Ibnu Hajar al-Asqalani, Sang Imam Hadis dari Ashkelon Palestina yang Dijajah Israel
DI TENGAH berbagai upaya penghapusan jejak sejarah Palestina, umat Islam perlu mengingat bahwa negeri yang kini sebagian wilayahnya berada di bawah jajazah Zionis telah melahirkan banyak ulama besar dunia. Salah satunya adalah Ibnu Hajar al-Asqalani, seorang muhaddits (ahli hadis) terkemuka yang namanya harum hingga hari ini melalui karya monumentalnya, Fathul Bari Syarah Shahih al-Bukhari.
Julukan al-Asqalani yang melekat pada namanya merujuk kepada kota Asqalan atau Ashkelon, sebuah kota bersejarah di Palestina yang saat ini berada dalam wilayah yang diduduki dan dijajah Israel.
Meskipun beliau lahir di Kairo pada tahun 773 H/1372 M, keluarganya berasal dari Asqalan sehingga nisbah “al-Asqalani” terus melekat sebagai identitas keilmuannya.
Nama lengkap beliau adalah Syihabuddin Abu al-Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar al-Kinani al-Asqalani. Dalam tradisi keilmuan Islam, Ia dikenal sebagai salah seorang ulama terbesar dalam bidang hadis dan mendapat gelar Hafizh al-‘Ashr (penghafal hadis terbesar pada masanya) serta Amirul Mukminin fil Hadis (pemimpin kaum mukmin dalam ilmu hadis).
Kecerdasan dan ketekunannya menjadikan Ibnu Hajar menguasai berbagai disiplin ilmu, mulai dari hadis, fikih mazhab Syafi’i, sejarah, biografi perawi hadis (rijal al-hadis), hingga tafsir. Selama hidupnya, ia menulis lebih dari 150 karya ilmiah yang menjadi rujukan para ulama lintas generasi.
Fathul Bari: Mahakarya yang Tak Tergantikan
Di antara seluruh karya Ibnu Hajar, yang paling terkenal adalah kitab Fath al-Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari atau lebih dikenal dengan nama Fathul Bari. Kitab ini merupakan syarah (penjelasan) atas kitab Shahih al-Bukhari yang selama berabad-abad dianggap sebagai kitab hadis paling otoritatif setelah Al-Qur’an.
Penyusunan kitab ini memerlukan waktu puluhan tahun. Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar tidak sekadar menjelaskan makna hadis, tetapi juga membahas sanad, biografi para perawi, perbedaan pendapat ulama, kandungan hukum, hingga berbagai hikmah yang terkandung dalam hadis-hadis Nabi Muhammad SAW.
Karena keluasan pembahasannya, kitab ini dianggap sebagai ensiklopedia hadis terbesar dalam khazanah Islam Sunni.
Dalam cetakan modern yang banyak beredar saat ini, Fathul Bari umumnya diterbitkan dalam 13 hingga 14 jilid, tergantung format dan penerbitnya. Sebagian edisi Arab klasik terdiri atas 13 jilid utama ditambah indeks, sementara beberapa penerbit modern mengemasnya menjadi 14 jilid atau lebih.
Banyak ulama sesudahnya mengakui keagungan karya tersebut. Bahkan muncul ungkapan terkenal bahwa “utang umat Islam untuk mendapatkan penjelasan sempurna atas Shahih Bukhari telah ditunaikan oleh Ibnu Hajar melalui Fathul Bari.”
Ibnu Hajar wafat pada tahun 852 H/1449 M di Kairo. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi dunia Islam. Ribuan orang menghadiri pemakamannya, termasuk para ulama dan pemimpin pada masa itu. Namun, warisan keilmuan yang ditinggalkannya tetap hidup hingga kini di pesantren, masjid, universitas, dan lembaga pendidikan Islam di seluruh dunia.
Kisah Ibnu Hajar al-Asqalani menjadi pengingat bahwa Palestina bukan sekadar wilayah yang saat ini dijajah Zionis, tetapi juga tanah yang telah melahirkan tokoh-tokoh besar yang membangun peradaban Islam. Dari Asqalan, Al-Quds, Gaza, hingga Hebron, negeri itu menyimpan jejak para ulama, mufasir, muhaddits, dan pejuang ilmu yang pengaruhnya masih dirasakan umat hingga hari ini.
Melalui karya agung Fathul Bari, nama Ibnu Hajar al-Asqalani tetap dikenang sebagai salah satu bintang paling terang dalam langit ilmu hadis Islam, seorang ulama keturunan Palestina yang mewariskan khazanah keilmuan tak ternilai bagi umat manusia.
Hari ini, Ashkelon (Asqalan) berada di bawah jajahan Israel dan menjadi bagian dari wilayah yang diklaim negara Zionis. Namun dalam ingatan sejarah Islam, Asqalan bukan sekadar kota yang diperebutkan secara politik. Ia adalah bagian dari tanah Palestina yang pernah melahirkan para ulama, cendekiawan, pejuang, dan penjaga peradaban Islam. Dari tanah inilah nisbah “al-Asqalani” disematkan kepada Ibnu Hajar, seorang imam besar yang karya-karyanya terus menerangi dunia Islam hingga berabad-abad setelah wafatnya.
Bagi kaum Muslimin, Palestina bukan hanya persoalan wilayah, melainkan juga warisan sejarah, ilmu pengetahuan, dan peradaban. Karena itu, harapan akan kembalinya keamanan, keadilan, dan hak-hak rakyat Palestina di tanah mereka sendiri tetap hidup di hati jutaan umat Islam.
Mereka meyakini bahwa tanah yang pernah melahirkan ulama-ulama besar seperti Ibnu Hajar al-Asqalani akan terus dikenang sebagai bagian penting dari khazanah Islam. Sejarah boleh mengalami pasang surut, tetapi jejak ilmu dan peradaban yang ditinggalkan para ulama Palestina tidak akan pernah bisa dihapuskan.
Nama Ibnu Hajar al-Asqalani menjadi bukti bahwa Palestina adalah negeri para ulama. Dan selama karya-karya seperti Fathul Bari masih dipelajari di pesantren, masjid, dan perguruan tinggi Islam di seluruh dunia, maka warisan Asqalan akan tetap hidup, mengingatkan umat bahwa tanah yang melahirkan ilmu dan peradaban pada akhirnya akan selalu memiliki tempat terhormat dalam sejarah manusia.
Artikel Telah Tayang di : https://minanews.net/ibnu-hajar-al-asqalani-sang-imam-hadis-dari-ashkelon-palestina-yang-dijajah-israel/