Argentina dan Ekuador, maka saya pastikan untuk menolak dan melakukan re-ekspor karena Indonesia mampu,” tutup Riyono Caping.
Artikel Telah Tayang di : https://pks.id/content/legislator-pks-dukung-program-kkp-impor-udang-vaname-tidak-diperlukan