Korelasi Haji dan Hijrah
Oleh Dr. Deni Rahman, S.Sos. I, M.I Kom, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi pada musim haji 2026 yang bertugas di Sektor 2 Mekkah.
وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِن بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً
“Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah setelah mereka dizalimi, pasti Kami akan memberikan tempat yang baik kepada mereka di dunia.” (QS. An-Nahl: 41)
Ketika umat Islam melaksanakan ibadah haji, perhatian mereka biasanya tertuju pada Ka’bah, Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Namun sedikit yang menyadari bahwa musim haji juga memiliki peran penting dalam salah satu peristiwa terbesar dalam sejarah Islam, yaitu hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah. Jika haji merupakan titik puncak penghambaan kepada Allah, maka hijrah merupakan titik awal lahirnya peradaban Islam. Menariknya, kedua peristiwa tersebut ternyata memiliki korelasi sejarah yang sangat erat.
Untuk memahami hubungan tersebut, kita perlu menengok kembali perjalanan dakwah Rasulullah SAW di Makkah. Selama kurang lebih tiga belas tahun, Rasulullah SAW berdakwah di Makkah menghadapi berbagai bentuk penolakan dan tekanan dari kaum Quraisy. Kaum Muslimin mengalami intimidasi, boikot ekonomi, penyiksaan, bahkan sebagian di antara mereka harus meninggalkan kampung halaman menuju Habasyah demi menyelamatkan keimanan mereka.
Situasi semakin berat setelah wafatnya Abu Thalib dan Khadijah RA, dua sosok yang selama ini menjadi pelindung Rasulullah SAW. Tahun tersebut bahkan dikenal dalam sejarah sebagai ‘Amul Huzn (Tahun Kesedihan). Dalam kondisi itulah Allah mulai membuka jalan baru melalui musim haji.
Pada tahun kesebelas kenabian, Rasulullah SAW memanfaatkan musim haji untuk menemui berbagai kabilah Arab yang datang ke Makkah. Beliau menawarkan Islam kepada mereka dan mencari dukungan bagi dakwah yang beliau emban.
Di antara rombongan yang datang pada musim haji tahun kesebelas kenabian terdapat enam orang dari Yatsrib yang berasal dari suku Khazraj. Selama bertahun-tahun mereka hidup dalam konflik berkepanjangan dengan suku Aus. Setelah mendengar dakwah Rasulullah SAW, mereka menerima Islam dan kembali ke Yatsrib dengan membawa kabar tentang Nabi terakhir yang selama ini sering disebut-sebut oleh kalangan Yahudi di kota mereka.
Setahun kemudian, pada musim haji tahun kedua belas kenabian, datanglah dua belas orang dari Yatsrib untuk bertemu Rasulullah SAW. Pertemuan ini dikenal dalam sejarah sebagai Baiat Aqabah Pertama. Dalam baiat tersebut mereka berjanji untuk beriman kepada Allah, tidak menyekutukan-Nya, tidak mencuri, tidak berzina, dan menaati Rasulullah SAW dalam perkara yang baik. Peristiwa ini menjadi tonggak penting karena untuk pertama kalinya dakwah Islam mendapatkan dukungan yang terorganisir dari luar Makkah.
Setelah baiat tersebut, Rasulullah SAW mengutus seorang sahabat muda yang luar biasa, yaitu Mush’ab bin Umair RA, untuk mengajarkan Islam kepada penduduk Yatsrib. Pilihan Rasulullah SAW kepada Mush’ab bukan tanpa alasan. Ia dikenal cerdas, lembut, fasih berbicara, dan memiliki kemampuan komunikasi yang sangat baik. Dalam waktu kurang dari satu tahun, Mush’ab berhasil menyebarkan Islam secara luas di Yatsrib.
Rumah-rumah yang sebelumnya belum mengenal Islam mulai menerima dakwah. Tokoh-tokoh besar seperti Sa’ad bin Mu’adz dan Usaid bin Hudhair masuk Islam. Pengaruh Islam pun berkembang pesat di kota tersebut. Musim haji berikutnya menjadi momentum yang jauh lebih besar.
Pada tahun ketiga belas kenabian, sebanyak tujuh puluh tiga laki-laki dan dua perempuan dari Yatsrib datang menemui Rasulullah SAW secara rahasia di Aqabah. Peristiwa ini dikenal sebagai Baiat Aqabah Kedua.
Jika Baiat Aqabah Pertama berisi komitmen keislaman, maka Baiat Aqabah Kedua berisi komitmen perlindungan dan dukungan dakwah totalitas. Mereka berjanji akan melindungi Rasulullah SAW sebagaimana mereka melindungi keluarga mereka sendiri. Inilah titik yang sangat menentukan.
Menarik untuk dicermati bahwa pertemuan antara Rasulullah SAW dengan penduduk Yatsrib yang melahirkan Baiat Aqabah Pertama dan Baiat Aqabah Kedua berlangsung di sebuah tempat bernama Aqabah, yaitu kawasan yang berada di Mina. Tempat ini tidak jauh dari lokasi yang saat ini dikenal oleh jamaah haji sebagai tempat pelaksanaan lontar Jumrah Aqabah. Kawasan yang setiap tahun dipadati jutaan jamaah haji tersebut memang menyimpan makna ritual haji, ternyata juga memiliki nilai sejarah yang sangat penting dalam perjalanan dakwah Islam.
Dari sudut pandang sejarah, Aqabah dapat disebut sebagai salah satu titik awal lahirnya masyarakat Madinah. Di tempat itulah Rasulullah SAW bertemu dengan sekelompok penduduk Yatsrib yang kemudian menerima Islam dan berbaiat kepada beliau. Dari pertemuan yang tampak sederhana itu, lahirlah rangkaian peristiwa besar yang mengubah sejarah dunia. Dakwah Mush’ab bin Umair di Yatsrib, berkembangnya Islam di Madinah, Baiat Aqabah Kedua, hingga hijrahnya Rasulullah SAW dan para sahabat ke kota tersebut. Aqabah inilah menjadi benih-benih peradaban Islam mulai ditanam.
Karena itu, ketika jamaah haji melontar Jumrah Aqabah, mereka sesungguhnya sedang berada di kawasan yang memiliki dua dimensi sekaligus. Pertama, dimensi ibadah yang mengingatkan pada perlawanan terhadap godaan setan sebagaimana jejak Nabi Ibrahim AS. Kedua, dimensi sejarah yang mengingatkan pada perjuangan Rasulullah SAW dalam membangun masa depan Islam melalui hijrah. Jika lontar jumrah melambangkan keberanian menolak keburukan, maka peristiwa Baiat Aqabah mengajarkan keberanian untuk menerima kebenaran dan memperjuangkannya. Keduanya sama-sama mengandung pesan perubahan, pengorbanan, dan komitmen dalam menegakkan agama Allah.
Maka sehrausnya, musim haji tidak hanya menjadi sarana ibadah, tetapi juga menjadi ruang pertemuan yang melahirkan masa depan peradaban Islam. Dari peristiwa inilah terbuka jalan bagi hijrah Rasulullah SAW ke Madinah.
Lalu mengapa Rasulullah SAW memilih Yatsrib, yang kemudian mengubahnya menjadi nama Madinah Al-Munawwaroh? Secara geografis, Madinah berada sekitar 450 kilometer dari Makkah. Kota ini memiliki lahan pertanian yang subur, sumber air yang cukup, dan posisi strategis dalam jalur perdagangan Arab. Namun alasan terpenting bukanlah faktor geografis.
Madinah memiliki masyarakat yang siap menerima Islam. Penduduknya terdiri dari suku Aus dan Khazraj yang telah lama berkonflik dan mendambakan sosok pemersatu. Di sisi lain, keberadaan komunitas Yahudi membuat mereka telah akrab dengan konsep kenabian dan wahyu. Ketika Islam datang, mereka melihat harapan baru untuk mengakhiri konflik yang selama puluhan tahun menguras energi masyarakat.
Setelah mendapat izin dari Allah, kaum Muslimin mulai berhijrah secara bertahap ke Madinah. Kemudian pada bulan Shafar tahun keempat belas kenabian, Rasulullah SAW bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq RA memulai perjalanan hijrah yang monumental.
Hijrah berarti perpindahan tempat tinggal. Hijrah juga adalah transformasi dari fase dakwah menuju fase peradaban. Di Madinah, Rasulullah SAW membangun masjid, membangun masyarakat, mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, menyusun Piagam Madinah sebagai konstitusi sosial. Rasululullah SAW juga membangun sistem ekonomi, pendidikan, dan sistem kemasyarakatan yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Perjalanan haji yang ideal tidak boleh berhenti pada ritual manasik semata. Perjalanan Haji harus melahirkan juga semangat hijrah dalam kehidupan. Hijrah dari keburukan menuju kebaikan. Hijrah dari egoisme menuju kepedulian. Hijrah dari perpecahan menuju Al-Jamaah.
Sebagaimana musim haji dahulu melahirkan hijrah Rasulullah SAW dan lahirnya masyarakat Madinah, semoga haji hari ini juga melahirkan perubahan dalam diri setiap jamaah, sehingga mereka tidak hanya pulang membawa kenangan dari Tanah Suci. Jamaah haji juga membawa semangat membangun peradaban dan kesatuan umat di tengah masyarakat. Amiin.
Artikel Telah Tayang di : https://minanews.net/korelasi-haji-dan-hijrah/