Karhutla Kalimantan Ancam Satwa Liar, PKS: Selamatkan Satwa dan Habitatnya
JAKARTA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan tidak hanya menimbulkan persoalan asap dan kerusakan lahan. Satwa liar turut menjadi korban, mulai dari mati terbakar, mengalami gangguan kesehatan akibat asap, hingga kehilangan habitat dan terpaksa keluar dari kawasan hutan.
Sekretaris Bidang Energi, Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim DPP PKS Paramitha Mesayu mengatakan, skala karhutla sepanjang 2026 menunjukkan bahwa persoalan tersebut bukan sekadar munculnya titik api sesaat.
“Kementerian Kehutanan mencatat 202.010 hektare lahan terbakar di Indonesia sepanjang Januari hingga Juli 2026. Di Kalimantan Barat, BPBD mencatat luas karhutla mencapai 38.310,86 hektare sejak Januari hingga Agustus 2026,” ujar Paramitha.
Sementara itu, di Kalimantan Tengah, luas karhutla yang tercatat mencapai 5.186,51 hektare dari 1.837 kejadian hingga 25 Agustus 2026.
Menurut Paramitha, besarnya luasan lahan terbakar menunjukkan dampak karhutla yang jauh lebih luas. Kerusakan tidak hanya terjadi pada tutupan hutan, tetapi juga ekosistem dan berbagai makhluk hidup yang bergantung pada kawasan tersebut.
“Ketika hutan terbakar, yang hilang bukan hanya pohon. Ada satwa yang mati terbakar, ada yang sakit karena asap, dan ada yang kehilangan rumah serta sumber makanannya,” katanya.
Paramitha menyoroti temuan 26 bangkai satwa di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, dalam kondisi hangus terbakar. Satwa tersebut terdiri dari 20 sanca reticulatus, satu king cobra, tiga ular dipong, satu biawak, dan satu ular air.
Di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, seekor trenggiling juga ditemukan mati di lokasi karhutla. Sementara itu, sejumlah orangutan harus dievakuasi setelah habitat dan ruang pergerakannya terdampak kebakaran.
“Dampak karhutla terhadap satwa tidak selalu terlihat dalam bentuk kematian. Satwa yang berhasil menyelamatkan diri pun dapat kehilangan sumber makanan, tempat berlindung, dan ruang untuk bergerak,” tutur Paramitha.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat mendorong satwa keluar dari habitat alaminya dan mendekati perkebunan atau permukiman. Situasi ini berpotensi berkembang menjadi konflik antara manusia dan satwa.
“Ketika satwa keluar dari hutan dan masuk ke perkebunan atau permukiman, itu juga merupakan tanda bahwa ada sesuatu yang terganggu di habitatnya. Mereka kehilangan ruang untuk mencari makan, berlindung, dan bergerak,” jelasnya.
Karhutla juga dapat berdampak terhadap kesehatan satwa yang berhasil menyelamatkan diri. Pada 30 Agustus, seekor orangutan di Ketapang ditemukan dalam kondisi sangat lemah di area perkebunan yang terdampak kebakaran.
Satwa tersebut mengalami gangguan pernapasan dan diduga mengalami hipoksia akibat paparan asap pekat sebelum dievakuasi untuk mendapatkan perawatan.
“Jadi korban karhutla bukan hanya satwa yang ditemukan mati. Satwa yang terluka, sakit, kehilangan habitat, atau terpaksa masuk ke wilayah manusia juga merupakan korban dari kerusakan ekosistem,” tegasnya.Paramitha menilai dampak karhutla terhadap keanekaragaman hayati tidak dapat diukur hanya berdasarkan jumlah satwa yang ditemukan mati.
Ketika hutan dan vegetasi terbakar, sumber makanan serta tempat berlindung satwa ikut hilang. Kerusakan tutupan vegetasi juga dapat mengganggu tata air, kualitas tanah, regenerasi hutan, serta hubungan antarspesies dalam ekosistem.
“Karena itu, luas lahan terbakar harus dibaca sebagai gambaran awal dari kerusakan yang lebih luas,” ujarnya.
Ia mengingatkan agar penanganan karhutla tidak berhenti pada pertanyaan mengenai berapa hektare lahan yang terbakar.
“Kita juga harus bertanya berapa banyak habitat yang hilang, berapa banyak satwa yang terdampak, dan berapa lama ekosistem tersebut membutuhkan waktu untuk pulih,” kata Paramitha.
Menurutnya, perlindungan satwa tidak dapat dipisahkan dari perlindungan habitat.
“Menyelamatkan satu ekor satwa penting. Tetapi memastikan hutan tempat satwa tersebut hidup tidak terus terbakar jauh lebih penting untuk keberlanjutan jangka panjang,” imbuhnya.
Paramitha menyampaikan apresiasi kepada BKSDA, Manggala Agni, organisasi konservasi, masyarakat, dan berbagai pihak yang melakukan penyelamatan satwa terdampak karhutla.Namun, ia menegaskan bahwa penyelamatan satwa tidak boleh menjadi satu-satunya respons pemerintah.
“Satwa harus diselamatkan, tetapi rumahnya juga harus diselamatkan. Kalau setiap tahun kita hanya menyelamatkan satwa setelah kebakaran terjadi, berarti kita belum menyelesaikan persoalan utamanya,” tegasnya.
Karena itu, PKS mendorong pemerintah memperkuat perlindungan habitat satwa di kawasan rawan karhutla melalui pemetaan kawasan penting, pemantauan titik rawan, deteksi dini, serta mekanisme respons cepat untuk menyelamatkan satwa terdampak.
Kawasan yang telah terbakar, lanjut Paramitha, juga perlu mendapatkan program pemulihan ekosistem agar habitat tidak hilang secara permanen.
Paramitha menilai karhutla harus ditangani dari hulu. Pencegahan kebakaran harus menjadi prioritas, terutama di kawasan hutan dan gambut yang memiliki nilai ekologis tinggi.“Penegakan hukum terhadap pihak yang sengaja melakukan pembakaran maupun pihak yang lalai menjaga wilayahnya juga harus dilakukan secara tegas,” ujarnya.
Ia berharap setiap musim kemarau tidak lagi diwarnai pemandangan satwa mati terbakar, satwa sakit akibat asap, atau orangutan keluar dari hutan karena kehilangan habitat.
“Itu bukan kondisi yang boleh dianggap normal,” katanya.
Paramitha menambahkan, keberhasilan penanganan karhutla tidak cukup diukur dari seberapa cepat api dipadamkan. Keberhasilan juga harus dilihat dari seberapa banyak hutan yang berhasil dilindungi, habitat yang tetap utuh, satwa yang berhasil diselamatkan, dan ekosistem yang dapat dipulihkan.
“Melindungi hutan berarti melindungi rumah satwa. Melindungi rumah satwa berarti menjaga keanekaragaman hayati. Dan menjaga keanekaragaman hayati berarti menjaga keseimbangan kehidupan kita sendiri,” pungkas Paramitha.
Artikel Telah Tayang di : https://pks.id/content/karhutla-kalimantan-ancam-satwa-liar-pks-selamatkan-satwa-dan-habitatnya