Subang, Jalancagak.com Ratusan pemuda Palestina di Jalur Gaza memilih untuk melawan lupa. Bukan dengan senjata, tetapi nontin bareng dengan sorak-sorai membara mendukung tim nasional Mesir di laga pembuka Piala Dunia 2026 melawan Belgia.

Mereka berkumpul di sebuah tenda kecil yang diubah menjadi kafe sederhana. Laporan Jaridah Al-Quds, Senin (15/6).

Duduk di kursi-kursi plastik yang sudah usang, menatap satu layar televisi yang bergetar hebat setiap kali kiper lawan nyaris kebobolan. Bendera Mesir berkibar di atas atap tenda, berkibar dengan bangga di tanah yang setiap hari diguncang bom.

Pemandangan yang mengharukan terlihat jelas, beberapa pejuang yang kehilangan anggota tubuhnya duduk di kursi roda, mata mereka tetap menatap tajam ke layar.

Tangan-tangan yang pernah memanggul beban perang, kini mengepal erat setiap kali para pemain Mesir melakukan serangan balik. Mereka berteriak, tertawa, sesekali diam penuh harap, lalu kembali bersorak.

Warga Gaza tampak gembira dengan hasil akhir pertandingan, mampu menahan imbang Belgia dengan skor 1-1.

Di balik euforia sepak bola, luka Gaza tetap menganga. Sejak perang pecah pada Oktober 2023, lebih dari 120.000 warga Palestina menderita luka-luka.

Stadion yang dulu menjadi tempat anak-anak berlarian, kini rata dengan tanah. Fasilitas olahraga hancur total. Puluhan atlet dan pemain berbakat gugur, tertimbun reruntuhan atau jatuh karena serangan udara. Olahraga Palestina mengalami kelumpuhan total.

Namun ruh persaudaraan Arab tidak bisa dihancurkan oleh rudal. Kali ini, warga Gaza memilih tim Mesir sebagai representasi kebanggaan.

Bukan karena benci pada tim lain, tetapi karena ikatan darah, sejarah, dan geografi yang begitu erat. Mesir adalah pintu gerbang mereka ke dunia, tetangga terdekat yang terhubung melalui perlintasan Rafah.

Di tengah reruntuhan, dukungan untuk tim Mesir bukan sekadar hobi. Ia adalah deklarasi eksistensi: kami masih di sini, kami masih bisa bersorak, dan kami masih percaya pada kekuatan persatuan.

Artikel Telah Tayang di : https://minanews.net/dari-reruntuhan-gaza-warga-nobar-dukung-mesir-di-piala-dunia/