Lampu masjid Mamluk menyimpan jejak yang melampaui fungsi penerangan. Pada permukaan kaca, hiasan, lambang, dan inskripsi memberi petunjuk tentang lingkungan pembuatannya. Dua lampu abad ke-14 dalam koleksi The Metropolitan Museum of Art memperlihatkan bahwa informasi pada benda tidak selalu sama lengkapnya.

Salah satunya, bernomor koleksi 91.1.1530, memiliki kaki tinggi dan enam lambang berbentuk cawan merah berlatar putih. Museum menjelaskan bahwa cawan itu merupakan lambang pembawa cawan yang melayani Sultan al-Nasir al-Din Muhammad pada masa pemerintahannya tahun 1310–1340. Nama sultan juga tertera dalam tiga bidang bundar di bagian bawah badan lampu.

Identitas patronnya tidak ditetapkan secara pasti: museum menyebut kemungkinan Baktamur al-Muazzami atau Qawsun al-Nasiri. Bentuk lampu dan hiasan bunga teratai mendukung penanggalan 1320–1340. Atribusi wilayahnya adalah Suriah. Petunjuk-petunjuk ini memungkinkan pembacaan sejarah tanpa mengubah kemungkinan menjadi kepastian.

Lampu lain, bernomor 91.1.1539, menunjukkan susunan inskripsi yang berbeda. Menurut museum, salah satu kebiasaan dekorasi lampu Mamluk adalah membuat satu pita tulisan berwarna biru dan pita lainnya berupa tulisan yang disisakan pada latar biru. Leher dan kaki benda ini mengulang ungkapan al-'alim, yang diterjemahkan museum sebagai Yang Bijaksana. Badannya memuat inskripsi persembahan, tetapi tanpa nama.

Benda kedua terbuat dari kaca yang ditiup, diberi email, dan disepuh emas; asalnya diperkirakan Mesir, khususnya Kairo, atau Suriah. Lambangnya belum teridentifikasi. Membandingkan kedua benda membantu pembaca membedakan bukti yang terbaca, atribusi wilayah yang masih tentatif, dan identitas yang belum diketahui. Dalam sejarah seni Islam, bagian yang belum terjawab juga penting dipertahankan.