Harapan Damai AS-Iran Masih Penuh Keraguan
Prancis, sementara Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani dari Teheran, Iran.
menyusul serangan AS dan Israel ke Iran pada Februari. Namun, pertemuan di Swiss ini masih jauh dari kata akhir, dengan pertanyaan besar tentang seperti apa bentuk "sejarah" yang akan benar-benar tercipta dari meja perundingan tersebut.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan keras terkait kesepakatan kerangka baru dengan Iran dalam konferensi pers di sela KTT G7.
termasuk klaim bahwa ia telah mencegah apa yang ia sebut sebagai potensi "bencana nuklir" dan mendorong perubahan kepemimpinan di Iran.
ia kembali mengulang ancaman bahwa Iran akan "dibom habis-habisan" apabila tidak menyepakati perjanjian yang lebih luas dengan Amerika Serikat.
Para pemimpin negara G7 memberikan dukungan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas kerangka kesepakatan baru dengan Iran dalam pertemuan di sela KTT G7.
namun usulan tersebut tidak mendapat respons antusias dari Trump.
Rowena Binti Abdul Razak, dosen School of Oriental and African Studies di London, menilai kesepakatan ini sebagai perkembangan awal yang positif.
ketegangan di kawasan juga berdampak luas, termasuk pada harga dan stabilitas energi global.
tetapi juga masyarakat biasa. Jadi untuk saat ini, setidaknya ada sedikit kelegaan di berbagai pihak," katanya.
sejumlah pihak menilai belum ada kesepakatan yang benar-benar final.
memorandum, hingga communique biasanya menjadi ranah diplomat. Namun dalam kasus ini, perbedaan tersebut dianggap penting karena menyangkut status sebenarnya dari kesepakatan yang diumumkan.
menurut sejumlah pengamat, belum ada "deal" yang benar-benar mengikat. Yang ada saat ini baru kesepakatan sementara untuk menghentikan pertempuran dan membuka kembali Selat Hormuz, yang sebelumnya terdampak konflik.
kesepakatan ini lebih merupakan upaya merespons situasi perang yang sudah terjadi, bukan mengembalikan kondisi seperti sebelum konflik.
tetapi ada dorongan untuk segera membuka Selat Hormuz," kata Miad Maleki, peneliti senior di Foundation for the Defense of Democracies di Washington, kepada DW.
Lembaga kajian tersebut dikenal memiliki pandangan keras terhadap Iran dan mendukung opsi militer terhadap negara itu.
termasuk tekanan menjelang pemilu paruh waktu yang membuat pemerintah berada di bawah "jam politik" yang terus berjalan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa inti dari kesepakatan barunya dengan Iran adalah memastikan Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.
yaitu Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang dinegosiasikan pada masa Presiden Barack Obama bersama Uni Eropa.
Trump selama ini dikenal sangat kritis terhadap JCPOA dan menarik Amerika Serikat keluar dari kesepakatan itu pada 2018.
sebut saja ini kesepakatan Trump, adalah tembok untuk senjata nuklir. Tidak ada yang bisa melewatinya. Kami membangun tembok," kata Trump pada Rabu.
sejumlah pihak menilai masih belum jelas apakah kesepakatan baru ini benar-benar bisa melampaui model JCPOA yang sebelumnya berbasis pada keringanan sanksi dengan imbalan pembatasan program nuklir Iran.
tapi tidak pernah kalah dalam negosiasi."
" kata Alan Eyre, peneliti Middle East Institute sekaligus mantan negosiator AS untuk JCPOA, kepada DW.
perbandingan antara kesepakatan Trump dan JCPOA baru bisa dilakukan jika memang perjanjian baru itu benar-benar berhasil dinegosiasikan dan diimplementasikan.
setelah sebelumnya beberapa kali dipakai sebagai lokasi perundingan internasional.
serta perundingan Sudan pada 2002 silam. Namun, sejumlah contoh itu juga menunjukkan bahwa kesepakatan di meja perundingan tak selalu berujung pada perdamaian yang bertahan lama.
sementara Sudan justru kini menghadapi perang saudara dan krisis kemanusiaan yang meluas.
Kondisi itu menjadi pengingat bahwa membangun perdamaian yang berkelanjutan bukan proses yang sederhana.
bukan tenggat yang pasti. Artinya, proses ini kemungkinan akan berlangsung lebih lama dalam status "kesepakatan sementara".
peneliti Middle East Institute sekaligus mantan negosiator AS untuk JCPOA, menilai tidak realistis jika kesepakatan besar bisa dicapai dalam 60 hari.
dan saya meragukan apakah pemerintahan saat ini siap dan mampu melakukannya," ujarnya kepada DW.
Brent Goff dan Alex Forrest Whiting dari DW turut berkontribusi dalam peliputan laporan ini.
Artikel ini terbit pertama kali dalan bahasa inggris.
Artikel Telah Tayang di : https://news.detik.com/dw/d-8538649/harapan-damai-as-iran-masih-penuh-keraguan