Astrolab: Ketika Peta Langit Membantu Menghitung Waktu
Ilustrasi AI; bukan foto kejadian.
Sebuah cakram berukir dapat menyimpan cara manusia membaca langit. Astrolab adalah peta posisi bintang pada bidang datar, sekaligus alat yang bisa dipakai untuk menentukan waktu, menghitung waktu salat, serta mengukur tinggi dan sudut. Kegunaannya mempertemukan pengamatan alam dengan kebutuhan sehari-hari. Di sini, ilmu tidak hadir hanya sebagai gagasan, tetapi juga sebagai benda yang dapat dipegang dan dioperasikan.
Bagian pentingnya adalah rete, peta bintang yang dapat digerakkan, serta proyeksi permukaan bumi. Gerak rete menirukan pergerakan teratur bintang di atas kepala; satu putaran penuh mewakili satu hari. Ketelitian garis dan bentuk alat ini juga menghadirkan sisi seni. Koleksi History of Science Museum di Oxford menunjukkan bahwa astrolab memiliki rincian hiasan dan susunan bintang yang beragam.
Sebutan instrumen dari dunia Islam tidak berarti semua pembuatnya beragama Islam. Museum Oxford menggunakan istilah itu untuk benda yang dibuat dan digunakan di wilayah dengan Islam sebagai agama mayoritas. Para perajinnya berasal dari beragam kawasan, mulai dari Eropa dan Afrika hingga Timur Tengah dan Asia. Pengertian ini penting agar sejarah ilmu tidak disederhanakan menjadi kisah satu komunitas saja.
Contoh menarik terdapat pada astrolab yang diteliti di Verona, Italia. Berdasarkan ciri ilmiah, rancangan, konstruksi, dan kaligrafinya, peneliti Federica Gigante mengidentifikasinya sebagai alat dari Al-Andalus pada abad kesebelas. Salah satu pelat memuat keterangan lintang Córdoba dan Toledo dalam bahasa Arab. Alat itu juga memiliki garis serta nama salat untuk membantu penggunanya menentukan waktu ibadah.
Pada benda yang sama, terdapat tambahan tulisan Ibrani dan angka Barat dari pengguna berikutnya. Temuan tersebut memperlihatkan penerjemahan dan penyesuaian pengetahuan, bukan hanya perpindahan sebuah barang. Beberapa koreksi angka justru kurang tepat daripada nilai Arab sebelumnya. Astrolab Verona mengingatkan kita bahwa warisan ilmu berkembang melalui penggunaan dan pembacaan ulang—dan bahwa perubahan tidak selalu berarti perbaikan.
Sumber: University of Oxford, History of Science Museum — Science in the Islamic World, University of Cambridge — Astrolabe reveals Islamic–Jewish scientific exchange