Subang, Jalancagak.com

masih belum jelas apakah kesepakatan kontroversial dengan Arab Saudi yang memungkinkan negara otokrasi Timur Tengah itu membangun program nuklir sipil akan ditandatangani.

pemerintah Saudi berulang kali menegaskan bahwa mereka hanya akan melakukan hal itu jika Israel benar-benar bergerak menuju pembentukan negara Palestina. Dengan pemerintah Israel saat ini, kecil kemungkinan hal itu terjadi.

dan sudah menuai penolakan, dengan para pengkritik menyebut hal itu bisa memicu perlombaan senjata nuklir di Timur Tengah.

kesepakatan ini, sebagaimana adanya sekarang, kemungkinan memberi Saudi keleluasaan untuk memperkaya uraniumnya sendiri.

semakin besar potensinya dialihkan untuk membuat senjata. Di masa lalu, penguasa Arab Saudi Mohammed bin Salman pernah menyatakan bahwa jika Iran memproduksi bom nuklir, Saudi Arabia juga perlu memilikinya.

sebagian besar tidak memperkaya uranium sendiri, melainkan mengimpornya. Skema ini merupakan "standar emas" yang memungkinkan transfer teknologi nuklir tanpa melanggar rejim nonproliferasi.

terutama karena tampaknya tidak seketat kesepakatan-kesepakatan serupa yang pernah dibuat sebelumnya.

mengingat kedua negara sering bersaing memperebutkan pengaruh geopolitik.

Barakah, berkat perjanjian yang dibuat dengan AS sejak 2009.

kesepakatan UEA juga menyertakan apa yang dikenal sebagai "protokol tambahan" yang ditandatangani dengan Badan Energi Atom Internasional atau IAEA. Artinya, IAEA dapat melakukan inspeksi menyeluruh terhadap semua fasilitas nuklir. UEA juga setuju untuk tidak melakukan pengayaan uranium.

hanya antara AS dan Saudi, tanpa melibatkan IAEA, dan Saudi mungkin pada akhirnya diizinkan memperkaya uraniumnya sendiri.

mengembangkan energi nuklir lebih didorong oleh gengsi sebagai pelopor di dunia Arab ketimbang ambisi militer, kata Nour Eid kepada DW awal tahun ini. Eid adalah peneliti independen berbasis di Paris yang telah menerbitkan makalah tentang ambisi nuklir di Timur Tengah untuk sejumlah lembaga pemikir.

mereka berhak menegosiasikan ulang syarat-syarat mereka."

terutama jika berujung pada pengembangan bom nuklir di negara Teluk itu. Itu akan menjadikan Arab Saudi sebagai satu-satunya negara lain di Timur Tengah yang memilikinya.

namun keberadaannya sudah menjadi rahasia umum, dengan perkiraan sekitar 90 hulu ledak beserta sistem peluncurnya.

" mantan menteri pertahanan Israel Avigdor Lieberman memperingatkan.

kemungkinan kerja sama AS-Saudi dalam hal ini bahkan dipandang sebagai kartu tawar dalam diplomasi: jika Arab Saudi, yang sering dianggap pemimpin dunia Islam, bersedia menormalisasi hubungan dengan Israel, mereka akan mendapat teknologi nuklir dari AS.

dengan isu nuklir yang dipisahkan dari syarat normalisasi itu, Israel jelas tidak akan senang.

ditambah prospek AS menjual jet tempur F-35 ke Turki, menambah perbedaan yang sudah ada antara AS dan Israel soal Iran, pendudukan Israel di Lebanon selatan dan sebagian Suriah selatan," tulis James Dorsey, pakar kawasan dari Rajaratnam School of International Studies Singapura, dalam buletin rutinnya pada Kamis (23/07).

Ada sejumlah kemungkinan alasan mengapa AS mengusulkan kesepakatan ini.

Eid, menunjukkan bahwa hal itu mungkin berkaitan dengan persaingan Amerika Serikat dengan Cina dan Rusia, pemasok nuklir utama dunia. Cina dan Rusia telah mengajukan penawaran untuk membangun pembangkit nuklir di Arab Saudi, dan tawaran itu cenderung datang dengan syarat yang lebih sedikit, katanya. Trump juga sebelumnya berjanji memvitalkan kembali sektor nuklir AS, dan kesepakatan Saudi ini bernilai miliaran dolar.

yang menegangkan hubungan Amerika dengan Arab Saudi yang terjepit di antara ambisi hegemonik Israel dan Iran.

kata Rosemary Kelanic, direktur program Timur Tengah di lembaga pemikir Defense Priorities Foundation yang berbasis di AS.

kesepakatan ini memberi "Arab Saudi sumber daya tawar yang kuat untuk memeras konsesi di masa depan dari Washington, termasuk jaminan keamanan baru, dengan mengancam akan mempersenjatai programnya kecuali AS menjanjikan perlindungan militer yang lebih besar," kata Kelanic dalam sebuah pernyataan pers pada Rabu (22/07).

seperti yang terjadi di Jerman Barat dan Korea Selatan, katanya.

kami ingin mencegah mereka mendapatkan bom, dan pada akhirnya kami menawarkan perlindungan militer AS yang lebih besar agar mereka meninggalkan program mereka," Kelanic menjelaskan. "Memberi Riyadh pengayaan uranium secara fungsional bisa membuat AS terikat dengan Arab Saudi selamanya."

para pengamat segera menyoroti ironi mencolok di balik kesepakatan ini. Pemerintahan Trump kini siap mengabulkan kepada Arab Saudi apa yang memicu perang dengan Iran, kata berbagai pakar.

penguasaan teknologi nuklir oleh Arab Saudi menjadi pukulan karena "musuh bebuyutan mereka (AS) memberikan rival regionalnya keunggulan awal dalam program nuklirnya sendiri," kata Kelanic di platform media sosial X.

ia berargumen. "Iran pasti akan lebih tidak percaya pada AS dan kurang bersedia membuat konsesi apapun," Kelanic mencatat secara online.

Pengamat lain sepakat dan juga mengkhawatirkan dimulainya perlombaan senjata nuklir di Timur Tengah.

semua itu kecil kemungkinannya terjadi dalam waktu dekat. Dibutuhkan waktu antara 10 hingga 20 tahun bagi Saudi untuk mengembangkan tenaga nuklir, apalagi senjata nuklir, katanya kepada DW.

Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris

Artikel Telah Tayang di : https://news.detik.com/dw/d-8589836/apa-dampak-perjanjian-nuklir-as-saudi-bagi-timur-tengah