Subang, Jalancagak.com

yang tiba di Belanda pekan lalu untuk memulai program magister di Radboud University.

ia menggambarkan perasaan yang bercampur antara lega dan sedih setelah meninggalkan Gaza.

meninggalkan Gaza adalah salah satu momen tersulit yang pernah saya alami," kata Al-Khatib kepada DW.

Al-Khatib merupakan lulusan Teknik Sistem Komputer Universitas Al-Azhar Gaza pada 2025. Ia mengatakan dua tahun terakhir masa perkuliahannya dijalani dalam kondisi akses internet yang tidak menentu.

satu-satunya tempat untuk mendapatkan sinyal internet adalah atap rumahnya.

berharap bisa bertahan hidup cukup lama untuk menyelesaikannya," ujarnya.

Al-Khatib kini melanjutkan studi di bidang sains data dan kecerdasan buatan.

mungkin lebih baik daripada siapa pun, apa yang sebenarnya dibutuhkan komunitas kami," katanya.

"Itulah alasan saya memilih melanjutkan pendidikan di bidang sains data dan kecerdasan buatan. Mimpi saya adalah membantu membangun sistem teknologi yang tetap andal bahkan selama krisis kemanusiaan dan keadaan darurat."

Mohammad Herzallah, mahasiswa teknik berusia 20 tahun, meninggalkan Gaza pada Senin (29/06) lalu untuk melanjutkan pendidikan di The Hague University of Applied Sciences, Belanda.

saya tidak pernah membayangkan akan meninggalkan Gaza," kata Herzallah kepada DW.

Ia mengaku tidak lagi memikirkan pendidikan maupun rencana kariernya ketika konflik berkecamuk di wilayah tersebut.

saya berhenti memikirkan kuliah atau karier saya."

sehingga saya mengajukan permohonan untuk kuliah di luar negeri meskipun saya tidak ingin meninggalkan keluarga saya," katanya.

organisasi nirlaba berbasis di Amman yang didirikan pada Januari 2024 untuk membantu mahasiswa Gaza melanjutkan pendidikan tinggi.

Mabrookah Heneidi, mengatakan proses keberangkatan mahasiswa kerap terkendala persyaratan administratif di negara tujuan.

dan setiap negara memiliki tantangannya sendiri," kata Heneidi.

proses persetujuan bagi mahasiswa yang akan melanjutkan studi ke Belanda memakan waktu lebih dari delapan bulan. Sejumlah universitas juga mengajukan gugatan hukum terkait proses tersebut.

62 mahasiswa Palestina penerima beasiswa dari Malaysia masih menunggu kepastian keberangkatan.

tetapi tidak dapat meninggalkan Gaza karena Malaysia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel," katanya.

COGAT, badan militer Israel yang menangani koordinasi urusan sipil di Gaza, belum memberikan persetujuan atas permohonan keberangkatan kelompok mahasiswa tersebut.

juru bicara COGAT menyatakan keberangkatan warga Gaza bergantung pada permintaan dari negara ketiga yang bersedia menerima mereka serta proses pemeriksaan keamanan oleh otoritas Israel.

serta penyelesaian pemeriksaan keamanan yang diperlukan oleh otoritas Israel yang berwenang. Sebagian besar permohonan yang diajukan disetujui," demikian pernyataan COGAT.

termasuk pengobatan, kewarganegaraan asing, visa tinggal, dan studi.

COGAT tidak merinci status perizinan bagi 62 mahasiswa penerima beasiswa dari Malaysia.

banyak yang terpaksa menghentikan studi akibat konflik, pengungsian, dan kerusakan fasilitas pendidikan.

para pakar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan adanya "penghancuran sistematis" terhadap sistem pendidikan di Gaza.

muncul pertanyaan apakah terdapat upaya yang disengaja untuk menghancurkan sistem pendidikan Palestina secara menyeluruh, tindakan yang dikenal sebagai 'scholasticide'," kata para pakar PBB.

PBB menyebut hingga November 2025 sebanyak 95 persen kampus di Gaza terdampak perang. Sebanyak 22 dari 38 kampus dilaporkan hancur total, sementara 14 kampus lainnya mengalami kerusakan dengan tingkat yang berbeda-beda.

dalam laporannya pada Oktober 2025, memperkirakan sekitar 745.000 pelajar dan mahasiswa di Gaza tidak mengikuti kegiatan belajar sejak Oktober 2023.

perkuliahan daring dan kelas tatap muka terbatas kembali diselenggarakan di sejumlah perguruan tinggi terbesar di Gaza, termasuk Universitas Al-Azhar dan Universitas Islam Gaza.

Belum ada data resmi mengenai jumlah mahasiswa yang kembali menempuh pendidikan. Namun sejumlah dekan universitas mengatakan jumlah peserta yang mengikuti perkuliahan terlihat lebih tinggi dibandingkan tahun akademik 2022/2023.

mahasiswa asal Gaza itu mengaku tetap berupaya melanjutkan proses belajar di tengah keterbatasan.

tetapi saya masih memiliki laptop, satu-satunya alat yang saya gunakan untuk terus belajar," kata Abu Daqqa kepada DW.

Abu Daqqa menghabiskan waktunya mencari akses internet dan listrik untuk mengikuti pembelajaran.

di dapur rumah sakit, atau di dekat tiang lampu jalan yang rusak," katanya.

lokasi-lokasi tersebut tidak aman dan perjalanan menuju tempat-tempat itu juga berisiko.

koneksi ke dunia luar adalah satu-satunya cara agar saya bisa melanjutkan pendidikan," katanya.

Abu Daqqa menyelesaikan pendidikan menengah dengan nilai tinggi. Ia juga mengikuti lebih dari 15 kursus profesional daring. Abu Daqqa mengatakan keluarganya terus mendorongnya untuk tetap melanjutkan pendidikan.

ia masih berupaya mendapatkan kesempatan melanjutkan studi ke luar negeri.

belum ada satu pun pintu yang terbuka," katanya.

semangatnya untuk belajar tak pernah padam. Abu Daqqa berharap dapat memperoleh beasiswa untuk menempuh pendidikan teknik, mengembangkan kemampuan desain kreatif, dan mengikuti berbagai kompetisi.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Artikel Telah Tayang di : https://news.detik.com/dw/d-8562044/keluar-dari-gaza-demi-kuliah-mahasiswa-masih-terjebak-ketidakpastian