Perjalanan darat di Jalur Sutra memerlukan tempat singgah. Karavanserai, penginapan besar bagi pedagang keliling, menyediakan ruang makan, beristirahat, dan menyiapkan tahap perjalanan berikutnya dengan aman. Fungsinya membantu menjelaskan kebutuhan sehari-hari di balik perdagangan lintas wilayah.

UNESCO menjelaskan bahwa pada Abad Pertengahan, kafilah kuda atau unta menjadi sarana lazim pengangkutan barang di darat. Karavanserai ditemukan dari Turki hingga Tiongkok. Di wilayah yang memiliki layanan memadai, tempat singgah umumnya berjarak sekitar satu hari perjalanan, rata-rata 30–40 kilometer, sehingga pedagang dan muatannya tidak harus bermalam di jalan.

Bangunan itu juga memungkinkan pertukaran barang, perdagangan di pasar setempat, dan pertemuan antarpengelana. Pembangunannya meningkat di Asia Tengah sejak abad ke-10 dan berlangsung hingga abad ke-19. Jaringannya menjangkau, antara lain, Dataran Tinggi Iran dan Turki: bagian dari ruang perjumpaan yang relevan untuk memahami sejarah masyarakat Islam.

Jalur Sutra sendiri bukan satu lintasan tunggal. UNESCO menggambarkannya sebagai jaringan darat dan laut yang mengedarkan barang sekaligus pengetahuan, bahasa, budaya, dan keyakinan. Membaca karavanserai sebagai infrastruktur perjalanan, bukan sekadar monumen, membantu melihat bagaimana kebutuhan beristirahat dan berdagang membuka kesempatan pertukaran budaya.