Subang, Jalancagak.com

Jakarta — Partai Keadilan Sejahtera (PKS) melalui Bidang Kepemudaan kembali menggelar Akademi Pemimpin Muda Indonesia (APMI) Core Session 2 sebagai bagian dari rangkaian pembinaan calon pemimpin muda Indonesia. Kegiatan berlangsung di DKI Jakarta, Ahad (9/8/2026), dengan mengusung semangat “Young Leaders, Future Shapers: Menggerakkan Inovasi, Membumikan Keadilan.”

Dalam sesi tersebut, Wasekjen DPP PKS Tomy Agus Maymuftianto hadir sebagai narasumber pertama dengan menyampaikan materi “Manajemen Program Berbasis Tujuan & Dampak.” Ia menekankan bahwa kepemimpinan tidak semata-mata diukur dari kesibukan seseorang, tetapi dari kemampuan menghadirkan dampak nyata dan memastikan tujuan dapat tercapai.

“Setiap pemimpin besar memiliki proses yang berat. Yang membedakan bukan siapa yang paling sibuk, tetapi siapa yang mampu tetap fokus pada dampak hingga tujuan tercapai,” ujar Tomy.

Menurutnya, proses panjang dan penuh tantangan merupakan bagian penting dalam membentuk karakter seorang pemimpin. Ia mencontohkan perjalanan Rasulullah SAW yang ditempa melalui berbagai keadaan sulit, tekanan, tantangan, dan ujian sebelum mampu membangun perubahan besar di tengah masyarakat.

“Rasulullah ditempa melalui berbagai keadaan yang sulit. Berbagai tekanan, tantangan, dan ujian membentuk keteguhan beliau dalam memimpin,” jelasnya.

Tomy menegaskan, calon pemimpin muda harus memiliki kesiapan menghadapi tekanan dan berbagai bentuk tantangan. Rasa sakit dalam proses kepemimpinan, menurutnya, tidak hanya dimaknai sebagai penderitaan secara fisik, tetapi juga berupa tekanan, goncangan, kegagalan, kritik, maupun situasi sulit yang membentuk ketangguhan karakter.

“Kita harus siap merasakan sakit untuk menjadi pemimpin. Kalau tidak siap menghadapi rasa sakit, tekanan, goncangan, dan tantangan, maka akan sulit menjadi pemimpin besar,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa tantangan dan kegagalan semestinya tidak membuat seorang calon pemimpin berhenti. Sebaliknya, berbagai pengalaman tersebut harus menjadi proses pembelajaran untuk memperkuat kapasitas, memperbaiki strategi, dan menjaga fokus pada tujuan yang hendak dicapai.

Lebih lanjut, Tomy mengingatkan bahwa salah satu persoalan yang membuat seseorang gagal menjadi pemimpin adalah ketidakmampuan membangun pengaruh. Sebab, kepemimpinan pada hakikatnya tidak berhenti pada jabatan atau posisi formal, tetapi berkaitan erat dengan kemampuan menggerakkan orang lain dan menghadirkan perubahan.

“Banyak orang gagal menjadi pemimpin karena gagal membangun pengaruh. Kepemimpinan pada hakikatnya adalah tentang memberikan dampak dan membangun pengaruh,” ungkapnya.

Karena itu, ia mendorong para peserta APMI untuk tidak menjadikan posisi sebagai ukuran utama keberhasilan kepemimpinan. Seorang pemimpin harus mampu menjawab kebutuhan di sekitarnya dan menghadirkan perubahan yang dirasakan oleh orang lain.

“Pemimpin bukan hanya tentang posisi. Pemimpin adalah tentang seberapa besar perubahan yang mampu kita hadirkan bagi orang lain,” pungkas Tomy.

APMI Core Session 2 menjadi bagian dari proses pembinaan kepemimpinan muda PKS yang dirancang untuk membekali generasi muda dengan perspektif, kapasitas, dan pengalaman kepemimpinan. Melalui rangkaian pembinaan tersebut, para peserta diharapkan mampu tumbuh sebagai pemimpin yang tidak hanya memiliki visi, tetapi juga mampu menerjemahkannya menjadi program yang menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.

Artikel Telah Tayang di : https://pks.id/content/apmi-session-2-wasekjen-pks-tekankan-pemimpin-besar-bukan-yang-paling-sibuk-tapi-paling-berdampak