Gadis-Gadis Gaza dengan Kaki Diamputasi Berjuang ke Piala Dunia
Di sinilah, gadis-gadis yang kehilangan anggota tubuh mereka tetapi tidak kehilangan semangat. Mereka berkumpul di atas rumput stadion yang selamat dari bom. Mereka menendang bola, dan dengan itu, menendang kenangan pahit tentang rasa sakit dan pengungsian.
Tim sepak bola amputasi ini didirikan di bawah payung Asosiasi Sepak Bola Amputasi Palestina.
Laporan Jaridah Al-Quds pada Senin (15/6) menyebutkan, para penyelenggaranya bercita-cita membentuk inti tim nasional yang akan mewakili Palestina di kejuaraan internasional.
Inisiatif tersebut menjadi jalan keluar penting bagi para gadis yang menemukan bahwa olahraga adalah cara untuk membuktikan bahwa disabilitas fisik bukanlah akhir dari ambisi, juga bukan alasan untuk terisolasi dari masyarakat.
Rozan Khaira (24 tahun) masih ingat betul detik-detik sebelum serangan udara mengubah hidupnya pada November 2023.
Saat itu ia sedang berlari kecil, aktivitas yang paling ia sukai. Kini, ia berdiri dengan tongkat kruknya, tetap mengoper bola kepada rekan-rekannya.
“Keinginan untuk hidup ternyata lebih kuat daripada rudal pendudukan,” ujarnya dengan mata berbinar.
Tumbuh di lingkungan Al-Daraj, Gaza kuno, dari keluarga atlet, Rozan tak pernah membayangkan suatu hari ia akan bermain sepak bola dengan satu kaki. Meskipun pahitnya pengungsian dan sulitnya mobilitas, ia bersikeras berlatih.
Mimpinya sederhana namun agung, yaitu ingin mengenakan seragam tim nasional Palestina dan mengibarkan bendera negaranya di stadion internasional.
Kifah Al-Fakhoury kehilangan kakinya dan beberapa temannya dalam sebuah penggerebekan di sebuah kafe di pantai Gaza pada Juni 2025.
Saat terbangun di rumah sakit, ia harus menerima kenyataan baru yang menyakitkan. Namun dengan cepat ia memutuskan untuk tidak larut dalam duka. Ia bergabung dengan tim wanita dan mengubah kesedihannya menjadi energi positif.
“Tawa yang kami lontarkan saat latihan adalah respons paling fasih terhadap upaya mereka yang ingin mematahkan keinginan rakyat Gaza,” katanya.
Baginya, latihan sepak bola adalah perlawanan psikologis dan fisik. Di dalam tim, ia menemukan keluarga kedua yang berbagi tantangan yang sama.
Di posisi penjaga gawang, Aisha Al-Abadla (16 tahun) tampil menonjol. Gadis ini terlahir dengan lengan yang tidak sempurna, akibat ibunya menghirup fosfor putih selama perang 2008, saat Aisha masih janin dalam kandungan.
“Api pendudukan telah mengamputasi tubuh kami, tetapi itu tidak pernah menghentikan mimpi dan keinginan kami untuk hidup,” tegasnya.
Aisha sudah mencintai sepak bola sejak kecil. Cacat bawaan tidak menghalanginya melindungi gawang timnya. Dengan satu tangan kanan yang memakai sarung tangan, ia berdiri percaya diri di antara tiga tiang gawang. Ia berharap suatu saat menjadi kiper utama tim amputasi Palestina.
Pelatih Lamia Musleh mengawasi latihan dengan penuh perhatian. Baginya, sepak bola di Gaza telah melampaui sekadar permainan. Ia menjadi ruang pelepasan psikologis.
“Setiap tendangan bola adalah pesan kepada dunia, mengamputasi tubuh tidak berarti memotong mimpi. Keinginan Palestina mampu menarik keajaiban keluar dari puing-puing,” ujarnya.
Ia mencatat peningkatan signifikan dalam moral para pemain. Aktivitas fisik berkontribusi besar pada peningkatan kepercayaan diri dan integrasi sosial mereka. Tujuannya bukan hanya memenangkan pertandingan, tetapi menanamkan semangat tekad di hati para gadis yang telah mengalami trauma berat.
Fouad Abu Ghalioun, Presiden Asosiasi Sepak Bola Amputasi Palestina, mengungkapkan bahwa asosiasinya melanjutkan kegiatan meskipun fasilitas olahraga hancur luas. Mereka bekerja di lingkungan berbahaya dengan potensi yang sangat sederhana, akibat blokade berkepanjangan dan dampak perang.
Menurut statistik resmi Kementerian Kesehatan Gaza, terdapat sekitar 6.000 kasus amputasi akibat agresi yang sedang berlangsung. Anak-anak dan perempuan menyumbang sebagian besar dari angka ini, mereka membutuhkan program rehabilitasi jangka panjang untuk beradaptasi dengan realitas baru.
Melalui tim ini, Abu Ghalioun berupaya menyediakan lingkungan inkubasi bagi para penyandang disabilitas. Ia percaya olahraga adalah cara terpendek untuk mengintegrasikan mereka ke dalam masyarakat, membuat mereka aktif dan produktif, terlepas dari segala keadaan di sekitarnya.
Di antara ambisi Rozan, perjuangan Aisha, dan tekad Kifah, terukir gambaran ketahanan di stadion Gaza yang kelelahan. Gadis-gadis ini tidak hanya berlari mengejar bola, mereka berlari mengejar hak mereka untuk hidup dan untuk diakui di kancah internasional.
Mereka membawa pesan bahwa Gaza akan terus menjadi sumber harapan, apa pun pengorbanan yang harus dibayar.
Artikel Telah Tayang di : https://minanews.net/gadis-gadis-gaza-dengan-kaki-diamputasi-berjuang-ke-piala-dunia/