Hendak Pecahkan MURI, PDIP Gelar Pekan Peduli Sampah Nasional Bulan Depan
tapi pelaksanaannya digelar di seluruh Indonesia dengan melibatkan kader PDIP.
tanggal 9 sampai 14, dicatat adik-adik, akan mengadakan Pekan Peduli Sampah Nasional," kata Ketua Bidang Kehutanan dan Lingkungan Hidup DPP PDIP, Eriko Sotarduga, dalam webinar di kawasan Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga Warna, Malang Selatan, Sabtu (17/10/2026).
gerakan itu menyasar sampah organik rumah tangga yang diolah menjadi pupuk. Dia menyoroti dampak pupuk kimia terhadap tanah.
Eriko mendorong pengolahan sampah organik dengan biodekomposer. "Kita tumpuk sampah organik di sana, bekas sisa makanan, daun-daunan dan lain-lain, tapi nanti harus diberikan namanya biodekomposer untuk apa? Agar tidak bau dan proses itu menjadi lebih cepat," ucapnya.
Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto menjelaskan pada puncak acara akan dilakukan pembersihan di ibu kota provinsi dan kabupaten dengan membersihkan sampah dan memisah-misahkan sampah sebagai bagian gerakan Merawat Pertiwi. Menurutnya, sampah organik rumah tangga akan diolah di tingkat RT melalui program TEBA.
kami akan membuat TEBA. TEBA itu sampah organik dimasukkan di situ. Bagi yang ikut webinar nanti yang perlu nanti kami berikan datanya. Termasuk diberikan biodekomposer agar sampahnya tidak berbau, sampah organik rumah tangga itu agar tidak berbau," ujar Hasto.
moratorium hutan-hutan kita harus dilakukan. Tidak boleh ada konversi lahan pertanian untuk kepentingan lain karena itu menyangkut masa depan anak cucu kita. Kita harus berdaulat di bidang pangan," katanya.
mengelola lingkungan, membuat taman-taman kota, politik tata ruang, kemudian penggunaan teknologi," ucap Hasto.
penggerak lingkungan, M Zamroni, menceritakan pengalaman mengelola sampah sejak tahun 1999 melalui Tunas Hijau. Ia mengaku baru sadar soal sampah setelah mengikuti pertukaran pemuda ke Australia.
sembarangan. Kalau di sana susah, bahkan 99% buang sampah pada tempatnya," ucap Zamroni.
ia bersama tim mulai mengajak warga membuang sampah pada tempatnya, dengan menjadikan saku sebagai tempat sampah sementara dan meminimalkan penggunaan air mineral kemasan sekali pakai. Sejak 2002, ia merangkul anak-anak dan remaja melalui akademi Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup.
sehingga sebulan mencapai 3,3 ton.
Zamroni juga bersinggungan dengan Tri Rismaharini dalam sesi tersebut. Ia menyoroti sulitnya mencari lahan untuk menanam pohon di Surabaya karena harga tanah yang mahal.
kalau mau nanam pohon, ya mesti seyogianya beli tanahnya juga. Kalau tanah di Surabaya kok ada Rp 2 juta per meter. Pohonnya murah Rp 25 ribu tapi mau ditaruh di mana?" katanya.
yang merupakan mantan Wali Kota Surabaya dan mengikuti webinar, langsung angkat suara. "Kontak saya ya kalau butuh lahan untuk menanamnya, nanti ayo kita kerjakan bersama-sama," ujar Risma.
Sumber : detik